Kategori
Majalah Digital

CERPEN

Sepatu Tua Ayah

Suara langkah kaki ayah selalu menjadi musik pagi di rumah kami. Ketika matahari belum benar-benar muncul, langkahnya sudah terdengar dari ruang tamu menuju pintu depan. Ayah selalu berangkat kerja lebih awal, membawa tas kain luluh dan memakai sepatu hitam yang sudah kehilangan kilaunya.

Aku sering memperhatikan sepatu itu — kulitnya retak di bagian samping, solnya sedikit mengelupas, tapi tetap ia dikenakan setiap hari tanpa mengeluh. “Masih kuat, kok,” setiap kali Ibu menyarankan untuk membeli yang katanya baru. Padahal aku tahu, uang gaji ayah sering kali lebih dulu habis untuk kebutuhan sekolahku dan adikku. Pagi Sebelum Hari Ayah

Pagi hari itu, di sekolah, guru kami memberi pengumuman:

“Anak-anak, besok tanggal 12 November kita peringati Hari Ayah Nasional . Silakan bawa hadiah kecil untuk ayah kalian, tidak perlu mahal, yang penting dari hati.”Aku termenung. Selama ini aku sering membuat kartu untuk Ibu di Hari Ibu, tapi belum pernah benar-benar memberi apa pun untuk Ayah. Rasanya tidak adil — padahal Ayah juga selalu ada untukku, hanya saja ia jarang menunjukkan kasih sayang dengan kata-kata.Sepulang sekolah, aku membuka celenganku. Uangnya tak banyak — hanya beberapa lembar ribuan dan sekeping dua ribu. Tidak cukup untuk membeli sesuatu yang besar. Tapi tiba-tiba mataku tertuju pada sepatu ayah di dekat pintu. Sepatu tua itu seperti berbicara kepadaku: “Aku lelah, tapi Ayahmu tetap bangga memakainya demi kalian.”Aku pun memutuskan: aku akan membuat sepatu itu tampak baru kembali. Malam yang Tenang Malam itu, setelah semua tertidur, aku mengambil sepatu ayah dengan hati-hati. Aku membersihkan debu dan lumpur yang menempel, lalu menggosoknya dengan semir hitam yang kubeli dari warung kecil di depan rumah. Aku mengelapnya hingga mengilap — meski sedikit lelah, aku merasa bahagia membayangkan wajah Ayah besok pagi.Di dalam sepatu kiri, aku menyelipkan secarik kertas kecil bertuliskan:“Untuk Ayah, terima kasih sudah berjalan sejauh ini demi kami. Aku bangga padamu. Selamat Hari Ayah.”Sebelum tidur, aku menatap sepatu itu sekali lagi. Rasanya seperti aku baru saja memperbaiki bukan hanya sepasang sepatu — tapi juga menambal cinta yang sering tak sempat kuucapkan. Pagi yang Berbeda,Pagi itu berbeda. Saat Ayah hendak berangkat kerja, ia teringat lama di depan pintu. Tangannya memegang sepatu hitamnya yang kini tampak berkilau. Ia mengeluarkan kertas kecil dari dalamnya, membacanya perlahan. Aku melihat matanya mulai basah.“Ini… yang kamu lakukan, ya?” Aku hanya mengangguk pelan.Tanpa berkata banyak, Ayah memelukku erat. Pelukan itu hangat, seperti matahari pagi yang baru muncul.“Terima kasih, Nak,” katanya dengan suara bergetar. “Sepatu ini memang sudah tua… tapi sekarang rasanya baru lagi, seperti semangat Ayah.”Hari itu Ayah berangkat dengan langkah tegas. Aku berdiri di depan rumah, melihatnya berjalan menjauh dengan sepatu orang tuanya yang kini berkilau, seakan ikut tersenyum bersama mentari.Beberapa Minggu Kemudian,Sejak hari itu, Ayah lebih sering tersenyum. Ia.

 mulai membawa pulang cerita-cerita lucu dari tempat kerjanya. Kadang-kadang, saat aku belajar di ruang tamu, ia duduk di sampingku sambil berkata,“Jangan cepat menyerah, Nak. Kalau Ayah bisa menempuh jarak sejauh ini dengan sepatu tua, kamu pun bisa melangkah jauh dengan ilmu.”Sepatu itu kini menjadi simbol perjuangan di rumah kami. Ibu bahkan menaruhnya di rak khusus setiap kali Ayah pulang, bukan lagi dibiarkan berdebu di dekat pintu. Setiap kali aku melihatnya, aku teringat malam itu — malam ketika aku belajar bahwa cinta tak selalu membutuhkan hadiah mahal, cukup keikhlasan dan perhatian kecil yang tulus

Kategori
Majalah Digital

                           PERJUANGAN IR. SOEKARNO

                               DALAM KEMERDEKAAN

Perjuangan Ir Soekarno 

Ir Soekarno memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, sebagai proklamator, perumus dasar negara Pancasila. Bersama Mohammad Hatta, Soekarno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, yang menandai lahirnya bangsa Indonesia dan mengakhiri era penjajahan Jepang dan Belanda. 

