Kategori
Berita Kurikulum Siswa

Diklat dan Pelatihan Dasar Pengurus Assalafiyyah Research and Science Center (ARSC)

Kamis, 11 November 2021 MA Assalafiyyah Mlangi sukses mengadakan Diklat dan Pelatihan Dasar Pengurus Perdana Assalafiyyah Research and Science Center (ARSC). Assalafiyyah Research and Science Centre atau biasa disingkat ARSC diharapkan dapat menjadi inkubator riset dan pengembangan iklim menulis karya ilmiah di MA Assalafiyyah Mlangi. Organisasi ini resmi dibentuk pada 19 Oktober 2021 dengan pengurus perdana berjumlah 22 peserta didik. ARSC memiliki dua departemen utama, yakni Departemen Pengembangan Sumberdaya Siswa (PSDS) serta departemen Informasi dan Komunikasi (INFOKOM).
Bapak Alif Jum’an selaku Kepala Madrasah dalam sambutannya mendukung adanya Organisai ARSC sebagai wadah untuk mewadahi kreativitas siswa dalam menulis karya ilmiah. Hal tersebut sejalan dengan dengan terpilihnya MA Assalafiyyah Mlangi sebagai Madrasah Aliyah Berbasis Riset sesuai dengan SK Dirjen Pendis Tahun 2020. Untuk mendukung pengembangan organisasi ini, diperlukan pembekalan pengetahuan dasar di bidang kepenulisan ilmiah. Hal tersebut dimaksudkan agar pengurus angkatan perdanan ini memiliki bekal yang cukup untuk berkontribusi dalam ekosistem riset di madrasah.

ARSC 2021
Pengurus ARSC 2021

Diklat dan Pelatihan Dasar Pengurus Perdana Assalafiyyah Research and Science Center (ARSC) menghadirkan narasumber yang luar biasa inspiratif, narasumber tersebut adalah Mahasiswa Berprestasi Utama Universitas Negeri Yogyakarta yakni Kakak Athi’ Nur Auliati Rahmah dengan memaparkan materi tentang Konsep Dasar Karya Ilmiah dan Perbedaan Artikel, Essay dan Karya Tulis Ilmiah dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah. Hadirnya Kakak Athi’ Nur Auliati Rahmah mampu memantik semangat siswa-siswi untuk menulis karya dengan dipaparkannya pengalaman-pengalaman lomba Karya Ilmiah dan prestasi-prestasi baik Nasional maupun Internasional yang pernah Kak Athi’ raih.
Kegiatan diklat berjalan dengan lancar, siswa aktif memberikan pertanyaan kepada narasumber dan siswa mampu mempresentasikan ide-ide kreatif terkait penelitian-penelitian yang ingin mereka kembangkan. Di akhir acara diklat siswa-siswi disajikan video presentasi karya-karya MYRES yang masuk sebagai finalis tahun 2021 yang juga menambah semangat mereka untuk menulis karya-karya selanjutnya. (RR)

Kategori
Berita Prestasi Siswa

Siswa MA Assalafiyyah Menjuarai MTQ 2021 Tingkat Sleman

Alhamdulillah beberapa siswa MA Assalafiyyah Mlangi menjuarai beberapa cabang lomba MTQ 2021 tingkat kabupaten Sleman pada Sabtu, 06 November 2021 yang diselenggarakan di komplek pemkab Sleman. Berikut beberapa nominasi yang diraih anak-anak Assalafiyyah Mlangi yang bergabung dengan rombongan PP Assalafiyyah Mlangi mewakili Kontingen Kecamatan Gamping :

  1. AGHIS SETIADINATA 11 / XI IPA 2 Juara 3 tafsir bahasa inggris putri MTQ 2021 Sleman
  2. ATIKAH INNAYATI PUTRI AL KHALIQAH 11 / XI IPA 2 Juara tahfidz 5 juz MTQ 2021 Sleman
  3. ELVINA SAFITRI 12 / XII IPA 2 Juara 3 Musabaqoh Fahmil Quran putri MTQ 2021 Sleman
  4. FIRDA IKSA APRILLIA 11 / XI IPA 2 Juara Harapan II Tafsir Bahasa Inggris MTQ 2021 Sleman
  5. HIJA AQIELA AZ-ZAHRA 12 / XII IPS 2 Juara 3 Musabaqoh Fahmil Quran putri MTQ 2021 Sleman
  6. ISTIQOMAH INTAN AMANAH 11 / XI IPA 2 Juara 3 Musabaqoh Fahmil Quran putri MTQ 2021 Sleman
  7. NAILIL AFNI, AS 12 / XII IPA 2 Juara harapan 2 tafsir bahasa arab MTQ 2021 Sleman

Semoga bisa menambah semangat belajar dan memahami serta mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan kesehariannya.

