Kategori
Berita Siswa

Seminar Bedah Buku Kisah-kisah Banser yang mendebarkan

Santri Putra Assalafiyyah dari kelas 10, 11 dan 12 Madrasah Aliyah, sangat antusias mengikuti kegiatan Seminar Bedah Buku Kisah-kisah Banser yang mendebarkan, yang dilaksanakan di Joglo Komplek Tahfidz Putra PP. Assalafiyyah Mlangi, pada Senin tanggal 03 Januari 2022. Hadir sebagai narasumber, Gus Nadhief Sidqi (penulis buku), Kyai Hasan Basri dan Seorang penulis aktif wanita. Seperti diketahui bahwa Gus Nadhief Sidqi adalah Alumni Al Azhar Cairo, sekarang menjabat dan mengabdi sebagai Ketua Ansor Rembang. Beliau kebetulan adalah Sepupu Gus Yahya Staquf, ketua PBNU baru terpilih di Muktamar NU Lampung kemarin.
Menurut Gus Nadhief, Banser itu makhluk hidup yang mirip dengan kita yang didesain untuk melayani para ulama NU. Banser itu merupakan kader inti Gerakan pemuda ansor, sebuah badan otonom NU. Buku ini banyak mengisahkan Kisah-kisah menarik baik yang lucu, lugu maupun yang histeris dan heroik. Salah satunya tujuan ditulisnya buku ini adalah untuk membiasakan kembali karakter santri, warga NU dan masyarakat yang santai, riang gembira dan humoris, yang selama ini terbiasakan ngotot fokus mengkounter aliran radikal. Menurut beliau, biarkan jenggot jadi urusan nya tukang cukur dan celana cingkrang jadi urusan nya tukang jahit.
Adapun menurut Kyai Hasan Basri, Banser itu paling banyak perannya tapi jarang ditulis, Buku yang pernah ditulis mungkin barulah buku yang berjudul Kelompok Para Militer NU. Karenanya beliau sangat mengapresiasi adanya buku baru yang menulis tentang Banser. Analisa bedah buku Banser lain dari Seorang penulis aktif wanita bisa dicermati di video berikut :


Kategori
Berita

PKKM Berlangsung Lancar, MAS Assalafiyyah Mlangi Presentasikan Data Berbasis Digital

Belum genap satu bulan Penilaian Kinerja Kepala Madrasah (PKKM) MAS Assalafiyyah Mlangi telah berjalan lancar. Kegiatan PKKM yang digelar pada 15 Desember 2021 tersebut merupakan kegiatan PKKM kedua yang diikuti oleh madrasah yang baru berdiri di tahun 2014. Kegiatan berlangsung selama dua jam yakni pukul 11.00 – 13.00 WIB dan digelar di gedung madrasah yang bernuansa alam. Penilaian dilakukan oleh dua pengawas utusan dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman, yakni Drs. H. Daryono, M.Pd., dan Drs. Mujiyono, M.Pd.I.

PKKM menjadi agenda rutin setiap tahun. Kegiatan ini menjadi wujud untuk menjamin mutu penyelenggaraan pendidikan. Instrumen penilaian mencakup lima aspek yaitu kepribadian dan sosial, usaha pengembangan madrasah, pelaksanaan tugas manajerial, pengembangan kewirausahaan, dan hasil kinerja kepala madrasah. Kelima aspek tersebut saling berkesinambungan dan siap dipresentasikan oleh masing-masing tim sukses dalam kegiatan PKKM ini.

Pelaksanaan PKKM di MAS Assalafiyyah Mlangi tahun ini, berbeda dengan tahun sebelumnya. Pada tahun ini penyajian laporan dilakukan dengan menerapkan konsep paper less, yang artinya tim madrasah telah mengunggah semua aspek penilaian ke dalam berkas data google drive. Data dalam google drive pun memiliki kesinambungan dengan sistem kelola data madrasah yakni Siakad (Sistem Informasi Akademik). Siakad merupakan portal eksklusif yang dikelola madrasah dalam menyajikan segala bentuk aktivitas guru dan siswa. Siakad merupakan sumber data terkait berkas pembelajaran, prestasi bahkan konseling dari setiap siswa di madrasah.

Bentuk integrasi tersebut mendapat apresiasi dari pengawas. Selain kelengkapan data terekam secara digital, data dapat diperbaharui dengan mudah untuk membantu menyukseskan kegiatan akreditasi madrasah di tahun mendatang. Hal lain adanya sistem kelola Siakad memudahkan monitoring dan evaluasi bagi semua kegiatan guru dan peserta didik sebagai komponen penting dalam kegiataan PKKM tahun ini. Kegiatan PKKM tahun 2021 diakhiri dengan mengambil dokumentasi berupa foto bersama di halaman gedung madrasah. (aqr)

Kategori
Kurikulum

INTEGRASI BAHASA INGGRIS DALAM KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR PADA PENDIDIKAN FORMAL

Oleh Endah Kunti Istiqomah, M. Pd

Salah satu bahasa yang mempunyai peran penting di ranah internasional adalah Bahasa Inggris. Hal ini dimulai dengan sebuah fakta bahwa walaupun Bahasa Inggris bukan merupakan Bahasa Surga, nyatanya diperkirakan lebih dari 750.000.000 penutur Bahasa Inggris yang mana menjadikan Bahasa tersebut menjadi bahasa kedua maupun sebagai bahasa asing. Dalam artian, bahasa tersebut digunakan sebagai alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari ataupun dipelajari dengan giat walaupun tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hariartinya bahasa tersebut dijadikan sebagai senjata bagi penuturnya dalam kesempatan-kesempatan lainnya.