Soekarno mempunya partai yang juga memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia yaitu dari Partai Nasional Indonesia(PNI). PNI sendiri dibentuk didasarkan pada gagasan untuk tidak bekerja sama dengan pemerintah Hindia Belanda. Hal tersebut membuat Soekarno dan tujuh pemimpin partai lainnya ditangkap pada Desember 1929. Mereka diadili karena dianggap mengancam ketertiban umum.  Akibat permasalahan ini, PNI pun dibubarkan pada 25 April 1931. 

Masa akhir perjuangan Ir. Soekarno ditandai dengan penurunan kekuasaan politiknya, yang secara resmi berakhir pada tahun 1967 setelah dicabut mandatnya oleh MPRS. Ia kemudian menjalani tahun-tahun terakhirnya sebagai tahanan politik di bawah pengawasan ketat, dan wafat pada 21 Juni 1970 karena komplikasi penyakit yang dideritanya.  

 

 

Kategori
Majalah Digital

Sepatu Tua Ayah

Suara langkah kaki ayah selalu menjadi musik pagi di rumah kami. Ketika matahari belum benar-benar muncul, langkahnya sudah terdengar dari ruang tamu menuju pintu depan. Ayah selalu berangkat kerja lebih awal, membawa tas kain luluh dan memakai sepatu hitam yang sudah kehilangan kilaunya.

Aku sering memperhatikan sepatu itu — kulitnya retak di bagian samping, solnya sedikit mengelupas, tapi tetap ia dikenakan setiap hari tanpa mengeluh. “Masih kuat, kok,” setiap kali Ibu menyarankan untuk membeli yang katanya baru. Padahal aku tahu, uang gaji ayah sering kali lebih dulu habis untuk kebutuhan sekolahku dan adikku. Pagi Sebelum Hari Ayah

Pagi hari itu, di sekolah, guru kami memberi pengumuman:

“Anak-anak, besok tanggal 12 November kita peringati Hari Ayah Nasional . Silakan bawa hadiah kecil untuk ayah kalian, tidak perlu mahal, yang penting dari hati.”Aku termenung. Selama ini aku sering membuat kartu untuk Ibu di Hari Ibu, tapi belum pernah benar-benar memberi apa pun untuk Ayah. Rasanya tidak adil — padahal Ayah juga selalu ada untukku, hanya saja ia jarang menunjukkan kasih sayang dengan kata-kata.Sepulang sekolah, aku membuka celenganku. Uangnya tak banyak — hanya beberapa lembar ribuan dan sekeping dua ribu. Tidak cukup untuk membeli sesuatu yang besar. Tapi tiba-tiba mataku tertuju pada sepatu ayah di dekat pintu. Sepatu tua itu seperti berbicara kepadaku: “Aku lelah, tapi Ayahmu tetap bangga memakainya demi kalian.”Aku pun memutuskan: aku akan membuat sepatu itu tampak baru kembali. Malam yang Tenang Malam itu, setelah semua tertidur, aku mengambil sepatu ayah dengan hati-hati. Aku membersihkan debu dan lumpur yang menempel, lalu menggosoknya dengan semir hitam yang kubeli dari warung kecil di depan rumah. Aku mengelapnya hingga mengilap — meski sedikit lelah, aku merasa bahagia membayangkan wajah Ayah besok pagi.Di dalam sepatu kiri, aku menyelipkan secarik kertas kecil bertuliskan:“Untuk Ayah, terima kasih sudah berjalan sejauh ini demi kami. Aku bangga padamu. Selamat Hari Ayah.”Sebelum tidur, aku menatap sepatu itu sekali lagi. Rasanya seperti aku baru saja memperbaiki bukan hanya sepasang sepatu — tapi juga menambal cinta yang sering tak sempat kuucapkan. Pagi yang Berbeda,Pagi itu berbeda. Saat Ayah hendak berangkat kerja, ia teringat lama di depan pintu. Tangannya memegang sepatu hitamnya yang kini tampak berkilau. Ia mengeluarkan kertas kecil dari dalamnya, membacanya perlahan. Aku melihat matanya mulai basah.“Ini… yang kamu lakukan, ya?” Aku hanya mengangguk pelan.Tanpa berkata banyak, Ayah memelukku erat. Pelukan itu hangat, seperti matahari pagi yang baru muncul.“Terima kasih, Nak,” katanya dengan suara bergetar. “Sepatu ini memang sudah tua… tapi sekarang rasanya baru lagi, seperti semangat Ayah.”Hari itu Ayah berangkat dengan langkah tegas. Aku berdiri di depan rumah, melihatnya berjalan menjauh dengan sepatu orang tuanya yang kini berkilau, seakan ikut tersenyum bersama mentari.Beberapa Minggu Kemudian,Sejak hari itu, Ayah lebih sering tersenyum. Ia mulai membawa pulang cerita-cerita lucu dari tempat kerjanya. Kadang-kadang, saat aku belajar di ruang tamu, ia duduk di sampingku sambil berkata,“Jangan cepat menyerah, Nak. Kalau Ayah bisa menempuh jarak sejauh ini dengan sepatu tua, kamu pun bisa melangkah jauh dengan ilmu.”Sepatu itu kini menjadi simbol perjuangan di rumah kami. Ibu bahkan menaruhnya di rak khusus setiap kali Ayah pulang, bukan lagi dibiarkan berdebu di dekat pintu. Setiap kali aku melihatnya, aku teringat malam itu — malam ketika aku belajar bahwa cinta tak selalu membutuhkan hadiah mahal, cukup keikhlasan dan perhatian kecil yang tulus.