Kategori
Artikel

PERSATUAN DAN KESATUAN: SENJATA AMPUH PEMERSATU BANGSA

PERSATUAN DAN KESATUAN: SENJATA AMPUH PEMERSATU BANGSA

Bagian Refleksi Peringatan Sumpah Pemuda

Oleh : Kyky Miftakhul Jannah, S.Pd

Kerasnya penjajahan di tanah air membuat Indonesia banjir akan tangisan dan darah karena kehilangan para pahlawannya, satu-satunya harapan dan pengobar semangat kemerdakaan rakyat. Banyak pahlawan kita mati disengat peluru, ditangkap dan dipecut, dipukul sampai mati, diancam, difitnah bahkan, dibuang ke pulau terpencil dengan anggapan bahwa mereka akan kecut dan langsung mengubur cita-cita luhur mereka untuk melihat tanah air yang merdeka. Sebuah potret kekejaman pada rakyat Indonesia oleh penjajah, yang tidak mengenal kemanusiaan dan keadilan, hal ini menjadi catatan hitam sejarah bangsa kita

Perjuangan para pahlawan dalam memerdekakan tanah air Indonesia dari penjajahan dilakukan dengan menyerahkan seluruh kepunyaannya, harta, waktu, harga diri, hati dan jiwa bahkan, nyawanya pun dijadikan nomor terakhir jika itu menyangkut cita-cita luhur bangsa kita untuk tegak dan berdiri sendiri, walau begitu mereka tetap semangat dan tidak pernah menyerah akan cita-cita luhur mereka.

Nasionalisme Indonesia pada hakekatnya ialah suatu gejala baru yang harus dibedakan dari gerakan-gerakan perlawanan sebelumnya terhadap kekuasaan Belanda. Perang Jawa  1825 – 1930 misalnya, pada waktu Pangeran Diponogoro melawan kekuasaan Belanda di Jawa Tengah  selama lima tahun, merupakan suatu gerakan setempat yang mencerminkan ketidakpuasan lokal dan sangat berbeda sifatnya dari arus perlawanan baru  yang muncul abad ke-20. Nasionalisme baru itu adalah hasil imperialisme baru.yang dipandang sebagai bagian dari gerakan yang lebih besar yang melibatkan banyak bagian tanah jajahan baru yang diciptakan Eropa di Asia dan Afrika pada penghujung abad ke-19.

Secara politik, nasionalisme dimaknai sebagai ideologi yang mencakup prinsip kebebasan, kesatuan, kesamarataan, serta kepribadian selaku orientasi nilai kehidupan kolektif suatu kelompok dalam usahanya merealisasikan tujuan politik, yakni pembentukan dan pelestarian negara nasional. Nasionalisme Indonesia mengalami proses yang sudah dimulai dari perjuangan Kartini menghendaki emansipasi perempuan. Walaupun Kartini sering dikategorikan sebagai pejuang wanita, tetapi sepak terjang Kartini masuk pada fase paling awal pembentukan nasionalisme Indonesia. Kemudian tahap selanjutnya adalah terbentuknya organisasi-organisasi kebangsaan yang menandai bangkitnya kesadaran sebagai bangsa Indonesia.

Rasa kebangsaan ditempa dalam pengalaman bersama melawan penindasan kolonial, namun gagasan-gagasan tentang kebangsaan dan kemudian penciptaan suatu tatanan politik baru–suatu negara modern yang dapat digunakan untuk mengungkapkan gagasan itu, pada dasarnya merupakan konsep baru, yang melampui aspek-aspek negatif dari perjuangan kemerdekaan. Dan ini pun menyangkut penyusunan saluran-saluran baru bagi kekuasaan dalam masyarakat-masyarakat tradisional serta perumusan harapan-harapan baru. Semua ini mempunyai kesamaan-kesamaannya di mana pun di India, di bagian-bagian lain Asia Tenggara dan di Afrika – dan ini sangat berbeda dari gerakan perlawanan araris “ pra-nasionalis “ yang umum terdapat dalam masyarakat Indonesia, atau dari pemberontakan di bawah pemimpin tradisional yang berdasarkan keluhan-keluhan tertentu.

Sebab-sebab nasionalisme abad ke-20 harus dicari pada terganggunya keseimbangan masyarakat-masyarakat tradisional sebagai akibat dari dampak penuh industri modern Eropa. Dengan munculnya kaum cendikiawan baru, rasa tidak puas massa dapat disalurkan dan diorganisasikan ke dalam gerakan-gerakan kekuatan politik yang menentang rezim kolonial, memandang ke depan secara positif untuk membangun suatu negara merdeka yang didasarkan pada nilai-nilai pola-pola tatanan lama tradisional begitu pula lahirnya peristiwa Sumpah Pemuda.

Sumpah pemuda tidak hanya bermakna deklarasi saja, namun menjadi semangat yang membakar perjuangan, konsistensi dan kolaborasi luar biasa bagi bangsa Indonesia sehingga 17 tahun setelahnya Indonesia mencapai kemerdekaan. Teuku Umar, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari, Pattimura, dan banyak lagi pahlawan yang gugur di medan bakti.

Para pemuda Indonesia kemudian sadar, tidak ada gunanya melawan penjajah tanpa persatuan. Para pemuda bersumpah mengakui bertanah air Indonesia, berbangsa Indonesia, dan berbahasa Indonesia. Para pemuda itu memanglah benar-benar pemuda asli yang berusia antara 21-30 tahun.

Menilik kebelakang era Klasik Hindu sudah diikrarkan tentang jiwa persatuan sejak Kerajaan Majapahit. Saat politik ekspansi masa Tribhuwanatunggadewi, yang terdapat pada pada Kitab Pararaton terdapat ungkapan kalimat berbentuk komitmen. Komitemen untuk mempersatukan Nusantara di bawah panji kerajaan Majapahit. Dialah Gajah Mada yang komitmennya dituliskan dalam Pararaton yang terkenal dengan Amukti Palapa (Sumpah Palapa).