Angka-angka tersebut kadang kala masih menjadi perdebetan yang mana dianggap tidak bisa menjadi alasan mendasar dalam mempelajari Bahasa Inggris. Lebih mendalam lagi, pentingnya Bahasa Inggris juga dapat dilihat dari fungsi bahasa tersebut. Fungsi-fungsi bahasa tersebut dapat dilihat dari masing-masing penutur. Fungsi yang paling mendasar dari mempelajari Bahasa Inggris adalah mengurangi kesalahpahaman berbahasa dengan penutur asli Bahasa Inggris. Selain itu, mempelajari Bahasa Inggris juga bisa menjadikan bahasa tersebut jembatan dalam meraih pendidikan yang lebih tinggi.

Di Indonesia, Bahasa Inggris tidak lagi dimasukkan pelajaran muatan lokal. Dalam artian bahwa Bahasa Inggris bukan lagi dijadikan sebagai Bahasa asing yang mana di anggap bahasa yang sulit dan menakutkan. Akan tetapi, pemerintah melalui kementrian pendidikan ingin mendoktrin dan mengingatkan seluruh masyarakat Indonesia bahwa mempelajari bahasa asing khususnya Bahasa Inggris sedini mungkin memang penting dilakukan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya pelajaran Bahasa Inggris dari jenjang pendidikan paling dasar (PAUD) hingga bangku perkuliahan.

Walaupun konteks Bahasa Inggris di Indonesia menjadi Bahasa Asing (English for Foreign Language maupun Bahasa Kedua (English for Second Language), di lansir dalam laman kompas, Pada dekade terakhir, minat belajar Bahasa Inggris di Indonesia mulai meningkat. Hal ini tidak hanya disebabkan sebagai syarat melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi, akan tetapi sudah menajdi sebuah trend kekinian pada setiap sekolah.

Sebagai bentuk mendukung visi dan misi kemendikbud pada tahun 2020-2024 yaitu meningkatkan kulaitas manusia dalam segala aspek salah satunya adalah dalam berbahasa asing, sejumlah sekolah sudah mempersiapkan diri untuk mengaplikasikan Bahasa Inggris menjadi Bahasa pengantar dan Bahasa sehari-hari selama berada di sekolah. Dalam proses mengaplikasikannya seluruh stakeholder yang ada di sekolah mempunyai peranan penting dalam membudayakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam KBM maupun bahasa sehari-hari.

Dalam tantangan tersebut, kemahiran dan keterampilan para guru dalam mengajar dengan mengaplikasikan Bahasa Inggris sebagai Bahasa pengantar atau paling tidak menerapkan bilingual yaitu perpaduan bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris juga menjadi pondasi mendasar untuk melihat keberhasilan program tersebut. Guru hendaknya dibekali Bahasa Inggris sebagai bahasa target dengan baik sehingga para guru dengan percaya diri menerapkan KBM bilingual di dalam kelas. Bekal yang dibutuhkan guru dapat berupa sebuah stimulan dari pada penggiat Bahasa maupun pelatihan-pelatihan Bahasa secara formal. Sehingga jika para guru sudah mempunyai bekal yang mumpuni, Mendoktrin siswa untuk mampu ber-bilingual dalam proses belajar mengajar menjadi sangat mudah diterapkan. Sebagai bentuk keprofesionalistas seorang guru, para guru akan membiasakandiri dan menyesuaikan diridengan perubahan-perubahan yang mungkin terjadi untuk menghadapi tantangan di masa depan.

Uraian di atas sejalan dengan konsep pendidikan yang dibawa oleh Bapak Pendidikan Ki. Hajar Dewantara bahwa seorang guru harus bisa menjadi role modelbagi para siswanya. Adalah Ki. Hajar Dewantara yang menyampaikan peran guru diantaranya adalah Ing NgarsoSung Tulodho(didepan memberi contoh), IngMadyo Mangun Karso(di tengah membangun kemauan) dan Tut Wuri Handayani(dibelakang memberikan dukungan moral). Dengan adanya konsep tersebut, guru diharapkan menjadi stake-holder yang pertama dan paling utama dalam penerapan sekolah berbasis bilingualatau dwi-bahasa.

Selain guru yang harus mempunyai keterampilan untuk mendukung program bilingual, bahan ajar yang sesuai untuk mendukung program bilingual pada Pendidikan formal juga harus dipertimbangkan. Kurikulum pendidikan menjadi basic atau dasar bahan ajar tersebut dipilih. Dalam meningkatkan kualitas peserta didik, bahan ajar yang disertai dengan materi, latihan soal maupun pembahasan dalam bahasa target dan bahasa ibu juga perlu dipilih sebagai prioritas utama. Hal ini akan sangat membatu proses belajar siswa di rumah pada saat tidak mendapatkan pendampingan dari bapak/ ibu guru di sekolah.

Akan tetapi, pada dasarnya bahan ajar kelas reguler pun bisa digunakan sebagai panduan untuk mengembangkan program bilingual di pendidikan formal. Hal ini bergantung pada ke-aktif-an bapak ibu guru pengampu dalam komitmennya untuk mengembangkan sekolah berbasis bilingual. Sehingga Bapak/ Ibu guru dianggap sebagai pioneerdalam membawa perubahan budaya berbahasa Inggris di lingkungan sekolah.

Dalam penerapannya, sekolah bilingual tidak serta-merta dalam satu peiode mencapai tahapan dimana semua stake holder mampu ber-dwi bahasa. Adapun tingkatan yang bisa dijadikan sebagai acuan dalam mengembangkan sekolah berbasis bilingualmenurut Luh Putu dan Putu Kerti (2014: 108).