Kategori
Majalah Digital

Sejarah Singkat Sumpah Pemuda

Sumpah Pemuda merupakan salah satu tonggak penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaaan Indonesia. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928, saat berlangsungnya Kongres Pemuda II  di Batavia (sekarang Jakarta). Dalam kongres tersebut para pemuda dari berbagai daerah di indonesia menyatakan tekad untuk bersatu sebagai satu bangsa, satu tanah air, dan satu bangsa, yaitu Indonesia.

 

    Alur Peristiwa Sumpah Pemuda 

  1. Latar Belakang 
  • Pada awal abad ke-20, mulai tumbuh kesadaran nasional di kalangan pelajar dan pemuda Indonesia.
  • Muncul berbagai organisasi kepemudaan yang bersifat kedaerahan, seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, dan lainnya.
  • Para Pemuda menyadari bahwa perjuangan yang terpisah- pisah tidak akan berhasil mengusir penjajah.
  • Oleh karena itu, diperlukan persatuan nasional di antara para pemuda dari berbagai daerah.

 

2.Kongres Pemuda I (1926)

  • Kongres ini bertujuan untuk menyatukan organisasi-organisasi pemuda.
  • Namun, hasilnya belum maksimal karena masih kuatnya semangat kedaerahan.

 

3. Kongres pemuda II (27-28 Oktober 1928)

  • Diselenggarakan oleh organisasi Penghimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI).
  • Kongres berlangsung dalam tiga sesi:
    • Sesi I (27 Oktober 1928) di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond(KJB) membahas pentingnya persatuan bangsa. 
    • Sesi II (28 Oktober pagi) di Gedung Oost-Java Bioscoop membahas masalah bahasa persatuan.
    • Sesi III (28 Oktober sore) di Gedung Indonesische Clubhuis Kramat, dimana rumusan Sumpah Pemuda dibacakan.

 

  1. Pembacaan Sumpah Pemuda 
  • Sumpah Pemuda dibacakan oleh Soegondo Djojopoespito selaku ketua kongres dan dirumuskan oleh Muhammad Yamin.
  • Setelah pembacaan sumpah, untuk pertama kalinya lagu “Indonesia Raya” ciptaan Wage Rudolf Supratman diperdengarkan secara instrumental.

 

             Isi Sumpah Pemuda:  

  1. Kami putra putri Indonesia,  engkau tertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. 
  2. Kami putra dan putri Indonesia,  mengaku berbangsa yang satu ,bangsa Indonesia.  
  3. Kami putra putri Indonesia,  menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.  

   

Kategori
Majalah Digital

Bagaimana G30S/PKI Bisa Terjadi?

 

        Awal 1960-an, Indonesia berada di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno dengan konsep Nasakom (Nasionalis, Agama, dan Komunis). Konsep ini bertujuan menyatukan kekuatan politik yang berbeda-beda. Namun, dalam praktiknya justru sering menimbulkan gesekan. PKI (Partai Komunis Indonesia) semakin kuat dengan jutaan anggota, sementara Angkatan Darat merasa terancam karena pengaruh PKI yang semakin besar.

     PKI sering berseberangan dengan TNI Angkatan Darat, terutama dalam hal kebijakan pertanahan (reforma agraria) dan isu politik. PKI mendapat dukungan dari rakyat kecil dan petani, sedangkan Angkatan Darat lebih dekat dengan kelompok agama dan nasionalis. Persaingan ini menciptakan ketegangan tinggi.

    Indonesia saat itu mengalami inflasi yang sangat tinggi, harga-harga melambung, dan kesejahteraan rakyat menurun. Situasi ini dimanfaatkan oleh kelompok politik untuk saling menyalahkan dan berebut pengaruh. Presiden Soekarno memiliki kedekatan dengan PKI dan sering memberi mereka ruang politik. Misalnya, PKI mendukung gagasan ‘Angkatan Kelima’ yaitu persenjataan bagi buruh dan tani. Ide ini ditolak Angkatan Darat karena dianggap mengancam posisi mereka.