Slogan Bhinneka Tunggal Ika juga menjadi pelecut semangat bersatu diatas perbedaan. Manakah mungkin, Indonesia bersatu jika tidak adanya persatuan dan kesatuan? Apakah mungkin negara bersatu tanda adanya para pahlawan negeri kita yang mengabaikan segala bentuk perbedaan demi kesatuan?

Sumpah pemuda dan sumpah Palapa merupakan dua komitmen yang sama tetapi berbeda. Keduanya memiliki khas. Sumpah Pemuda usaha integrasi (penyatuan) bangsa untuk mengusir koloni Belanda. Sedangkan Sumpah Palapa upaya integrasi dengan cita-cita intervensi.

Dua generasi yang sangat berbeda jauh waktunya, sumpah yang diucapkan demi suatu cita-cita patut kita apresiasi secara positif, landasan filosofi keduanya sama tetapi berbeda.

Kongres Pemuda II digelar dengan tujuan:

(1) Melahirkan cita cita semua perkumpulan pemuda pemuda Indonesia,

(2) Membicarakan beberapa masalah pergerakan pemuda Indonesia; serta

(3) Memperkuat kesadaran kebangsaan dan memperteguh persatuan Indonesia.

Setelah melalui rangkaian kongres selama 2 hari, maka pada hari Minggu tanggal 28 Oktober 1928, para peserta Kongres Pemuda II bersepakat merumuskan tiga janji yang kemudian disebut sebagai Sumpah Pemuda, yaitu: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Ada beberapa fakta menarik dalam Kongres Pemuda II yang kemudian melahirkan Sumpah Pemuda, di antaranya sebagai berikut:

  1. Rapat Pertama Digelar di Lapangan Banteng

Kongres Pemuda II hari pertama, yakni hari Sabtu tanggal 27 Oktober 1928, dilangsungkan di Lapangan Banteng (kini termasuk wilayah Jakarta Pusat), tepatnya di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB). Kongres ini digelar selama 2 hari dengan 3 kali rapat yang dilaksanakan di tiga tempat yang berbeda.

  1. Diikrarkan di Rumah Orang Tionghoa

Peranan anak-anak muda keturunan Tionghoa cukup besar dalam Kongres Pemuda II. Bahkan, gedung tempat dibacakannya Sumpah Pemuda merupakan asrama pelajar milik peranakan Cina bernama Sie Kok Liang. Gedung yang terletak di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta Pusat, itu kini diabadikan sebagai Museum Sumpah Pemuda. Beberapa orang perwakilan pemuda peranakan Tionghoa hadir di Kongres Pemuda II dan turut berikrar mengucapkan Sumpah Pemuda, beberapa di antaranya diketahui bernama Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok, Tjio Djien Kwie, dan lainnya.

  1. Peserta dari Barat & Timur Indonesia

Kongres Pemuda II di Batavia dihadiri oleh para perwakilan organisasi pemuda dari Indonesia bagian barat sampai bagian timur dari berbagai latar belakang. Ada Mohammad Yamin, misalnya, yang datang dari ranah Minangkabau atau Sumatera Barat. Dari belahan timur Indonesia ada Johannes Leimena, kelahiran Ambon, Maluku. Ada pula Raden Katjasungkana dari Madura, atau Cornelis Lefrand Senduk mewakili organisasi pemuda Sulawesi. Bisa dibayangkan, dengan akses transportasi yang belum secanggih dan semudah sekarang, para pemuda dan pemudi itu harus menempuh perjalanan jauh dari daerah asal mereka ke Batavia demi mewujudkan persatuan generasi muda Indonesia.

  1. Lagu ‘Indonesia Raya’ Pertama Kali Dinyanyikan

Dalam Kongres Pemuda II di Batavia pada 28 Oktober 1928, untuk pertama kalinya lagu “Indonesia Raya” diperdengarkan ke khalayak. Wage Rudolf Soepratman memainkan lagu ciptaannya itu di depan peserta kongres dengan gesekan biolanya yang mendayu-dayu. Setelah selesai memainkan “Indonesia Raya” -yang kelak menjadi lagu kebangsaan Indonesia- para hadirin meminta agar lagu tersebut dinyanyikan. Setelah melalui diskusi, akhirnya “Indonesia Raya” dinyanyikan dengan sedikit perubahan lirik demi keamanan karena kongres diawasi oleh aparat kolonial Hindia Belanda. Kata “merdeka” dalam lirik lagu itu dihilangkan dan diganti dengan kata “mulia. Adapun orang yang pertama kali melantunkan lagu “Indonesia Raya” dalam Kongres Pemuda II itu adalah Dolly Salim yang tidak lain merupakan putri kesayangan Haji Agus Salim.

Kita jangan pernah mewarisi abunya Sumpah Pemuda, tetapi kita harus mewarisi apinya Sumpah Pemuda”

Bung Karno

Begitulah kiranya, refleksi menjadi muda. Menjadi tua itu takdir, tetap merasa muda itu pilihan. Perjalanan sejarah bangsa Indonesia peran golongan muda memegang peranan yang sangat penting. Beda zaman, berbeda pula tantangan yang dihadapi. Tetapi yang terpenting rasa nasionalisme harus tetap diwujudkan. Generasi muda saat ini adalah generasi yang merasakan dampak akibat perubahan iklim dan masalah keamanan. Jika generasi sekarang sudah menghadapi masalah seperti ini, generasi di masa depan pun pasti menerima masalah yang lebih kompleks.