1.Transitional Step (Early Exit Bilingual Education)

Dalam konsep trasitional step, porsi penggunaan bahasa ibu maupun bahasa kedua dikurangi sehingga siswa akan pelan-pelan mempelajari bahasa Asing yang dalam hal ini Bahasa Inggris. Dalam tahapan ini, guru, siswa dan seluruh stakeholder diperkenankan menggunakan 2-3 bahasa termasuk didalamnya bahasa ke dua dan bahasa asing. Porsi dalam pembagian penggunaan bahasa pun bergantung pada individu masing-masing.

2.Maintenance(Late Exit Bilingual Education)

Dalam tahap ini, pemeliharaan yang dilakukan adalah pemeliharaan bahasa minoritas dari bahasa ibu maupun bahasa target. Harapan dari step ini adalah siswa mulai bisa menyesuaikan diri dalam menggunakan bahasa target dengan prosentasi minimal 40%.

3.Enrichment (Two-Way Bilingual Education)

Pada tahap ini, siswa dan guru mempunyai peran aktif dalam mengaplikasikan bilingual class. Tahap ini difokuskan pada proses belajar mengajar menggunakan Bahasa target. Harapan dari tahap ini adalah siswa mampu memahami materiyang diberikan oleh para guru menggunakan bahasa target.

4.Heritage Bilingual Heritage

Pada tahap terakhir, Siswa dan guru diharapkan mampu menggunakan dwibahasa sebagai bahasa pembelajaran di kelas maupun bahasa keseharian selama di sekolah. Agar bahasa Ibu tidak punah, dalam tahap ini juga perlu ditekankan prosentase pembagian penggunaan bahasa.

Demikian ulasan mengenai integrasi Bahasa Inggris dalam sekolah formal. Semoga bapak ibu guru pemangku kebijakan dalam menerapkan sekolah berbasis bilingual mampu memperkuat pondasi dalam melaksanakan program ini dengan sebaik-baiknya di setiap sekolah.

Kategori
Artikel

MATEMATIKA? UNTUK APA?

MATEMATIKA? UNTUK APA?

Oleh : Muhammad Irsyad

“Untuk apa sih mempelajari ini?”, barangkali itu adalah reaksi reaksi umum orang- orang ketika mendengar atau bahkan saat mempelajari matematika. Untuk apa kita belajar trigonometri ribet-ribet? Untuk apa kita belajar apa itu nilai mutlak, vektor, peluang, dan lain sebagainya. Barangkali kebanyakan dari kita beranggapan bahwa apa yang penting dari matematika adalah kita bisa melakukan penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian agar kita tidak ditipu orang di pasar, agar kita bisa mengembalikan uang kembalian dengan benar saat kita berjualan, atau mungkin agar kita tidak salah memberikan nominal mahar kepada calon istri kita kalau si doi meminta mahar berupa uang hahaha.

Saya punya pendapat manusia cenderung hanya peduli pada hal-hal yang menguntungkan bagi mereka. Kita ambil contoh mudah, sampah botol barangkali kita anggap hal sepele karena bagi kita itu sampah. Tapi berbeda dengan mereka para pengrajin, mereka peduli dengan sampah botol karena mereka membutuhkannya untuk dijadikan sebagai bahan kerajinan mereka. Barangkali begitu juga dengan matematika, karena merasa kurang membutuhkannya dan merasa mengetahui matematika “tidak menguntungkan” bagi kehidupan kita, kita jadi merasa malas, kurang bersemangat atau bahkan enggan mempelajarinya. Kalaupun mau mempelajarinya, itu hanya sebatas karena tuntutan kurikulum.

Maka dari itu saya akan sedikit membahas untuk apa sih kita mempelajari matematika. Mengutip judul artikel pendek di sampul belakang modul siswa, “kenapa harus ada matematika di antara kita?”. Sampai sekarang, kebanyakan mindset orang tentang matematika adalah menghitung, menghitung dan menghitung. Padahal dasar dari matematika sendiri bukanlah menghitung, melainkan logika. Suherman1 menyatakan logika adalah masa bayi dari matematika dan sebaliknya matematika adalah masa dewasa dari logika. Menurut saya pribadi, apa yang penting dari mempelajari matematika bukanlah bisa menghitung nilai cos, kalkulus, simpangan baku, barisan dan deret, dan sejenisnya. Pola pikir yang terbentuk setelahnya adalah yang lebih penting, yaitu pola pikir matematis. Pola pikir yang saya maksudkan disini adalah lebih kepada kemampuan untuk menemukan pola dalam suatu hal yang tidak berpola (finding harmony in chaos).

Pernahkah kalian melihat susunan angka yang sepertinya tak beraturan, tapi ternyata memiliki pola. Contohnya ada angka 1,1,2,3,5,8,12 yang sepertinya tidak beraturan tapi ternyata memiliki pola dimana sebuah angka merupakan jumlah dua angka sebelumnya yang kemudian dikenal sebagai barisan fibbonaci. Angka 2 merupakan penjumlahan dua angka sebelumnya (1+1), angka 3 merupakan penjumlahan dua angka sebelumnya (1+2), angka 5 merupakan penjumlahan dua angka sebelumnya (2+3) begitu seterusnya. Contoh lain yang barangkali kalian sudah menerapkan pola pikir matematis tapi secara tidak sadar. Kalian ingin pergi ke suatu tempat dan kalian memilih waktu tertentu untuk berangkat. Misalnya kalian memilih berangkat pukul 9 karena kalau jam 8 biasanya jalan macet. Jam 10 banyak razia kendaraan di jalan, jam 11 bakal ada konvoi ibu-ibu dan lain sebagainya. Disini kalian (mungkin secara tidak sadar) sudah menerapkan pola pikir matematis dimana kalian telah menemukan pola untuk pergi ke tempat yang kalian tuju. Itulah matematika, menemukan pola dalam suatu hal yang tidak berpola.