     Dalam situasi politik yang panas itu, pada malam 30 September 1965 muncul gerakan bersenjata yang menculik dan membunuh enam jenderal serta satu perwira menengah Angkatan Darat. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai G30S.

     Setelah peristiwa itu, Angkatan Darat di bawah pimpinan Mayor Jenderal Soeharto bergerak cepat dan menuduh PKI sebagai dalang. Tuduhan ini diperkuat dengan propaganda melalui media dan film. Akibatnya, PKI dibubarkan dan anggotanya ditumpas di seluruh Indonesia.

     Jadi, G30S/PKI bisa terjadi karena campuran antara persaingan politik, konflik ideologi, kondisi ekonomi yang buruk, serta perebutan pengaruh antara PKI, Angkatan Darat, dan Presiden Soekarno. Peristiwa itu menjadi titik balik yang mengubah arah politik Indonesia secara drastis.

Timeline Menuju Peristiwa G30S/PKI

  •   1960: Presiden Soekarno memperkuat konsep Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis) untuk menyatukan kekuatan politik.
  •   1962: PKI semakin berkembang dengan jutaan anggota, menjadi salah satu partai komunis terbesar di dunia.
  •   1963: Ketegangan antara PKI dan Angkatan Darat makin meningkat karena perbedaan pandangan politik.
  •   1964: Kondisi ekonomi memburuk, inflasi mencapai ratusan persen, harga kebutuhan pokok melambung.
  •   Awal 1965: PKI mendukung gagasan ‘Angkatan Kelima’ yaitu buruh dan tani dipersenjatai. Angkatan Darat menolak keras.
  •   30 September 1965: Gerakan 30 September menculik dan membunuh enam jenderal dan satu perwira menengah Angkatan Darat.
  •   1 Oktober 1965: Angkatan Darat di bawah pimpinan Mayor Jenderal Soeharto mengambil alih kendali dan menuding PKI sebagai dalang.
  •   1966: Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang memberi wewenang besar pada Soeharto.
  •   1967-1968: Soeharto resmi menggantikan Soekarno sebagai Presiden kedua Republik Indonesia.

Tragedi G30S/PKI: Lembaran Kelam dalam Sejarah Indonesia

   Pada akhir September 1965, Indonesia diguncang oleh sebuah peristiwa yang sampai sekarang masih menjadi salah satu catatan kelam dalam sejarah bangsa, yaitu Gerakan 30 September atau yang biasa disingkat G30S/PKI. Malam itu, tepatnya 30 September hingga dini hari 1 Oktober 1965, sekelompok pasukan bersenjata melakukan penculikan terhadap sejumlah jenderal Angkatan Darat. Tujuh perwira kemudian tewas, dan jasad mereka ditemukan di sebuah sumur tua di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur.

    Kejadian itu tidak muncul begitu saja. Pada awal 1960-an, suasana politik Indonesia memang penuh ketegangan. Presiden Soekarno mencoba menyatukan berbagai kekuatan dengan konsep Nasakom (nasionalis, agama, dan komunis). Salah satu partai yang cukup kuat saat itu adalah PKI (Partai Komunis Indonesia). PKI memiliki jutaan anggota dan simpatisan, serta dikenal sebagai salah satu partai komunis terbesar di dunia setelah Uni Soviet dan Tiongkok. Namun, hubungan PKI dengan Angkatan Darat sering kali panas karena perbedaan ideologi dan kepentingan.

    Dalam situasi inilah tragedi itu terjadi. Pada malam 30 September, pasukan Gerakan 30 September menculik beberapa jenderal Angkatan Darat. Mereka adalah Jenderal Ahmad Yani, Letnan Jenderal Suprapto, Letnan Jenderal S. Parman, Mayor Jenderal M.T. Haryono, Mayor Jenderal D.I. Panjaitan, Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, serta Lettu Pierre Tendean. Para korban dibawa ke Lubang Buaya dan kemudian dibunuh. Penemuan jenazah mereka pada 3 Oktober membuat masyarakat Indonesia gempar.

    Sejak saat itu, Angkatan Darat yang dipimpin Mayor Jenderal Soeharto bergerak cepat. Soeharto, yang saat itu menjabat Panglima Kostrad, mengambil alih kendali dan menuduh PKI sebagai dalang di balik gerakan ini. Melalui media, tuduhan itu menyebar luas. PKI kemudian dinyatakan terlarang, dan anggotanya diburu di berbagai daerah.

    Dampak dari tuduhan itu sangat besar. Dalam waktu singkat, terjadilah penangkapan besar-besaran dan kekerasan yang menewaskan ratusan ribu orang di berbagai wilayah Indonesia. Ada yang dibunuh, ada pula yang ditahan bertahun-tahun tanpa pengadilan. Ribuan orang bahkan dibuang ke Pulau Buru sebagai tahanan politik. Gelombang penumpasan itu meninggalkan trauma mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat.