Rangkaian peristiwa Sumpah Pemuda hingga perjuangan revolusi Indonesia merupakan pertautan mimpi besar dan perjuangan besar, smart ideas dan smart execution, dimana tanpa ada eksekusi yang tepat tidak akan ada perubahan. Pada 93 tahun yang lalu peran kepemimpinan kepemudaan 1928 hingga puncak kemerdekaan di tahun 1945 dapat pula dilaksanakan oleh pemuda masa kini. Kepemimpinan golongan pemuda masa kini sesuai dengan smart ideas adalah dengan memiliki rasa kepekaan terhadap sekitar, yaitu dengan upaya mendeteksi dan menyiapkan keperluan yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia. Permasalahan yang terkait dengan kedaulatan bidang ekonomi, pangan, ekologi, informasi dan berbagai aspek agar bangsa Indonesia tidak bergantung kepada bangsa lain.

Melalui peran smart execution penerapannyalah yang difokuskan agar menghasilkan performa yang efektif dalam pembangunan. Bentuk upaya yang diwujudkan oleh generasi muda Indonesia diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan.

Kesadaran untuk menyatukan negara, bangsa dan bahasa ke dalam satu negara, bangsa dan bahasa Indonesia, telah disadari oleh para pemuda yang sudah mulai terkotak-kotak dengan organisasi kedaerahan seperti Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatera dan lain sebagainya. Hal itu kemudian diwujudkan secara nyata dengan menyelenggarakan Sumpah Pemuda pada 1928.


*) Ibu Kyky Miftakhul Jannah, S.Pd adalah Staff Pengajar MA Assalafiyyah Mlangi mapel Sejarah, juga guru Pendamping OSIS Putri

Kategori
Berita Kurikulum Siswa

Seminar Proposal KTI Kelas 12

Menindaklanjuti program penyusunan KTI sebagai syarat kelulusan siswa kelas 12 MA Assalafiyyah Mlangi maka pada Rabu 29 September 2021, diadakan seminar umum Proposal penelitian KTI. Seminar di bagi dalam dua tempat yang berbeda antara kelompok siswa putra dan siswa putri. Pada seminar kali ini 26 kelompok alhamdulillah bisa mempresentasikan proposal penelitian KTI mereka dengan lancar, meskipun beberapa kelompok direkomendasikan untuk melakukan revisi dan perbaikan proposal oleh guru penguji proposal.

Proposal yang sudah diseminarkan akan diuji lagi pada bulan Februari 2022, semoga bisa berjalan lancar menghasilkan karya ilmiah yang bermanfaat bagi umat. Amiin.

Kategori
Artikel

Memaknai Kembali Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW

Memaknai Kembali Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW

Oleh: Lailatus Saadah, S.Hum

Masuknya Islam ke tanah Nusantara hingga berkembang di dataran Jawa tidak lepas dari kehadiran para pembesar Arab hingga Gujarat yang awalnya hanya bertujuan untuk berdagang. Agama yang dibawa para pembesar dan ulama ini bisa dikatakan berhasil mengajak para penduduk asli untuk masuk di dalamnya. Bahkan di tanah Jawa, para ulama yang menyebarkan Islam pertama-tama ini mendapat julukan tersendiri dari penduduk Nusantara yakni “Walisongo”. Meskipun jumlah para ulama yang ikut menyebarkan Islam di tanah Jawa ini lebih dari sembilan, namun masyarakat terlanjur familiar dengan ulama sembilan tersebut. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), Raden Rahmat (Sunan Ampel), Ja’far Shadiq (Sunan Kudus), Muhammad Ainul Yaqin (Sunan Giri), Raden Qasim alias Syarifuddin (Sunan Drajat), Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), Raden Said (Sunan Kalijaga), Raden Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), dan Raden Umar Said alias Raden Said (Sunan Muria).

Pada awal perkembangannya, Islam tidak begitu saja diterima oleh masyarakat Jawa. Islam sempat mendapat sentimen keras dari masyarakat yang mayoritas Hindu ini. Oleh karena itu, Walisongo memiliki cara pendekatan yang unik dalam menyebarkan Islam di wilayah Jawa. Seperti halnya yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga bahkan menjadikan budaya Jawa sebagai cara pendekatan khusus dengan memasukkan nilai-nilai Islam ke dalamnya. Justru melalui strategi ini banyak masyarakat Jawa yang tertarik untuk masuk Islam.

Hingga kini, budaya Jawa dengan segala macam pertunjukan dan hiburannya masih sering terkait dengan Islam. Bahkan Pigeaud mencatat ada beberapa pertunjukan yang sering diasosiasikan dengan kesalehan Islami, misalnya solawatan. Di dalam solawatan, narasi kehidupan Nabi Muhammad SAW didendangkan oleh kaum laki-laki baik dalam bahasa Arab atau Jawa dengan Iringan terbang (tamborin) tunggal tetapi dalam gaya Jawa. Seiring berkembangnya zaman, kaum hawa pun mulai vokal dalam mendendangkan solawatan baik di lingkungan pesantren maupun di lingkungan masyarakat yang diwadahi lembaga Islam khusus perempuan.