Selain membentuk pola pikir matematis, matematika juga mengajari kita beberapa pola pikir yang menurut saya pribadi sangat berguna bagi kehidupan. Kita tahu di matematika dikenal yang namanya bangun ruang. Bangun ruang disusun dari beberapa bangun datar. Bangun datar disusun dari beberapa garis dan garis selalu dimulai dari satu titik kecil dan sederhana. Disini matematika mengajarkan kita untuk menghargai hal-hal kecil, karena hal- hal besar selalu dimulai dari hal-hal kecil. Jangan sampai kalian sudah belajar matematika tapi masih menganggap remeh pemulung. Ingat, kebersihan lingkungan/kota kalian juga ada andil dari pemulung. Bahkan bisa jadi, kontribusi kalian dalam hal menjaga kebersihan lingkungan/kota kalian lebih kecil daripada pemulung.

Hal lain, sebagaimana kita tahu matematika adalah ilmu yang didasarkan pada kesepakatan2. Hal ini sudah sering juga saya sampaikan di depan kelas. Ingat kesepakatan dan kepastian adalah dua hal yang berbeda. Kesepakatan sendiri tidak selalu pasti. Misalkan ketika saya bicara angka 2 maka itu bisa merupakan hasil 1+1 atau 3-1 atau 4:2 dan lain sebagainya. Bahkan 1+1 tidak mesti hasilnya 2. Bisa jadi 1+1=0 jika kita bicara dalam konteks bilangan biner3. Dalam hal ini matematika mengajarkan bahwa beda belum tentu salah. Pikiran manusia adalah alam yang bebas untuk manusia itu sendiri. Individu satu dengan individu yang lain tidak selalu memiliki pikiran atau perspektif yang sama dalam melihat suatu hal. Matematika mengajarkan kita untuk menghargai perspektif orang meskipun berbeda dengan perspektif kita. Karena tidak selalu yang berbeda itu salah.

Barangkali itu sedikit opini saya pribadi terhadap matematika. Bahwa matematika tidak melulu tentang belajar hitung menghitung. Ada hal lain (lebih dari sekedar hitung menghitung) yang bisa kita ambil dari mempelajari matematika. Kalian boleh untuk setuju dan tidak dilarang untuk tidak setuju terhadap opini saya. Untuk menutup tulisan kali ini, saya mengajak kalian untuk merenung dan bertanya “apa ada hal di dunia ini yang tidak ada unsur matematika?”.


*) Penulis adalah guru mapel Matematika MA Assalafiyyah Mlangi

1 Suherman, E., dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: JICA.

2 R. Soedjadi. 2000. Kiat Pendidikan Matematika Di Indonesia. Jakarta : Departeman Pendidikan Nasional.

3 Sistem penulisan angka dengan menggunakan dua simbol yaitu 0 dan 1.

Kategori
Berita Kurikulum Siswa

Diklat dan Pelatihan Dasar Pengurus Assalafiyyah Research and Science Center (ARSC)

Kamis, 11 November 2021 MA Assalafiyyah Mlangi sukses mengadakan Diklat dan Pelatihan Dasar Pengurus Perdana Assalafiyyah Research and Science Center (ARSC). Assalafiyyah Research and Science Centre atau biasa disingkat ARSC diharapkan dapat menjadi inkubator riset dan pengembangan iklim menulis karya ilmiah di MA Assalafiyyah Mlangi. Organisasi ini resmi dibentuk pada 19 Oktober 2021 dengan pengurus perdana berjumlah 22 peserta didik. ARSC memiliki dua departemen utama, yakni Departemen Pengembangan Sumberdaya Siswa (PSDS) serta departemen Informasi dan Komunikasi (INFOKOM).
Bapak Alif Jum’an selaku Kepala Madrasah dalam sambutannya mendukung adanya Organisai ARSC sebagai wadah untuk mewadahi kreativitas siswa dalam menulis karya ilmiah. Hal tersebut sejalan dengan dengan terpilihnya MA Assalafiyyah Mlangi sebagai Madrasah Aliyah Berbasis Riset sesuai dengan SK Dirjen Pendis Tahun 2020. Untuk mendukung pengembangan organisasi ini, diperlukan pembekalan pengetahuan dasar di bidang kepenulisan ilmiah. Hal tersebut dimaksudkan agar pengurus angkatan perdanan ini memiliki bekal yang cukup untuk berkontribusi dalam ekosistem riset di madrasah.

ARSC 2021
Pengurus ARSC 2021

Diklat dan Pelatihan Dasar Pengurus Perdana Assalafiyyah Research and Science Center (ARSC) menghadirkan narasumber yang luar biasa inspiratif, narasumber tersebut adalah Mahasiswa Berprestasi Utama Universitas Negeri Yogyakarta yakni Kakak Athi’ Nur Auliati Rahmah dengan memaparkan materi tentang Konsep Dasar Karya Ilmiah dan Perbedaan Artikel, Essay dan Karya Tulis Ilmiah dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah. Hadirnya Kakak Athi’ Nur Auliati Rahmah mampu memantik semangat siswa-siswi untuk menulis karya dengan dipaparkannya pengalaman-pengalaman lomba Karya Ilmiah dan prestasi-prestasi baik Nasional maupun Internasional yang pernah Kak Athi’ raih.
Kegiatan diklat berjalan dengan lancar, siswa aktif memberikan pertanyaan kepada narasumber dan siswa mampu mempresentasikan ide-ide kreatif terkait penelitian-penelitian yang ingin mereka kembangkan. Di akhir acara diklat siswa-siswi disajikan video presentasi karya-karya MYRES yang masuk sebagai finalis tahun 2021 yang juga menambah semangat mereka untuk menulis karya-karya selanjutnya. (RR)