  Selain menimbulkan korban jiwa, peristiwa G30S/PKI juga membawa perubahan besar dalam pemerintahan. Posisi Presiden Soekarno melemah, sementara Soeharto justru semakin kuat. Pada 11 Maret 1966, Soekarno mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang memberikan wewenang kepada Soeharto untuk menjaga keamanan negara. Surat inilah yang kemudian menjadi pintu masuk bagi Soeharto untuk mengambil alih kekuasaan. Hanya dalam waktu singkat, Soeharto naik menjadi Pejabat Presiden pada 1967 dan resmi menjadi Presiden kedua Indonesia pada 1968.

    Sejak saat itu, dimulailah era Orde Baru. Selama lebih dari 30 tahun, narasi resmi tentang G30S/PKI dibentuk dan disebarluaskan oleh pemerintah. Buku pelajaran, media, hingga film ‘Pengkhianatan G30S/PKI’ digunakan untuk menanamkan pemahaman bahwa PKI adalah dalang tunggal peristiwa tersebut. Generasi muda kala itu tumbuh dengan keyakinan yang sama, karena setiap tahun diwajibkan menonton film tersebut di sekolah maupun televisi nasional.

    Namun, setelah Reformasi 1998, cerita tentang G30S/PKI mulai diperdebatkan kembali. Sejumlah sejarawan dan peneliti mencoba membuka arsip dan meneliti ulang. Ada yang berpendapat bahwa peristiwa itu tidak sepenuhnya dilakukan PKI, melainkan ada konflik internal militer atau bahkan campur tangan asing. Walau begitu, hingga sekarang belum ada bukti yang benar-benar pasti mengenai siapa dalang sesungguhnya. Yang jelas, tragedi 1965 ini membawa dampak yang sangat besar bagi bangsa Indonesia. Tidak hanya menewaskan banyak orang, tetapi juga mengubah arah politik negara. Dari sinilah lahir Orde Baru yang memimpin Indonesia selama lebih dari tiga dekade.

    Bagi pelajar masa kini, memahami G30S/PKI penting bukan hanya untuk mengingat nama tokoh atau tanggal kejadian, tetapi juga untuk mengambil pelajaran dari sejarah. Tragedi itu menunjukkan bahwa perebutan kekuasaan dan perbedaan ideologi bisa berujung pada pertumpahan darah. Dengan belajar sejarah, kita bisa lebih menghargai arti persatuan dan mencari jalan damai dalam menyelesaikan perbedaan.

 

penulis : Lutfhi Hendrawan

Kategori
Majalah Digital

POSTER TENTANG MENJAGA KEBERSIHAN

POSTER

Kategori
Majalah Digital

SEJARAH SINGKAT PERINGATAN MAULID NABI 

       Peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW atau Maulid Nabi SAW, diyakini telah dikenal oleh masyarakat muslim Arab, Setidaknya sejak tahun kedua hijriah, Namun ada pula yang meyakini peringatan maulid telah ada sejak zaman Nabi SAW. Terdapat berbagai versi mengenai awal mula peringatan Maulid Nabi SAW. Sebagian berpendapat, peringatan tersebut dilakukan pertama kali pada saat dinasti Fatimiyah berkuasa. Tapi ada pula yang berpendapat dimulai sejak masa Salahudin Al-Ayyubi. Salah satu pendapat disampaikan oleh Ahmad Tsauri dalam buku “Sejarah Maulid Nabi” (2015). Menurutnya perayaan maulid Nabi SAW Sudah dilakukan masyarakat muslim sejak tahun kedua Hijriah. Catatan tersebut merujuk pada kitab “Wafaul Wafa bi Akhbar Darul Mustafa” karangan Nuruddin Ali. Disebutkan, Khaizuran atau Jurasyiyah binti ‘Atha (170 H/786 M) yang merupakan istri Khalifah al-Mahdi bin Mansur al-Abbas juga ibu dari Amirul Mukminin Musa al-Hadi dan al-Rasyid datang ke Madinah.

      Khaizuran memerintahkan agar penduduk Madinah mengadakan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi, Dari Madinah, Khaizuran kemudian pergi ke Mekah dan melakukan perintah yang sama kepada penduduk Mekah untuk merayakan Maulid Nabi SAW di rumah-rumah. Karena pengaruh yang besar itu, Khaizuran mampu menggerakkan masyarakat muslim Arab untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Hal ini dilakukan agar teladan, ajaran dan kepemimpinan Nabi SAW dapat terus menginspirasi umat Islam. Sebagian besar ulama meyakini, Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada tanggal 12 Rabiul Awwal, Tahun Gajah (570 M). Maka setiap tanggal tersebut diperingati dengan Maulid Nabi SAW.

