Kategori
Berita Kurikulum Siswa

Seminar Umum ”Tips Memilih Kampus di Era Revolusi Industri 4.0″

Untuk membekali anak-anak sejak dini tentang studi lanjutan di perguruan tinggi, maka MA Assalafiyah Mlangi Sleman mengadakan seminar umum ”Tips Memilih Kampus di Era Revolusi Industri 4.0″ pada 22 Juli 2021 dengan menghadirkan Dr. Muhammad Fakhrurrozi, M. Psi, Psi, Wakil Dekan II Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma Jakarta sebagai pembicara utama dan Dr. Irwan Masduki, Lc, M.Hum direktur pendidikan Yayasan Assalafiyyah Mlangi sebagai keynote speaker menutup acara seminar.

Dr. Fakhrurrozi mengawali dengan menjelaskan berbagai jalur untuk masuk ke perguruan tinggi utamanya yang berstatus negeri. Kemudian menerangkan tips memilih perguruan tinggi sesuai dengan minat, bakat dan finansial siswa, mengecek kualitas perguruan tinggi dan beberapa patokan yang harus dipegang saat memilih jurusan kuliah, agar bisa lancar, sukses dengan gemilang. Materi presentasi lengkap bisa diunduh di tautan ini : Kuliah dan Rev 4.0-1

Kategori
Berita

Sukseskan Program Madrasah Riset, MA Assalafiyyah Mlangi Gelar Seminar Penulisan Karya Tulis Ilmiah

Rabu 23 Juni 2021 MA Assalafiyyah Mlangi sukses menggelar seminar penulisan karya tulis ilmiah di aula Yayasan Assalafiyyah. Seminar kali ini membawa topik proses kreatif dalam penggalian ide karya tulis dan bedah karya juara 1 Kompetisi KTI MA Assalafiyyah 2020. Seminar dihadiri oleh siswa dan siswi kelas X dan XI.

Peserta tampak antusias salah satunya dikarenakan pihak panitia mendatangkan dua pemateri yang memiliki pengalaman dan pengetahuan unggul di bidang penalaran dan riset. Pemateri tersebut yakni Dr. Nur Abdillah Siddiq yang merupakan dosen pembimbing bidang keilmiahan di Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM, serta Ibu Ratna Rosita Pangestika, M.Pd. yang merupakan guru pembimbing dari juara 1 kompetisi karya tulis ilmiah MA Assalafiyyah 2020.

Para pemateri memaparkan ulasan-ulasan yang menarik sesuai dengan topik yang diberikan panitia. Dalam paparannya Dr. Nur Abdilllah Siddiq mengulik tentang merebaknya ajang kompetisi keilmiahan di lingkup setingkat MA/SMA, di antaranya MYRES yang dalam waktu dekat pendaftarannya mulai dibuka. Besar harapan siswa-siswi MA Assalafiyyah ikut serta meramaikan bahkan menjuarai kompetisi MYRES atau pun sejenis untuk menumbuh suburkan budaya riset dan penalaran di lingkup madrasah. Begitu pun Ibu Ratna Rosita Pangestika, M.Pd., beliau juga memantik pengetahuan siswa-siswi melalui pemaparannya yang gamblang dalam topik bedah karya juara pertama event KTI tingkat MA Assalafiyyah di tahun lalu.

Kegiatan seminar berjalan dengan baik, aktifnya beberapa siswa dan siswi dalam memberi pertanyaan yang ditujukan pada pemateri menjadi salah satu tolak ukur kemeriahan seminar pagi itu. Bapak Alif Jum’an, S.Si. selaku kepala madrasah pun mengharap dengan di awalinya tahun ajaran baru dengan kegiatan seminar keilmiahan ini, dapat menjadi tonggak mulainya penanaman karakter ilmiah di madrasah. (aqr)

Kategori
Artikel

Peran Siswa MA Assalafiyyah dalam Menghadapi era Society 5.0

Peran Siswa MA Assalafiyyah dalam Menghadapi era Society 5.0

Oleh : Mishbakhul Munir, S.Ag.