Kategori
Berita Prestasi Siswa

Siswa MA Assalafiyyah Menjuarai MTQ 2021 Tingkat Sleman

Alhamdulillah beberapa siswa MA Assalafiyyah Mlangi menjuarai beberapa cabang lomba MTQ 2021 tingkat kabupaten Sleman pada Sabtu, 06 November 2021 yang diselenggarakan di komplek pemkab Sleman. Berikut beberapa nominasi yang diraih anak-anak Assalafiyyah Mlangi yang bergabung dengan rombongan PP Assalafiyyah Mlangi mewakili Kontingen Kecamatan Gamping :

  1. AGHIS SETIADINATA 11 / XI IPA 2 Juara 3 tafsir bahasa inggris putri MTQ 2021 Sleman
  2. ATIKAH INNAYATI PUTRI AL KHALIQAH 11 / XI IPA 2 Juara tahfidz 5 juz MTQ 2021 Sleman
  3. ELVINA SAFITRI 12 / XII IPA 2 Juara 3 Musabaqoh Fahmil Quran putri MTQ 2021 Sleman
  4. FIRDA IKSA APRILLIA 11 / XI IPA 2 Juara Harapan II Tafsir Bahasa Inggris MTQ 2021 Sleman
  5. HIJA AQIELA AZ-ZAHRA 12 / XII IPS 2 Juara 3 Musabaqoh Fahmil Quran putri MTQ 2021 Sleman
  6. ISTIQOMAH INTAN AMANAH 11 / XI IPA 2 Juara 3 Musabaqoh Fahmil Quran putri MTQ 2021 Sleman
  7. NAILIL AFNI, AS 12 / XII IPA 2 Juara harapan 2 tafsir bahasa arab MTQ 2021 Sleman

Semoga bisa menambah semangat belajar dan memahami serta mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan kesehariannya.

Kategori
Artikel

PERSATUAN DAN KESATUAN: SENJATA AMPUH PEMERSATU BANGSA

PERSATUAN DAN KESATUAN: SENJATA AMPUH PEMERSATU BANGSA

Bagian Refleksi Peringatan Sumpah Pemuda

Oleh : Kyky Miftakhul Jannah, S.Pd

Kerasnya penjajahan di tanah air membuat Indonesia banjir akan tangisan dan darah karena kehilangan para pahlawannya, satu-satunya harapan dan pengobar semangat kemerdakaan rakyat. Banyak pahlawan kita mati disengat peluru, ditangkap dan dipecut, dipukul sampai mati, diancam, difitnah bahkan, dibuang ke pulau terpencil dengan anggapan bahwa mereka akan kecut dan langsung mengubur cita-cita luhur mereka untuk melihat tanah air yang merdeka. Sebuah potret kekejaman pada rakyat Indonesia oleh penjajah, yang tidak mengenal kemanusiaan dan keadilan, hal ini menjadi catatan hitam sejarah bangsa kita

Perjuangan para pahlawan dalam memerdekakan tanah air Indonesia dari penjajahan dilakukan dengan menyerahkan seluruh kepunyaannya, harta, waktu, harga diri, hati dan jiwa bahkan, nyawanya pun dijadikan nomor terakhir jika itu menyangkut cita-cita luhur bangsa kita untuk tegak dan berdiri sendiri, walau begitu mereka tetap semangat dan tidak pernah menyerah akan cita-cita luhur mereka.

Nasionalisme Indonesia pada hakekatnya ialah suatu gejala baru yang harus dibedakan dari gerakan-gerakan perlawanan sebelumnya terhadap kekuasaan Belanda. Perang Jawa  1825 – 1930 misalnya, pada waktu Pangeran Diponogoro melawan kekuasaan Belanda di Jawa Tengah  selama lima tahun, merupakan suatu gerakan setempat yang mencerminkan ketidakpuasan lokal dan sangat berbeda sifatnya dari arus perlawanan baru  yang muncul abad ke-20. Nasionalisme baru itu adalah hasil imperialisme baru.yang dipandang sebagai bagian dari gerakan yang lebih besar yang melibatkan banyak bagian tanah jajahan baru yang diciptakan Eropa di Asia dan Afrika pada penghujung abad ke-19.

Secara politik, nasionalisme dimaknai sebagai ideologi yang mencakup prinsip kebebasan, kesatuan, kesamarataan, serta kepribadian selaku orientasi nilai kehidupan kolektif suatu kelompok dalam usahanya merealisasikan tujuan politik, yakni pembentukan dan pelestarian negara nasional. Nasionalisme Indonesia mengalami proses yang sudah dimulai dari perjuangan Kartini menghendaki emansipasi perempuan. Walaupun Kartini sering dikategorikan sebagai pejuang wanita, tetapi sepak terjang Kartini masuk pada fase paling awal pembentukan nasionalisme Indonesia. Kemudian tahap selanjutnya adalah terbentuknya organisasi-organisasi kebangsaan yang menandai bangkitnya kesadaran sebagai bangsa Indonesia.