Tradisi Maulid Nabi di Indonesia

          Maulid Nabi SAW diperingati oleh sebagian kaum muslim di dunia, termasuk Indonesia. Peringatan Maulid Nabi SAW dilakukan dengan berbagai cara dan ekspresi. Di masyarakat Jawa, Maulid Nabi dirayakan dengan membaca Manaqib Nabi SAW di dalam sejumlah kitab seperti Barzanji, SimtudDuror, Diba’, Syarofal Anam, Burdah, dan lainnya. Setelah itu, biasanya masyarakat menyantap makanan bersama-sama yang disediakan secara gotong royong oleh warga.

       Masyarakat Muslim tidak hanya bergembira merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW tapi juga bersyukur atas teladan, jalan hidup dan tuntunan yang dibawa oleh beliau. Disejumlah tempat, seperti di keraton-keraton di Jawa, peringatan Maulid Nabi biasa disebut dengan Grebeg Mulud. Di Sulawesi Selatan, Maulid Nabi SAW dirayakan dengan istilah Maudu Lompoa atau Maulid Akbar. Perayaan ini diselenggarakan bahkan lebih ramai daripada hari raya Idul Fitri. Dalam perayaan tersebut, warga mengarak replika perahu Pinisi yang dihias dengan beraneka ragam kain sarung dan dipamerkan di tepi sungai. Sejumlah daerah telah terbiasa merayakan Maulid Nabi di sana. Seperti Desa Cikoang, Kecamatan Laikang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Setelah dipamerkan, replika perahu diarak warga keliling desa. Sepanjang acara tersebut tetabuhan gendang atau seni musik Gandra Bulo khas masyarakat lokal terus diperdengarkan.

       Maudu Lompoa melambangkan sejarah masuknya Islam di wilayah selatan pulau Sulawesi yang dibawa oleh para pedagang Arab. Meskipun masih terdapat perdebatan di kalangan ulama terkait perayaan Maulid Nabi ini, tapi bagi kebanyakan umat Islam merayakan Maulid Nabi mempunyai makna spiritual dan edukasi. Momentum ini menjadi kesempatan bagi kaum muslimin untuk mempelajari lebih jauh tentang kehidupan dan ajaran Nabi Muhammad SAW. 

Keutamaan dalam Maulid Nabi  

       Setiap tahun, umat muslim memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW melalui Maulid Nabi Muhammad SAW. Peringatan Maulid Nabi memiliki banyak keutamaan dan hikmah mendalam. Maulid Nabi bisa menjadi momen memperkuat kecintaan kepada Rasulullah. Peringatan ini juga memberikan kesempatan bagi umat Islam mendapatkan pahala dan keberkahan yang besar. Selain pahala yang berlimpah kita juga mendapatkan keutamaan dari pernyataan ini, berikut keutamaannya;

  1. Mendorong umat Islam untuk Senantiasa Bersholawat 

Salah satu hikmah utama dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah mendorong seluruh umat Islam untuk senantiasa memperbanyak bacaan sholawat. Lagi pula, membaca sholawat merupakan salah satu bentuk penghormatan dan cinta kepada rasul Allah SWT. Dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 56,

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا ۝٥٦

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah SWT dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

  1. Menguatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW

Hikmah selanjutnya dari perayaan Maulid Nabi adalah memberikan kesempatan bagi seluruh muslim di dunia untuk menguatkan kembali kecintaan mereka terhadap Nabi Muhammad SAW. Kecintaan kepada Nabi pada dasarnya adalah satu pilar keimanan yang perlu dijaga dan terus ditingkatkan. 

Dalam sebuah hadis riwayat HR. Al-Bukhari,

«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ». 

Rasulullah SAW bersabda bahwa “Tak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai dari ayahnya, anaknya, dan juga manusia seluruhnya.”

Melalui peringatan ini, umat Islam di seluruh dunia diingatkan kembali untuk selalu menempatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW di atas segala-galanya. Sebab hal ini sebagai salah satu bentuk kesempurnaan iman.

3. Meneladani perilaku dan perbuatan baik Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW adalah salah satu contoh teladan yang sempurna dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam Al-Quran Surah Al-Ahzab ayat 21 Allah SWT berfirman,

لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِىۡ رَسُوۡلِ اللّٰهِ اُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنۡ كَانَ يَرۡجُوا اللّٰهَ وَالۡيَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيۡرًا ؕ‏ ٢١

yang artinya “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi orang yang mengharap rahmat Allah…”

Peringatan Maulid Nabi memberikan kesempatan bagi seluruh umat Islam untuk lebih memperdalam kehidupan sekaligus akhlak Nabi Muhammad SAW. Dengan memahami sekaligus meneladani perilaku dan perbuatan baik beliau, maka umat Islam bisa mengaplikasikan nilai-nilai mulia tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Menghidupkan Sunnah Rasulullah

Hikmah Maulid Nabi lainnya yakni menghidupkan Sunnah Rasulullah. Bukti cinta kepada Allah subhanahu wata’ala yaitu dengan menghidupkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hal tersebut sesuai dengan firman Allah subhanahu wata’ala pada Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 31,

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٣١

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”  (QS. Ali Imran: 31).