Kemajuan zaman melalui inovasi sains dan teknologi sangat luar biasa, seperti meningkatnya daya komputasi. Hal ini sangat memberikan pengaruh pada tatanan kehidupan kita. Jika melihat perkembangan peradaban manusia. Semuanya di mulai dari society 1.0, di mana manusia menghabiskan waktu untuk berburu dan berpindah-pindah tempat melalui peralatan sederhana dan kekuatan alam yaitu api. Kemudian society 2.0 manusia mampu mengolah tanah untuk menumbuhkan makanan dan menjinakkan hewan liar (domistikasi) untuk kepentingan mereka. Pada era selanjutnya populasi manusia semakin banyak, kebutuhan sandang pangan dan papan juga semakin banyak, sementara kemampuan manusia masih terbatas. maka muncul revolusi industri di inggris pada abad 18 yang mengubah industri produksi kebutuhan semakin besar. inilah yang disebut sebagai society 3.0. Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia memasuki era di mana akses informasi semakin cepat yaitu society 4.0. Jarak ruang dan waktu antar manusia seakan hilang, data yang sebelumnya berupa fisik berubah menjadi digital dan dapat diakses oleh siapa saja dan kapan saja. Sistem ekonomi, pendidikan, dan lainnya pun bergeser pada ranah digital, sehingga mengalami disrupsi sangat cepat, seperti belanja di mall berganti shopee, pendidikan luring menjadi daring, bahkan silaturrahmi lebaran melalui daring. Lalu, apakah selanjtnya yang akan terjadi?

Pada tahun 2016, kabinet jepang dalam rencana dasar sains dan teknologi ke-5 mengusulkan bentuk society 5.0 dengan menciptakan “masyarakat super cerdas” yang kemudian diperkenalkan pada tahun 2019. Society 5.0 sendiri dibuat sebagai bentuk antisipasi akibat gejolak disrupsi dari revolusi industry 4.0 yang menyebabkan ketidakpastian yang komplek dan ambigu dari arus globalisasi. Society 5.0 merupakan bentuk masyarakat yang terhubung langsung oleh teknologi digital yang hadir secara rinci dengan berbagai kebutuhan masyarakat itu sendiri, misalnya penerapan drone untuk mengirim barang, peralatan rumah tangga dengan basis kecerdasan buatan (AI), pengoptimalan pertanian dengan otomatisai data prediksi cuaca, data air sungai dan lainnya.

Semua hal tersebut menjadi peluang, namun juga dapat menjadi ancaman, khususnya pada kita sebagai generasi melenial. Sebagai contoh, Ketika perkembangan teknologi semakin pesat, tentu banyak aktifitas manusia yang dapat digantikan oleh teknologi. Lalu pertanyaannya, apakah kita sudah siap terhadap hal tersebut?

Tentunya bagi mereka yang mengenyam pendidikan industri seperti Sekolah Menengah Kejurusan (SMK), mempunyai peluang yang lebih untuk meningkatkan kemampuannya di bidang teknologi informasi, jauh seperti kita yang menempuh pendidikan atas dasar pengembangan keilmuan itu sendiri. Namun, walaupun demikian, bukan berarti kita tidak memiliki peluang sama sekali, justru peluang kita sebagai siswa yang yang penempuh Pendidikan keagamaan, lebih besar dari pada mereka. Mengapa demikian? sebab pendidikan yang berorientasi pada industri, akan mengalami perubahan kedepannya, lebih-lebih ketika melihat sejarah yang notabene terjadi krisis setiap 10 tahun, membuat revolusi dalam bidang bisnis maupun industri. Untuk sederhananya bisa dikatakan kalau pendidikan industri harus selalu siap terhadap revolusi dan mampu mengikuti disrupsi yang terjadi.

Hal tersebut berbeda dengan kita yang menempuh pendidikan yang berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan khususnya keagamaan. Sebab pada prinsipnya, kemajuan keagamaan tidak dengan cara kita kembangkan, namun dengan memegang teguh prinsip aturan agama, lalu dapat disajikan dengan kondisi yang senantiasa berubah. Misalnya, kita tidak dituntut mengubah praktik riba dari haram menjadi boleh (mubah), namun kita hanya mempertahankan agar praktik riba tidak dijalankan dengan berbagai bentuk dan model. Hal tersebut sebenarnya cukup dengan kita mengetahui dasar-dasar riba, lalu memberikan altertatif transaksi agar tidak mengandung unsur riba, memalui materi pelajaran umum seperti ekonomi atau gografi dan ekonomi (dalam bahasa post-modernisme disebut sebagai geokonomi). Lalu, Ketika sudah diterapkan smart city ala society 5.0 dimana dan bagaimana peran kita?