Rasa kebangsaan ditempa dalam pengalaman bersama melawan penindasan kolonial, namun gagasan-gagasan tentang kebangsaan dan kemudian penciptaan suatu tatanan politik baru–suatu negara modern yang dapat digunakan untuk mengungkapkan gagasan itu, pada dasarnya merupakan konsep baru, yang melampui aspek-aspek negatif dari perjuangan kemerdekaan. Dan ini pun menyangkut penyusunan saluran-saluran baru bagi kekuasaan dalam masyarakat-masyarakat tradisional serta perumusan harapan-harapan baru. Semua ini mempunyai kesamaan-kesamaannya di mana pun di India, di bagian-bagian lain Asia Tenggara dan di Afrika – dan ini sangat berbeda dari gerakan perlawanan araris “ pra-nasionalis “ yang umum terdapat dalam masyarakat Indonesia, atau dari pemberontakan di bawah pemimpin tradisional yang berdasarkan keluhan-keluhan tertentu.

Sebab-sebab nasionalisme abad ke-20 harus dicari pada terganggunya keseimbangan masyarakat-masyarakat tradisional sebagai akibat dari dampak penuh industri modern Eropa. Dengan munculnya kaum cendikiawan baru, rasa tidak puas massa dapat disalurkan dan diorganisasikan ke dalam gerakan-gerakan kekuatan politik yang menentang rezim kolonial, memandang ke depan secara positif untuk membangun suatu negara merdeka yang didasarkan pada nilai-nilai pola-pola tatanan lama tradisional begitu pula lahirnya peristiwa Sumpah Pemuda.

Sumpah pemuda tidak hanya bermakna deklarasi saja, namun menjadi semangat yang membakar perjuangan, konsistensi dan kolaborasi luar biasa bagi bangsa Indonesia sehingga 17 tahun setelahnya Indonesia mencapai kemerdekaan. Teuku Umar, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari, Pattimura, dan banyak lagi pahlawan yang gugur di medan bakti.

Para pemuda Indonesia kemudian sadar, tidak ada gunanya melawan penjajah tanpa persatuan. Para pemuda bersumpah mengakui bertanah air Indonesia, berbangsa Indonesia, dan berbahasa Indonesia. Para pemuda itu memanglah benar-benar pemuda asli yang berusia antara 21-30 tahun.

Menilik kebelakang era Klasik Hindu sudah diikrarkan tentang jiwa persatuan sejak Kerajaan Majapahit. Saat politik ekspansi masa Tribhuwanatunggadewi, yang terdapat pada pada Kitab Pararaton terdapat ungkapan kalimat berbentuk komitmen. Komitemen untuk mempersatukan Nusantara di bawah panji kerajaan Majapahit. Dialah Gajah Mada yang komitmennya dituliskan dalam Pararaton yang terkenal dengan Amukti Palapa (Sumpah Palapa).

Slogan Bhinneka Tunggal Ika juga menjadi pelecut semangat bersatu diatas perbedaan. Manakah mungkin, Indonesia bersatu jika tidak adanya persatuan dan kesatuan? Apakah mungkin negara bersatu tanda adanya para pahlawan negeri kita yang mengabaikan segala bentuk perbedaan demi kesatuan?

Sumpah pemuda dan sumpah Palapa merupakan dua komitmen yang sama tetapi berbeda. Keduanya memiliki khas. Sumpah Pemuda usaha integrasi (penyatuan) bangsa untuk mengusir koloni Belanda. Sedangkan Sumpah Palapa upaya integrasi dengan cita-cita intervensi.

Dua generasi yang sangat berbeda jauh waktunya, sumpah yang diucapkan demi suatu cita-cita patut kita apresiasi secara positif, landasan filosofi keduanya sama tetapi berbeda.

Kongres Pemuda II digelar dengan tujuan:

(1) Melahirkan cita cita semua perkumpulan pemuda pemuda Indonesia,

(2) Membicarakan beberapa masalah pergerakan pemuda Indonesia; serta

(3) Memperkuat kesadaran kebangsaan dan memperteguh persatuan Indonesia.

Setelah melalui rangkaian kongres selama 2 hari, maka pada hari Minggu tanggal 28 Oktober 1928, para peserta Kongres Pemuda II bersepakat merumuskan tiga janji yang kemudian disebut sebagai Sumpah Pemuda, yaitu: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Ada beberapa fakta menarik dalam Kongres Pemuda II yang kemudian melahirkan Sumpah Pemuda, di antaranya sebagai berikut:

  1. Rapat Pertama Digelar di Lapangan Banteng

Kongres Pemuda II hari pertama, yakni hari Sabtu tanggal 27 Oktober 1928, dilangsungkan di Lapangan Banteng (kini termasuk wilayah Jakarta Pusat), tepatnya di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB). Kongres ini digelar selama 2 hari dengan 3 kali rapat yang dilaksanakan di tiga tempat yang berbeda.

  1. Diikrarkan di Rumah Orang Tionghoa

Peranan anak-anak muda keturunan Tionghoa cukup besar dalam Kongres Pemuda II. Bahkan, gedung tempat dibacakannya Sumpah Pemuda merupakan asrama pelajar milik peranakan Cina bernama Sie Kok Liang. Gedung yang terletak di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta Pusat, itu kini diabadikan sebagai Museum Sumpah Pemuda. Beberapa orang perwakilan pemuda peranakan Tionghoa hadir di Kongres Pemuda II dan turut berikrar mengucapkan Sumpah Pemuda, beberapa di antaranya diketahui bernama Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok, Tjio Djien Kwie, dan lainnya.

  1. Peserta dari Barat & Timur Indonesia

Kongres Pemuda II di Batavia dihadiri oleh para perwakilan organisasi pemuda dari Indonesia bagian barat sampai bagian timur dari berbagai latar belakang. Ada Mohammad Yamin, misalnya, yang datang dari ranah Minangkabau atau Sumatera Barat. Dari belahan timur Indonesia ada Johannes Leimena, kelahiran Ambon, Maluku. Ada pula Raden Katjasungkana dari Madura, atau Cornelis Lefrand Senduk mewakili organisasi pemuda Sulawesi. Bisa dibayangkan, dengan akses transportasi yang belum secanggih dan semudah sekarang, para pemuda dan pemudi itu harus menempuh perjalanan jauh dari daerah asal mereka ke Batavia demi mewujudkan persatuan generasi muda Indonesia.