  1. Ungkapan Kegembiraan

Peringatan Maulid Nabi SAW adalah ungkapan kegembiraan dan kesenangan dengan kelahiran Rasulullah SAW.Dalam Surat Yunus Ayat 58, Allah SWT berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (QS. Yunus: 58).

Ayat ini memerintahkan kaum muslimin untuk bergembira dengan rahmat dan karunia Allah, dan salah satu rahmat terbesar bagi manusia adalah kelahiran Nabi SAW. Karena kelahiran Nabi Muhammad ke muka bumi ini adalah nikmat dan rahmat teragung yang Allah anugerahkan kepada manusia dan seluruh alam. Perayaan maulid adalah bentuk syukur  kepada Allah atas nikmat yang sangat agung ini. Dengan sebab beliau, kita mengenal Allah, satu-satunya Tuhan yang berhak dan wajib disembah. Tuhan Pencipta segala sesuatu.                                                                                                                                       

Perkembangan dan Penyebaran Tradisi Maulid

       Tradisi umat islam yang senantiasa dilakukan setiap tahun di banyak negara. Tradisi tersebut terjadi pada 12 Rabiul Awal yang kita kenal dengan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW. Dalam rangka memperingati hari kelahiran Rasulullah SAW. Perkembangan zaman merupakan salah satu fenomena yang tidak terelakan. Salah satunya adalah perkembangan dan penyebaran tradisi Maulid Nabi berawal dari perayaan sederhana di Mesir dan Irak pada abad pertengahan, kemudian menyebar ke berbagai wilayah Islam. Di Indonesia, tradisi ini berkembang melalui Wali Songo yang mengadaptasi budaya lokal seperti Sekaten dan Grebeg Maulud, serta melalui dakwah ulama dan kiai pesantren dengan pembacaan Al-Barzanji.

    Tradisi ini berakar dari sebuah perayaan sederhana di Mesir dan Irak pada masa Dinasti Fatimiyah di abad pertengahan, sebagai perayaan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Peringatan Maulid bagian tradisi dari keagamaan secara historis baru terjadi pada masa dinasti Bani Fatimiah, tepatnya pada masa Raja Al- Muiz li Dinillah ( 341 – 365 H). Beliau merupakan orang pertama yang menyelenggarakan perayaan kelahiran Nabi yang tercatat dalam sejarah. Kemudian dalam kurun waktu, tradisi yang semula dirayakan hanya oleh kelompok Syiah ini juga dilakukan oleh kaum sunn, dimana khalifah Nuruddin, penguasa Syiria (511 – 569 H) adalah penguasa pertama yang tercatat merayakan Maulid Nabi. Sedangkan di Indonesia sendiri perayaan ini berkembang karena peran dari Wali Songo, tradisi Maulid Nabi mulai masuk ke Indonesia pada abad ke- 15. Dilansir dalam jurnal Perayaan Maulid Nabi Dalam Pandangan KH. Hasyim Asy’ari karya Ulin Niam Masruri.

       Di Indonesia memperingati Maulid Nabi SAW sudah menjadi darah daging hingga sekarang. Bahkan pemerintah telah menjadikan peringatan ini salah satu agenda rutin dan acara kenegaraan tiap tahunnya. Sedangkan di Indonesia, tradisi maulid Nabi SAW yang sudah melekat di lingkungan masyarakat ini dijadikan media dakwah dan pengajaran Islam. Dalam tradisi ini juga untuk melakukan amal-amal kebaikan seperti bakti sosial, santunan kepada fakir miskin, pameran produk islam, pentas seni dan kegiatan lain yang lebih menyentuh persoalan masyarakat, dijelaskan dalam buku hanafi, 2015.

Kontroversi maulid nabi 

      Maulid diartikan sebagai peringatan hari kelahiran dalam bahasa Indonesia. Sehingga kata Dies Natalis yang biasa dinisbatkan pada hari jadi sebuah perguruan tinggi biasanya diterjemahkan dengan kata “milad”. Jadi, Maulid Nabi Muhammad saw berarti peringatan hari ulang tahun kelahiran Nabi yang jatuh setiap 12 Rabiul al-Awwal. 