Sebelum penulis jelaskan lebih lanjut, mungkin sedikit penulis membertiakn gambaran umum konsep ekonomi islam (lebihtepatnya Mu’amalah atau interaksi social) prinsipnya adalah Tabadul al-Manafi’ wa Tahqiq al-Ta’awun, artinya segala hal interaksi (baik baik bisnis mapun bukan) semuanya harus mengandung hubungan timbal balik (symbiosis) yang beroientasi pada kemanfaatan dan terwujudnya hubungan saling tolong menolong. Dalam kitab klasik hal tersebut digambarkan dengan “jika seseorang diberi anugrah kekuatan fisik, maka hendaknya ia membajak sawah, jika seseorang tidak mempunya fisik yang kuat, namun ia diberi ilmu pengetahuan pertanian, maka ia bisa bekerja sebagai petani, jika seseorang tidak mempunyai ilmu pertanian, ia bekerja dengan cara membeli hasil tanaman dari si petani lalu di jual kepada orang yang membutukan”. Nah, dari sini kita dapat menggabarkan bahwa mereka parah tokoh imuan murni, adalah orang-orang mempunyai ladang. Lalu, lalu para tokoh industry adalah sebagai eksekutor, dan mereka yang membutuhkan produk adalah konsumen. Lalu, di mana posisi kita sebagai siswa pesantren madrasah? Yang jelas jangan pernah menjadi konsumen mutlak, tapi jadilah ilmuan yang menciptakan ladang bagi mereka para pekerja industri.

Kita mempunyai dua potensi yang sangat besar yaitu, ilmu keagamaan dan ilmu social atau sains. jika kita bisa menguasai salah satunya atau bahkan keduanya sekaligus, akan membuat kita lebih mempunyai peran yang sangat besar. Misalnya kita sebagai orang yang lebih menguasai ilmu agama, kita dapat bekerja sama dengan mereka yang mempunyai skil bidang IT, untuk menyebarkan paham keagamaan kita yang lebih kuat, jika kita sebagi seorang yang mumpuni di bidang sains, kita dapat berkolaborasi dengan mereka yang dibekali dengan ilmu rekayasa untuk membuat sebuah produk yang lebih dibutuhkan dengan masyarakat, jika kita sebagai seseorang yang menguasai ilmu social, kita dapat menjadi konsultan atau membuat konsep strategi bisnis bagi peluaku bisnis. Sehingga, yang bekerja secara fisik bukan kita namun orang lain, dan kita hanya menanam (invest) ide atau pemikiran berupa konsep kepada orang lain, lalu mengontrolnya agar mendapatkan profit kedepannya, baik berupa jariyah ataupun value.

Namun, semuanya tidak mudah, semuanya butuh perjuangan, proses, dan kesabaran. Kita tidak bisa melakukan itu semua kalau hanya asyik dengan kenyamanan di masa sekarang. Tidak mau belajar, tidak mau menambah wawasan dan tidak meningkatkan skill. Dalam undang-undang santri, yakni kitab Ta’lim al-Mutaallim sudah dijelaskan bahwa :

تَمَنَّيْتَ اَنْ تُمْسِىَ فَقِيْهًا مُنَاظِرًا ۞ بِغَيْرِ عِنَــــاءٍ وَالْجُنُـــوْنُ فُـنُوْنُ
Kamu berharap menjadi ahli fiqih yang pandai berdiskusi dengan tanpa usaha, dan gila itu bermacam-macam.

Artinya, tidak sebatahs ahli fiqh (orang yang mumpuni dan menguasai ilmu fiqh) namun juga dapat diartikan sebagai orang yang mumpuni di pengetahuan sains dan social. Maka jika kita mengharapkan menjadi manusia yang mumpuni dan menguasai sains dan ilmu social (seperti sosiologi, ekonomi, antropologi, dll), lalu kita hanya terlena dengan kemajuan teknologi sekarang ini, maka kita tidak hanya dianggap bodoh, namun gila. Apakah kita mau menjadi orang gila? Haha….

Untuk itu, mungkin piwulang orang tua kita yang berbunyi “obah tanpo owah” (bergerak tanpa berubah) atau “angleres ilining banyu, angeli ananging ora keli” (mengikuti perkembangan zaman namun jangan terbawa oleh kemajuan zaman), adalah salah satu cara kita agar terus mempunyai memegang prinsip sebagai manusia yang focus mengembangkan ilmu pengetahuan (social atau sains) dan mempertahankan ajaran agama. Dan pada akhirnya sebagaimana pepatah “The Holder of The Wins” orang yang senantiasa bertahan atau memegang prinsip adalah pemenangnya. Juga sebagaimana sitiran bait alfiyyah “wa qoddim al-akhosso fi ittisholi wa qoddiman ma syi’ta fi al-infisholi” apa yang sudah kita punya itulah yang paling istimewa, bukan denga napa yang orang lain punya. Wallahu a’lam []

Kategori
Berita

Kunjungan Syaikh Ishom Al Tamadi, utusan Al-Azhar Cairo Mesir, ke Assalafiyyah Mlangi