  1. Lagu ‘Indonesia Raya’ Pertama Kali Dinyanyikan

Dalam Kongres Pemuda II di Batavia pada 28 Oktober 1928, untuk pertama kalinya lagu “Indonesia Raya” diperdengarkan ke khalayak. Wage Rudolf Soepratman memainkan lagu ciptaannya itu di depan peserta kongres dengan gesekan biolanya yang mendayu-dayu. Setelah selesai memainkan “Indonesia Raya” -yang kelak menjadi lagu kebangsaan Indonesia- para hadirin meminta agar lagu tersebut dinyanyikan. Setelah melalui diskusi, akhirnya “Indonesia Raya” dinyanyikan dengan sedikit perubahan lirik demi keamanan karena kongres diawasi oleh aparat kolonial Hindia Belanda. Kata “merdeka” dalam lirik lagu itu dihilangkan dan diganti dengan kata “mulia. Adapun orang yang pertama kali melantunkan lagu “Indonesia Raya” dalam Kongres Pemuda II itu adalah Dolly Salim yang tidak lain merupakan putri kesayangan Haji Agus Salim.

Kita jangan pernah mewarisi abunya Sumpah Pemuda, tetapi kita harus mewarisi apinya Sumpah Pemuda”

Bung Karno

Begitulah kiranya, refleksi menjadi muda. Menjadi tua itu takdir, tetap merasa muda itu pilihan. Perjalanan sejarah bangsa Indonesia peran golongan muda memegang peranan yang sangat penting. Beda zaman, berbeda pula tantangan yang dihadapi. Tetapi yang terpenting rasa nasionalisme harus tetap diwujudkan. Generasi muda saat ini adalah generasi yang merasakan dampak akibat perubahan iklim dan masalah keamanan. Jika generasi sekarang sudah menghadapi masalah seperti ini, generasi di masa depan pun pasti menerima masalah yang lebih kompleks.

Rangkaian peristiwa Sumpah Pemuda hingga perjuangan revolusi Indonesia merupakan pertautan mimpi besar dan perjuangan besar, smart ideas dan smart execution, dimana tanpa ada eksekusi yang tepat tidak akan ada perubahan. Pada 93 tahun yang lalu peran kepemimpinan kepemudaan 1928 hingga puncak kemerdekaan di tahun 1945 dapat pula dilaksanakan oleh pemuda masa kini. Kepemimpinan golongan pemuda masa kini sesuai dengan smart ideas adalah dengan memiliki rasa kepekaan terhadap sekitar, yaitu dengan upaya mendeteksi dan menyiapkan keperluan yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia. Permasalahan yang terkait dengan kedaulatan bidang ekonomi, pangan, ekologi, informasi dan berbagai aspek agar bangsa Indonesia tidak bergantung kepada bangsa lain.

Melalui peran smart execution penerapannyalah yang difokuskan agar menghasilkan performa yang efektif dalam pembangunan. Bentuk upaya yang diwujudkan oleh generasi muda Indonesia diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan.

Kesadaran untuk menyatukan negara, bangsa dan bahasa ke dalam satu negara, bangsa dan bahasa Indonesia, telah disadari oleh para pemuda yang sudah mulai terkotak-kotak dengan organisasi kedaerahan seperti Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatera dan lain sebagainya. Hal itu kemudian diwujudkan secara nyata dengan menyelenggarakan Sumpah Pemuda pada 1928.


*) Ibu Kyky Miftakhul Jannah, S.Pd adalah Staff Pengajar MA Assalafiyyah Mlangi mapel Sejarah, juga guru Pendamping OSIS Putri

Kategori
Berita Kurikulum Siswa

Seminar Proposal KTI Kelas 12

Menindaklanjuti program penyusunan KTI sebagai syarat kelulusan siswa kelas 12 MA Assalafiyyah Mlangi maka pada Rabu 29 September 2021, diadakan seminar umum Proposal penelitian KTI. Seminar di bagi dalam dua tempat yang berbeda antara kelompok siswa putra dan siswa putri. Pada seminar kali ini 26 kelompok alhamdulillah bisa mempresentasikan proposal penelitian KTI mereka dengan lancar, meskipun beberapa kelompok direkomendasikan untuk melakukan revisi dan perbaikan proposal oleh guru penguji proposal.

Proposal yang sudah diseminarkan akan diuji lagi pada bulan Februari 2022, semoga bisa berjalan lancar menghasilkan karya ilmiah yang bermanfaat bagi umat. Amiin.

Kategori
Artikel

Memaknai Kembali Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW

Memaknai Kembali Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW

Oleh: Lailatus Saadah, S.Hum

Masuknya Islam ke tanah Nusantara hingga berkembang di dataran Jawa tidak lepas dari kehadiran para pembesar Arab hingga Gujarat yang awalnya hanya bertujuan untuk berdagang. Agama yang dibawa para pembesar dan ulama ini bisa dikatakan berhasil mengajak para penduduk asli untuk masuk di dalamnya. Bahkan di tanah Jawa, para ulama yang menyebarkan Islam pertama-tama ini mendapat julukan tersendiri dari penduduk Nusantara yakni “Walisongo”. Meskipun jumlah para ulama yang ikut menyebarkan Islam di tanah Jawa ini lebih dari sembilan, namun masyarakat terlanjur familiar dengan ulama sembilan tersebut. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), Raden Rahmat (Sunan Ampel), Ja’far Shadiq (Sunan Kudus), Muhammad Ainul Yaqin (Sunan Giri), Raden Qasim alias Syarifuddin (Sunan Drajat), Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), Raden Said (Sunan Kalijaga), Raden Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), dan Raden Umar Said alias Raden Said (Sunan Muria).