Di Selatan Jawa, perayaan maulid Nabi Muhammad SAW menjadi perayaan besar yang diselenggarakan beberapa hari dan dipimpin langsung oleh ndalem Keraton. Perayaan maulid ini sering disebut dengan sekatenan. Kata sekaten sendiri merupakan bentuk transformasi kalimat “syahadatain” yang diprakarsai oleh Sunan Kalijaga. Syahadatain yang artinya dua kalimat syahadat ini mengacu pada ajakan para Walisongo kepada masyarakat Jawa untuk masuk Islam dengan melafalkan dua kalimat syahadat (syahadat tauhid dan syahadat rasul).

Jika dahulu perayaan sekaten selalu diadakan dengan rangkaian acara besar di pusat alun-alun kota Yogyakarta, saat ini perayaan tersebut ditiadakan menimbang pandemi COVID-19 belum berakhir. Namun perayaan maulid Nabi Muhammad SAW akan selalu mengambil hati umat Islam dimanapun berada, meskipun dirayakan secara individu ataupun kelompok dengan jumlah peserta yang dibatasi. Meskipun begitu, perayaan maulid Nabi Muhammad SAW tetap mampu memompa semangat jiwa kaum muslimin agar selalu mengikuti teladan dan kemuliaan Nabi Muhammad SAW. Terlebih lagi membangun semangat umat Islam baik lahir dan batin dalam menghadapi segala cobaan dan ujian di masa pandemi ini.

Asal Muasal Tradisi Peringatan Maulid Nabi

Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW pernah didapuk sebagai hari besar Islam di Mesir pada masa Dinasti Fatimiyyah oleh Khalifah Mu’iz li Dinillah tahun 341 Hijriyah. Namun sempat dilarang oleh khalifah-khalifah setelahnya dan diadakan kembali secara besar-besaran pada masa khalifah Mudhaffar Abu Said pada tahun 630 M. Khalifah Mudhaffar mengadakan perayaan maulid Nabi Muhammad SAW selama tujuh hari tujuh malam dengan menghidangkan jamuan besar dan mengundang para orator untuk menghidupkan kembali jiwa heroisme kaum muslimin yang pada saat itu sedang berperang melawan kekejaman Jengis Khan dari Mongol. Pada akhirnya semangat kaum muslimin kembali berkobar dalam memerangi pasukan Jengis Khan.

Tidak hanya pada masa Mudhaffar saja, bahwasannya perayaan maulid Nabi Muhammad SAW dijadikan sebagai cambuk semangat kaum muslimin untuk memerangi kekejaman kaum kafir. Pada masa Islam mendapat gempuran bertubi-tubi dari berbagai bangsa Eropa, yakni Prancis, Jerman, dan Inggris atau yang sering disebut dengan Perang Salib, di bawah kekhalifahan Salahuddin dari Bani Abbassiyah. Beliau menghimbau kepada seluruh umat Islam agar memperingati hari lahir Nabi Muhammad setiap tanggal 12 Rabiul Awal. Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW ini pun mampu mengobarkan semangat kaum muslimin untuk memerangi kaum kafir dan akhirnya memperoleh kemenangan besar.

Sultan Salahuddin juga menyelenggarakan beberapa kegiatan perayaan menyambut maulid Nabi Muhammad SAW. Salah satu kegiatan tersebut adalah dengan membuat sayembara penulisan riwayat Nabi Muhammad SAW beserta puji-pujian bagi Nabi Muhammad SAW dengan menggunakan tata bahasa yang baik dan indah. Dalam perlombaan ini nama Syaikh Ja’far al-Barzanji keluar sebagai pemenang sayembara. Hingga kini, karya yang dikenal dengan Kitab Barzanji tersebut sering dibaca dan digaungkan pada pelaksanaan solawatan di masjid-masjid, musola, pesantren, bahkan di pelosok desa pada perayaan maulid Nabi Mauhammad SAW ataupun acara perayaan Islam lainnya.


*) Ibu Lailatus Saadah, S.Hum adalah guru mapel Bahasa Arab dan Aqidah Akhlaq di MA Assalafiyyah Mlangi

Kategori
Berita Kurikulum Siswa

Seminar Umum ”Tips Memilih Kampus di Era Revolusi Industri 4.0″

Untuk membekali anak-anak sejak dini tentang studi lanjutan di perguruan tinggi, maka MA Assalafiyah Mlangi Sleman mengadakan seminar umum ”Tips Memilih Kampus di Era Revolusi Industri 4.0″ pada 22 Juli 2021 dengan menghadirkan Dr. Muhammad Fakhrurrozi, M. Psi, Psi, Wakil Dekan II Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma Jakarta sebagai pembicara utama dan Dr. Irwan Masduki, Lc, M.Hum direktur pendidikan Yayasan Assalafiyyah Mlangi sebagai keynote speaker menutup acara seminar.

Dr. Fakhrurrozi mengawali dengan menjelaskan berbagai jalur untuk masuk ke perguruan tinggi utamanya yang berstatus negeri. Kemudian menerangkan tips memilih perguruan tinggi sesuai dengan minat, bakat dan finansial siswa, mengecek kualitas perguruan tinggi dan beberapa patokan yang harus dipegang saat memilih jurusan kuliah, agar bisa lancar, sukses dengan gemilang. Materi presentasi lengkap bisa diunduh di tautan ini : Kuliah dan Rev 4.0-1

Kategori
Berita

Sukseskan Program Madrasah Riset, MA Assalafiyyah Mlangi Gelar Seminar Penulisan Karya Tulis Ilmiah

Rabu 23 Juni 2021 MA Assalafiyyah Mlangi sukses menggelar seminar penulisan karya tulis ilmiah di aula Yayasan Assalafiyyah. Seminar kali ini membawa topik proses kreatif dalam penggalian ide karya tulis dan bedah karya juara 1 Kompetisi KTI MA Assalafiyyah 2020. Seminar dihadiri oleh siswa dan siswi kelas X dan XI.