       Pro Kontra Maulid Peringatan Maulid yang mentradisi di kalangan kaum muslim tidak pernah dilaksanakan, baik di masa Nabi, masa Khulafa al-Rasyidin, ataupun masa Tabiin. Maulid Nabi diperingati pertama kalinya pada Dinasti Ayyubiyah pada abad V/XI M, di bawah pemerintahan Khalifah Salahuddin al-Ayyubi. Dari sini, dapat dipahami jika sebagian ulama ada yang tidak setuju melaksanakannya. Mereka berpandangan bahwa peringatan maulid adalah termasuk bid’ah yang dilarang agama. Pendapat semacam ini dikemukakan oleh ulama Saudi al-Syaikh Abd al-Aziz bin Abdullah bin Baz dalam bukunya Fatawa Muhimmah li Umum al-Ummah. “Tidak boleh memperingati maulid Nabi, karena peringatan semacam itu adalah bid’ah dalam agama. Nabi dan para sahabat tidak pernah mencontohkannya. Padahal merekalah yang paling mengetahui masalah agama.” Pendapat beliau didasarkan pada HR Sunan al-Nasai. Pandangan ini terutama dianut oleh kelompok Salafi-Wahabi, yang memandang segala bentuk perayaan yang tidak ada pada masa Rasulullah sebagai tindakan yang tidak sesuai dengan syariat.

       Kelompok ini berpendapat bahwa perayaan Maulid Nabi adalah perbuatan yang diada-adakan dan tidak memiliki landasan dalam agama. Mereka mengutip beberapa hadis yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad tidak pernah merayakan hari kelahirannya sendiri, dan bahwa beliau hanya menetapkan dua hari raya dalam Islam, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Oleh karena itu, mereka menilai bahwa merayakan Maulid termasuk dalam kategori bid’ah yang tidak dibenarkan.

       Namun, di sisi lain, mayoritas ulama dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah memandang bahwa perayaan Maulid Nabi merupakan bid’ah hasanah (inovasi yang baik), yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam selama tujuannya adalah untuk menyemarakkan syiar agama dan menambah kecintaan kepada Nabi Muhammad. Mereka berpendapat bahwa selama perayaan Maulid diisi dengan kegiatan yang bermanfaat, seperti pembacaan kisah-kisah Nabi, doa, dan shalawat, maka perayaan ini bisa dianggap sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mempererat tali persaudaraan di antara umat Islam. Mereka berpandangan, sekalipun peringatan maulid tidak pernah dilaksanakan Nabi dan para sahabatnya, tetapi, Nabi tidak pernah menganjurkan atau pun melarang untuk memperingatinya. Sehingga, memperingatinya tidaklah secara otomatis bisa dikategorikan sebagai bid’ah yang diharamkan. Untuk itu, diperlukan pemahaman tentang apa yang dimaksud bid’ah oleh Nabi. Bid’ah adalah sesuatu yang baru setelah Nabi yang menyangkut   masalah ibadah mahdah, seperti shalat, puasa, haji dan ibadah ritual lainnya.

OPINI PENULIS

menurut penulis tradisi ini sangat bermanfaat, selain menambah pahala yang berlipat ganda kita mendapat hikmah yang dapat diimplementasikan, seperti mengikuti keteladanan nabi, serta ketabahannya dalam menghadapi cobaan yang bisa dikatakan sangat berat untuk seukuran manusia, mengingat sejarahnya yang sangat pedih membuat kita mengingat setiap setetes keringat juga nyawa yang beliau taruhkan dalam memperluas agama islam dan bertahan dalam bahaya musuh tepat didepan mata. Maulid Nabi bukan hanya hari besar Islam, tetapi cermin bagi kita semua, apakah kita sudah benar-benar mencintai Rasulullah dengan meneladani akhlaknya? Atau hanya berhenti pada perayaan lahirnya saja? menurut penulis budaya ini sangat patut untuk dilestarikan agar nantinya dapat diteruskan kepada generasi selanjutnya bahwa budaya ini ada, karena arus westernisasi perlahan budaya ketimuran di Indonesia mulai hilang berganti dengan gaya hidup modern yang jauh dari nilai-nilai keislaman yang dulunya sangat lekat di indonesia.

Meneladani sifat  Rasulullah adalah tugas seumur hidup. Dan Maulid adalah pengingat bahwa cahaya itu pernah hadir, dan kita bertugas menjaganya tetap menyala. Semoga dengan adanya peringatan maulid ini kita diberi syafa’at oleh beliau diakhir akhirat kelak, amin. 

sumber:

https://baznas.go.id/artikel-show/Sejarah-Singkat-Peringatan-Maulid-Nabi-Muhammad/253?back=https://baznas.go.id/artikel-all

https://an-nur.ac.id/sejarah-maulid-nabi-asal-usul-kontroversi-dan-tradisinya-di-indonesia/

https://pbi.ftk.uin-alauddin.ac.id/artikel-60-kontroversi-maulid-nabi-dan-barzanji 

Sumber:https://www.detik.com/sumut/berita

https://blog.danasyariah.id/hikmah-peringatan-maulid-nabi/

https://www.inews.id/lifestyle/muslim/9-hikmah-maulid-nabi-bagi-umat-islam-lengkap-dengan-dalilnya-nomor-4-dapat-syafaat/2

 

Penulis:

  1. Safina Anjani
  2. Khumairoh Az Zahra
  3. Aisha Putri Faradina
  4. Giffanaura Archieputri