Pada awal perkembangannya, Islam tidak begitu saja diterima oleh masyarakat Jawa. Islam sempat mendapat sentimen keras dari masyarakat yang mayoritas Hindu ini. Oleh karena itu, Walisongo memiliki cara pendekatan yang unik dalam menyebarkan Islam di wilayah Jawa. Seperti halnya yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga bahkan menjadikan budaya Jawa sebagai cara pendekatan khusus dengan memasukkan nilai-nilai Islam ke dalamnya. Justru melalui strategi ini banyak masyarakat Jawa yang tertarik untuk masuk Islam.

Hingga kini, budaya Jawa dengan segala macam pertunjukan dan hiburannya masih sering terkait dengan Islam. Bahkan Pigeaud mencatat ada beberapa pertunjukan yang sering diasosiasikan dengan kesalehan Islami, misalnya solawatan. Di dalam solawatan, narasi kehidupan Nabi Muhammad SAW didendangkan oleh kaum laki-laki baik dalam bahasa Arab atau Jawa dengan Iringan terbang (tamborin) tunggal tetapi dalam gaya Jawa. Seiring berkembangnya zaman, kaum hawa pun mulai vokal dalam mendendangkan solawatan baik di lingkungan pesantren maupun di lingkungan masyarakat yang diwadahi lembaga Islam khusus perempuan.

Di Selatan Jawa, perayaan maulid Nabi Muhammad SAW menjadi perayaan besar yang diselenggarakan beberapa hari dan dipimpin langsung oleh ndalem Keraton. Perayaan maulid ini sering disebut dengan sekatenan. Kata sekaten sendiri merupakan bentuk transformasi kalimat “syahadatain” yang diprakarsai oleh Sunan Kalijaga. Syahadatain yang artinya dua kalimat syahadat ini mengacu pada ajakan para Walisongo kepada masyarakat Jawa untuk masuk Islam dengan melafalkan dua kalimat syahadat (syahadat tauhid dan syahadat rasul).

Jika dahulu perayaan sekaten selalu diadakan dengan rangkaian acara besar di pusat alun-alun kota Yogyakarta, saat ini perayaan tersebut ditiadakan menimbang pandemi COVID-19 belum berakhir. Namun perayaan maulid Nabi Muhammad SAW akan selalu mengambil hati umat Islam dimanapun berada, meskipun dirayakan secara individu ataupun kelompok dengan jumlah peserta yang dibatasi. Meskipun begitu, perayaan maulid Nabi Muhammad SAW tetap mampu memompa semangat jiwa kaum muslimin agar selalu mengikuti teladan dan kemuliaan Nabi Muhammad SAW. Terlebih lagi membangun semangat umat Islam baik lahir dan batin dalam menghadapi segala cobaan dan ujian di masa pandemi ini.

Asal Muasal Tradisi Peringatan Maulid Nabi

Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW pernah didapuk sebagai hari besar Islam di Mesir pada masa Dinasti Fatimiyyah oleh Khalifah Mu’iz li Dinillah tahun 341 Hijriyah. Namun sempat dilarang oleh khalifah-khalifah setelahnya dan diadakan kembali secara besar-besaran pada masa khalifah Mudhaffar Abu Said pada tahun 630 M. Khalifah Mudhaffar mengadakan perayaan maulid Nabi Muhammad SAW selama tujuh hari tujuh malam dengan menghidangkan jamuan besar dan mengundang para orator untuk menghidupkan kembali jiwa heroisme kaum muslimin yang pada saat itu sedang berperang melawan kekejaman Jengis Khan dari Mongol. Pada akhirnya semangat kaum muslimin kembali berkobar dalam memerangi pasukan Jengis Khan.

Tidak hanya pada masa Mudhaffar saja, bahwasannya perayaan maulid Nabi Muhammad SAW dijadikan sebagai cambuk semangat kaum muslimin untuk memerangi kekejaman kaum kafir. Pada masa Islam mendapat gempuran bertubi-tubi dari berbagai bangsa Eropa, yakni Prancis, Jerman, dan Inggris atau yang sering disebut dengan Perang Salib, di bawah kekhalifahan Salahuddin dari Bani Abbassiyah. Beliau menghimbau kepada seluruh umat Islam agar memperingati hari lahir Nabi Muhammad setiap tanggal 12 Rabiul Awal. Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW ini pun mampu mengobarkan semangat kaum muslimin untuk memerangi kaum kafir dan akhirnya memperoleh kemenangan besar.

Sultan Salahuddin juga menyelenggarakan beberapa kegiatan perayaan menyambut maulid Nabi Muhammad SAW. Salah satu kegiatan tersebut adalah dengan membuat sayembara penulisan riwayat Nabi Muhammad SAW beserta puji-pujian bagi Nabi Muhammad SAW dengan menggunakan tata bahasa yang baik dan indah. Dalam perlombaan ini nama Syaikh Ja’far al-Barzanji keluar sebagai pemenang sayembara. Hingga kini, karya yang dikenal dengan Kitab Barzanji tersebut sering dibaca dan digaungkan pada pelaksanaan solawatan di masjid-masjid, musola, pesantren, bahkan di pelosok desa pada perayaan maulid Nabi Mauhammad SAW ataupun acara perayaan Islam lainnya.


*) Ibu Lailatus Saadah, S.Hum adalah guru mapel Bahasa Arab dan Aqidah Akhlaq di MA Assalafiyyah Mlangi