Peserta tampak antusias salah satunya dikarenakan pihak panitia mendatangkan dua pemateri yang memiliki pengalaman dan pengetahuan unggul di bidang penalaran dan riset. Pemateri tersebut yakni Dr. Nur Abdillah Siddiq yang merupakan dosen pembimbing bidang keilmiahan di Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM, serta Ibu Ratna Rosita Pangestika, M.Pd. yang merupakan guru pembimbing dari juara 1 kompetisi karya tulis ilmiah MA Assalafiyyah 2020.

Para pemateri memaparkan ulasan-ulasan yang menarik sesuai dengan topik yang diberikan panitia. Dalam paparannya Dr. Nur Abdilllah Siddiq mengulik tentang merebaknya ajang kompetisi keilmiahan di lingkup setingkat MA/SMA, di antaranya MYRES yang dalam waktu dekat pendaftarannya mulai dibuka. Besar harapan siswa-siswi MA Assalafiyyah ikut serta meramaikan bahkan menjuarai kompetisi MYRES atau pun sejenis untuk menumbuh suburkan budaya riset dan penalaran di lingkup madrasah. Begitu pun Ibu Ratna Rosita Pangestika, M.Pd., beliau juga memantik pengetahuan siswa-siswi melalui pemaparannya yang gamblang dalam topik bedah karya juara pertama event KTI tingkat MA Assalafiyyah di tahun lalu.

Kegiatan seminar berjalan dengan baik, aktifnya beberapa siswa dan siswi dalam memberi pertanyaan yang ditujukan pada pemateri menjadi salah satu tolak ukur kemeriahan seminar pagi itu. Bapak Alif Jum’an, S.Si. selaku kepala madrasah pun mengharap dengan di awalinya tahun ajaran baru dengan kegiatan seminar keilmiahan ini, dapat menjadi tonggak mulainya penanaman karakter ilmiah di madrasah. (aqr)

Kategori
Berita

1 4 Rules of Debit DR and Credit CR Financial and Managerial Accounting

capital account normal balance

When we’re talking about Normal Balances for Revenue accounts, we assign a Normal Balance based on the effect on Equity. Because of the impact on Equity (it increases), we assign a Normal Credit Balance. Paid-in capital may not be a headline number for a company, but it’s worth taking note of it as an investor. This number indicates the total amount of money that individual investors and institutional investors have staked on a company’s success.

The five types of accounts and their normal balances

capital account normal balance

He currently researches and teaches economic sociology and the social studies of finance at the Hebrew University in Jerusalem. An increase in expenses and losses will cause a decrease capital account normal balance in cash flow from operations because more cash is going out than coming in. A healthy company will have more assets than liabilities, and will therefore have a net positive cash flow.

Example of Paid-In Capital

The accounting equation states that assets equal liabilities plus equity. By recording transactions with the appropriate normal balances, the equation stays in equilibrium, and the financial statements accurately represent the financial position and performance of the business. In accounting, understanding the normal balance of accounts is crucial to accurately record financial transactions and maintain a balanced ledger.

capital account normal balance

What Is a Capital Account vs. Equity Account in Accounting?

  • So for example a debit entry to an asset account will increase the asset balance, and a credit entry to a liability account will increase the liability.
  • To understand debits and credits, you need to know the normal balance for each account type.
  • By understanding and applying normal balances, accountants can ensure the integrity and usefulness of financial information.
  • Debit simply means on the left side of the equation, whereas credit means on the right hand side of the equation as summarized in the table below.
  • The normal balance is the expected balance each account type maintains, which is the side that increases.
  • It allows stakeholders to assess the financial health, profitability, and liquidity of the company by evaluating the trends and relationships within the financial statements.

Additional paid-in capital is the amount shareholders have paid into the company in excess of the par value of the stock. Retained earnings is the cumulative earnings of the company over time, minus dividends paid out to shareholders, that have been reinvested in the company’s ongoing business operations. The treasury stock account is a contra equity account that records a company’s share buybacks. Each of the accounts in a trial balance extracted from the bookkeeping ledgers will either show a debit or a credit balance. The normal balance of any account is the balance (debit or credit) which you would expect the account have, and is governed by the accounting equation. Knowing the normal balance of accounts for each account type will help you understand how debits and credits affect each type of account.

capital account normal balance

As we can see from this expanded accounting equation, Assets accounts increase on the debit side and decrease on the credit side. Liabilities increase on the credit side and decrease on the debit side. This becomes easier to understand as you become familiar with the normal balance of an account. Paid-in capital appears as a credit (that is, an increase) to the paid-in capital section of the balance sheet, and as a debit, or increase, to cash. If not distinguished as its own line item, there will be a debit to cash for the total amount received and credits to common or preferred stock and additional paid-in capital.