Berfoto di depan Madrasah

Kunjungan Syaikh Ishom Al Tamadi, utusan Al-Azhar Cairo Mesir, ke Assalafiyyah Mlangi pada 10 Juni 2021. Beliau memberi nasehat-nasehat kepada para santri:
1. Teruslah bersemangat menghafal dan memahami Al-Quran
2. Para santri harus menguasai turats atau kitab kuning seluas-luasnya, agar semakin berwawasan dan bijaksana dalam bersikap menghadapi problematika kehidupan
3. Belajar ilmu keislaman haruslah bersanad. Jangan sembarangan belajar hanya dari Google. Namun belajarkan kepada para ulama yang sanadnya tersambung sampai ulama salaf
4. Manhaj Al-Azhar dan Assalafiyyah sama. Kedua lembaga ini mengajarkan Islam yang moderat (wasathiyyah) dan rahmatan lil alamin.

MoU

Yang belum sempat mengikuti ceramah beliau, bisa menyaksikan nya di sini :

Kategori
Berita Siswa

Wisuda Siswa Kelas Akhir MTs, MA, SMK Assalafiyyah Mlangi dan ALC Tahun 2021

Wisuda Siswa Kelas Akhir MTs, MA, SMK Assalafiyyah Mlangi dan ALC ( Assalafiyyah Language Center ) Tahun 2021 sebagai rangkaian Acara Khataman Pondok, dilaksanakan  pada Sabtu, 03 April 2021. Konsep Acara dibuat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana memanfaatkan teknologi Videotron dan Live Streaming. Dengan dipandu oleh dua siswa putri MA, Intan dan Hija, acara berjalan lancar dan meriah.

Selain para bapak Kepala Sekolah, turut juga memberikan sambutan dalam acara ini, Bapak Menteri Agama RI, Gus Menteri Yaqut Cholil Qoumas, Bapak Muntholib Kepala Bidang Madrasah Kanwil Kementrian Agama DIY, Bapak Priya Santoso Kepala Balai Pendidikan Menengah Disdik Sleman dan Gus Irwan Masduqi, Lc, M.Hum, Direktur Pendidikan Yayasan Assalafiyyah Mlangi. Acara diakhiri dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh KH. Abdullah Hasan selaku ketua Yayasan Assalafiyyah Mlangi.

Prosesi Acara wisuda ini masih bisa disaksikan lewat link Youtube di bawah ini :

Kategori
Berita Siswa

Seminar Peranan Lulusan Pesantren dalam Membumikan Nilai-nilai Keaswajaan di Era Milenial

Dalam rangka ROAD TO WISUDA & KHATAMAN, Pesantren menyelenggarakan SEMINAR NASIONAL ASSALAFIYYAH MLANGI TAHUN 2021 dengan tema “Peranan Lulusan Pesantren dalam Membumikan Nilai-nilai Keaswajaan di Era Milenial”. Acara diikuti oleh seluruh santri MA juga MTs, SMK dan Santri Takhasus. Dengan moderator Cakcoy yang renyah dan lucu membuat seminar yang sebenarnya mempunyai tema yang berat, menjadi enak dan membuat antusiasme peserta tinggi sekali, tidak ada yang tertidur !. Padahal Narasumber nasional sekelas Bapak Prof. Ahmad Baso, Ibu Hj. Alissa Wahid, Dr. Ahmad Ginanjar Sya’ban dan Gus Irwan Masduqi Lc, M.Hum kadang membuat mumet para mahasiswa, namun pada seminar kali ini, siswa MTs kelas 7 pun bisa mengikuti nya dengan gembira.

Bagi yang kemarin melewatkan acara seminar ini, masih bisa menyaksikannya di link bawah ini :

Kategori
Berita Siswa

Pentas Seni Panggung Gembira Assalafiyyah 2021

Para siswa MA Assalafiyyah Mlangi turut meramaikan dan menyukseskan acara Pentas Seni 2021 Panggung Gembira Assalafiyyah dalam menyongsong Wisuda dan Khataman Pondok Pesantren Assalafiyyah Mlangi. Ada diantara mereka yang tampil di Grand Opening, Mars Assalafiyyah, Tonic Trone Dance, Tari Saman dan Tarek Pukat, Fashion Show baik Putra maupun Putri, dan juga Puisi Berantai yang membuat gelak tawa penonton.

Acara diakhiri dan dimeriahkan oleh penampilan artis lokal Woro Widowati and The Band, yang membuat suasana menjadi mengasikkan. Ada momen kocak dan seru dimana mba Woro berduet dengan Gus Mirza Makhdum yang berwajah mirip aktor Korea terkenal.