Revenues and gains are usually credited

While expense and loss accounts typically have a negative account balance. When we talk about the “normal balance” of an account, we’re referring to the side of the ledger. Similarly, if a company has $100 in Sales Revenue and $50 in Sales Returns & Allowances (a contra revenue account), then the net amount reported on the Income Statement would be $50. This means that debits exceed credits and the account has a positive balance. The credit side of a liability account represents the amount of money that the company owes to its creditors. By contrast, a company in financial trouble will often have more liabilities than assets.

capital account normal balance

( . Expense accounts:

Current vs. Capital Accounts: Definitions, Differences

  • For example, you can use a contra asset account to offset the balance of an asset account, and a contra revenue accounts to offset the balance of a revenue account.
  • Now that we have explored the relationship between normal balances and assets, liabilities, and equity, let’s move on to discussing the importance of normal balances in accounting.
  • The credit and debit of foreign exchange from these transactions are also recorded in the balance of the current account.
  • In the United States, the Bureau of Economic Analysis measures capital account transactions.
  • As assets and expenses increase on the debit side, their normal balance is a debit.
  • The resulting balance of the current account is approximated as the sum total of the balance of trade.
  • The current account measures the international trade of goods and services plus net income and transfer payments.
Kategori
Artikel

Peran Siswa MA Assalafiyyah dalam Menghadapi era Society 5.0

Peran Siswa MA Assalafiyyah dalam Menghadapi era Society 5.0

Oleh : Mishbakhul Munir, S.Ag.

Kemajuan zaman melalui inovasi sains dan teknologi sangat luar biasa, seperti meningkatnya daya komputasi. Hal ini sangat memberikan pengaruh pada tatanan kehidupan kita. Jika melihat perkembangan peradaban manusia. Semuanya di mulai dari society 1.0, di mana manusia menghabiskan waktu untuk berburu dan berpindah-pindah tempat melalui peralatan sederhana dan kekuatan alam yaitu api. Kemudian society 2.0 manusia mampu mengolah tanah untuk menumbuhkan makanan dan menjinakkan hewan liar (domistikasi) untuk kepentingan mereka. Pada era selanjutnya populasi manusia semakin banyak, kebutuhan sandang pangan dan papan juga semakin banyak, sementara kemampuan manusia masih terbatas. maka muncul revolusi industri di inggris pada abad 18 yang mengubah industri produksi kebutuhan semakin besar. inilah yang disebut sebagai society 3.0. Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia memasuki era di mana akses informasi semakin cepat yaitu society 4.0. Jarak ruang dan waktu antar manusia seakan hilang, data yang sebelumnya berupa fisik berubah menjadi digital dan dapat diakses oleh siapa saja dan kapan saja. Sistem ekonomi, pendidikan, dan lainnya pun bergeser pada ranah digital, sehingga mengalami disrupsi sangat cepat, seperti belanja di mall berganti shopee, pendidikan luring menjadi daring, bahkan silaturrahmi lebaran melalui daring. Lalu, apakah selanjtnya yang akan terjadi?

Pada tahun 2016, kabinet jepang dalam rencana dasar sains dan teknologi ke-5 mengusulkan bentuk society 5.0 dengan menciptakan “masyarakat super cerdas” yang kemudian diperkenalkan pada tahun 2019. Society 5.0 sendiri dibuat sebagai bentuk antisipasi akibat gejolak disrupsi dari revolusi industry 4.0 yang menyebabkan ketidakpastian yang komplek dan ambigu dari arus globalisasi. Society 5.0 merupakan bentuk masyarakat yang terhubung langsung oleh teknologi digital yang hadir secara rinci dengan berbagai kebutuhan masyarakat itu sendiri, misalnya penerapan drone untuk mengirim barang, peralatan rumah tangga dengan basis kecerdasan buatan (AI), pengoptimalan pertanian dengan otomatisai data prediksi cuaca, data air sungai dan lainnya.

Semua hal tersebut menjadi peluang, namun juga dapat menjadi ancaman, khususnya pada kita sebagai generasi melenial. Sebagai contoh, Ketika perkembangan teknologi semakin pesat, tentu banyak aktifitas manusia yang dapat digantikan oleh teknologi. Lalu pertanyaannya, apakah kita sudah siap terhadap hal tersebut?

Tentunya bagi mereka yang mengenyam pendidikan industri seperti Sekolah Menengah Kejurusan (SMK), mempunyai peluang yang lebih untuk meningkatkan kemampuannya di bidang teknologi informasi, jauh seperti kita yang menempuh pendidikan atas dasar pengembangan keilmuan itu sendiri. Namun, walaupun demikian, bukan berarti kita tidak memiliki peluang sama sekali, justru peluang kita sebagai siswa yang yang penempuh Pendidikan keagamaan, lebih besar dari pada mereka. Mengapa demikian? sebab pendidikan yang berorientasi pada industri, akan mengalami perubahan kedepannya, lebih-lebih ketika melihat sejarah yang notabene terjadi krisis setiap 10 tahun, membuat revolusi dalam bidang bisnis maupun industri. Untuk sederhananya bisa dikatakan kalau pendidikan industri harus selalu siap terhadap revolusi dan mampu mengikuti disrupsi yang terjadi.

Hal tersebut berbeda dengan kita yang menempuh pendidikan yang berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan khususnya keagamaan. Sebab pada prinsipnya, kemajuan keagamaan tidak dengan cara kita kembangkan, namun dengan memegang teguh prinsip aturan agama, lalu dapat disajikan dengan kondisi yang senantiasa berubah. Misalnya, kita tidak dituntut mengubah praktik riba dari haram menjadi boleh (mubah), namun kita hanya mempertahankan agar praktik riba tidak dijalankan dengan berbagai bentuk dan model. Hal tersebut sebenarnya cukup dengan kita mengetahui dasar-dasar riba, lalu memberikan altertatif transaksi agar tidak mengandung unsur riba, memalui materi pelajaran umum seperti ekonomi atau gografi dan ekonomi (dalam bahasa post-modernisme disebut sebagai geokonomi). Lalu, Ketika sudah diterapkan smart city ala society 5.0 dimana dan bagaimana peran kita?

Sebelum penulis jelaskan lebih lanjut, mungkin sedikit penulis membertiakn gambaran umum konsep ekonomi islam (lebihtepatnya Mu’amalah atau interaksi social) prinsipnya adalah Tabadul al-Manafi’ wa Tahqiq al-Ta’awun, artinya segala hal interaksi (baik baik bisnis mapun bukan) semuanya harus mengandung hubungan timbal balik (symbiosis) yang beroientasi pada kemanfaatan dan terwujudnya hubungan saling tolong menolong. Dalam kitab klasik hal tersebut digambarkan dengan “jika seseorang diberi anugrah kekuatan fisik, maka hendaknya ia membajak sawah, jika seseorang tidak mempunya fisik yang kuat, namun ia diberi ilmu pengetahuan pertanian, maka ia bisa bekerja sebagai petani, jika seseorang tidak mempunyai ilmu pertanian, ia bekerja dengan cara membeli hasil tanaman dari si petani lalu di jual kepada orang yang membutukan”. Nah, dari sini kita dapat menggabarkan bahwa mereka parah tokoh imuan murni, adalah orang-orang mempunyai ladang. Lalu, lalu para tokoh industry adalah sebagai eksekutor, dan mereka yang membutuhkan produk adalah konsumen. Lalu, di mana posisi kita sebagai siswa pesantren madrasah? Yang jelas jangan pernah menjadi konsumen mutlak, tapi jadilah ilmuan yang menciptakan ladang bagi mereka para pekerja industri.

Kita mempunyai dua potensi yang sangat besar yaitu, ilmu keagamaan dan ilmu social atau sains. jika kita bisa menguasai salah satunya atau bahkan keduanya sekaligus, akan membuat kita lebih mempunyai peran yang sangat besar. Misalnya kita sebagai orang yang lebih menguasai ilmu agama, kita dapat bekerja sama dengan mereka yang mempunyai skil bidang IT, untuk menyebarkan paham keagamaan kita yang lebih kuat, jika kita sebagi seorang yang mumpuni di bidang sains, kita dapat berkolaborasi dengan mereka yang dibekali dengan ilmu rekayasa untuk membuat sebuah produk yang lebih dibutuhkan dengan masyarakat, jika kita sebagai seseorang yang menguasai ilmu social, kita dapat menjadi konsultan atau membuat konsep strategi bisnis bagi peluaku bisnis. Sehingga, yang bekerja secara fisik bukan kita namun orang lain, dan kita hanya menanam (invest) ide atau pemikiran berupa konsep kepada orang lain, lalu mengontrolnya agar mendapatkan profit kedepannya, baik berupa jariyah ataupun value.

Namun, semuanya tidak mudah, semuanya butuh perjuangan, proses, dan kesabaran. Kita tidak bisa melakukan itu semua kalau hanya asyik dengan kenyamanan di masa sekarang. Tidak mau belajar, tidak mau menambah wawasan dan tidak meningkatkan skill. Dalam undang-undang santri, yakni kitab Ta’lim al-Mutaallim sudah dijelaskan bahwa :

تَمَنَّيْتَ اَنْ تُمْسِىَ فَقِيْهًا مُنَاظِرًا ۞ بِغَيْرِ عِنَــــاءٍ وَالْجُنُـــوْنُ فُـنُوْنُ
Kamu berharap menjadi ahli fiqih yang pandai berdiskusi dengan tanpa usaha, dan gila itu bermacam-macam.

Artinya, tidak sebatahs ahli fiqh (orang yang mumpuni dan menguasai ilmu fiqh) namun juga dapat diartikan sebagai orang yang mumpuni di pengetahuan sains dan social. Maka jika kita mengharapkan menjadi manusia yang mumpuni dan menguasai sains dan ilmu social (seperti sosiologi, ekonomi, antropologi, dll), lalu kita hanya terlena dengan kemajuan teknologi sekarang ini, maka kita tidak hanya dianggap bodoh, namun gila. Apakah kita mau menjadi orang gila? Haha….

Untuk itu, mungkin piwulang orang tua kita yang berbunyi “obah tanpo owah” (bergerak tanpa berubah) atau “angleres ilining banyu, angeli ananging ora keli” (mengikuti perkembangan zaman namun jangan terbawa oleh kemajuan zaman), adalah salah satu cara kita agar terus mempunyai memegang prinsip sebagai manusia yang focus mengembangkan ilmu pengetahuan (social atau sains) dan mempertahankan ajaran agama. Dan pada akhirnya sebagaimana pepatah “The Holder of The Wins” orang yang senantiasa bertahan atau memegang prinsip adalah pemenangnya. Juga sebagaimana sitiran bait alfiyyah “wa qoddim al-akhosso fi ittisholi wa qoddiman ma syi’ta fi al-infisholi” apa yang sudah kita punya itulah yang paling istimewa, bukan denga napa yang orang lain punya. Wallahu a’lam []