Acara disiarkan secara Live Youtube selama tiga jam lebih tanggal 31 Maret 2021 dan mendapat banyak perhatian dari penonton baik wali santri, alumni maupun follower Woro Widowati sendiri. Bagi yang kemarin melewatkan acara pentas seni tersebut, bisa menyaksikan nya lewat link di bawah ini :

Kategori
Berita Kurikulum Siswa

Seminar KTI 2021 Kelas XII MA Assalafiyyah Mlangi

Menindaklanjuti program kurikulum MA Assalafiyyah Mlangi khususnya untuk kelas 12, yakni program Karya Tulis Ilmiah atau Karya Ilmiah Remaja sebagai syarat kelulusan bagi peserta didik kelas 12, pada Selasa 16 Maret 2021, dilaksanakan Seminar KTI 2021 Kelas XII MA Assalafiyyah Mlangi. Seminar dibagi menjadi dua shift, shift pagi untuk kelompok putra dan shift siang untuk kelompok putri. Ada 14 kelompok yang mempresentasikan hasil penelitian mereka.

KTI 2
Salah satu kelompok putri sedang mempresentasikan hasil penelitiannya.

Acara dibuka oleh kepala madrasah, bapak Alif Jum’an, S.Si, yang memberikan selamat pada semua kelompok KTI yang telah berhasil menyelesaikan penelitian KTI mereka sehingga sampai pada tahap presentasi. Dan mereka tertulis dalam sejarah Assalafiyyah sebagai angkatan pertama yang mampu menjalankan dan menyelesaikan tugas membuat Karya Tulis Ilmiah. Bapak kepala juga menekankan betapa pentingnya belajar berkolaborasi dalam menyelesaikan tugas KTI bersama tim kelompoknya masing-masing, dan perlunya belajar mengkomunikasikan proses dan hasil penelitian mereka. Seminar KTI ini dimaksudkan bisa melatih peserta didik untuk melakukan public speaking dari hasil kerja kerasnya, sehingga akan membiasakan mereka tampil berbicara di depan publik. Alif juga menginformasikan kepada segenap peserta seminar bahwa MA Assalafiyyah Mlangi Sleman, terpilih dan sudah menerima SK Sebagai Madrasah Berbasis Riset mulai TA 2021/2022, sehingga tahun depan ada mata pelajaran KTI yang masuk dalam kurikulum agar siswa lebih siap dalam menyelesaikan tugas KTI nya.

KTI 3
Para penguji memberikan respon dan pertanyaan pada presenter

Direktur Pendidikan Yayasan Assalafiyyah Mlangi, sekaligus pengasuh PP Assalafiyyah 2 Terpadu Mlangi, bapak K. Irwan Masduqi, Lc, M.Hum, yang biasa dikenal dengan sebutan Gus Irwan, dalam sambutan tertulisnya, mengingatkan pada semua peserta seminar bahwa dalam kitab Ta’lim Mutaallim dijelaskan bahwa salah satu kunci sukses mencari ilmu adalah wahirshin, yakni lubo atau rasa ingin tahu (intellectual curiosity). Karya Tulis Ilmiah merupakan bukti bahwa santri memiliki rasa ingin tahu sehingga menggali informasi yang diteliti. Semoga KTI ini menjadi salah satu kunci sukses lulusan MA Assalafiyyah Mlangi Sleman.

Adapun Juara Program Karya Tulis Ilmiah MA Assalafiyyah Tahun Pelajaran 2020/2021 setelah proses penilaian dari dewan penguji adalah sebagai berikut :

Juara I
Ketua Kelompok : Farah Mufti Munafik. Dengan judul KTI : Efektivitas Penggunaan Presensi Siswa Berbasis Barcode Scanner Untuk Meningkatkan Kedisiplinan Siswa Madrasah Aliyah Assalafiyyah Mlangi.

Juara II
Ketua Kelompok : Durrotul Machfudzoh. Dengan judul KTI : Pemanfaatan Limbah Gudeg Sebagai Biosorben Untuk Proses Penjernihan Air: Studi Kasus Pesantren Assalafiyyah Mlangi.

Juara III

Ketua Kelompok : Ridwanulloh Zaky Mahfud. Dengan judul : Pengaruh Pendidikan Pondok Pesantren terhadap Peningkatan Iman dan Takwa santri MA Assalafiyyah Mlangi.

Antusiame para peserta seminar dalam mengikuti jalannya kegiatan

Kategori
Berita Kurikulum

MA Assalafiyyah Adakan Workshop Penulisan Soal HOTS

Dalam rangka meningkatkan pemahaman guru tentang penyusunan soal dan melatih keterampilan guru untuk menyusun soal, MA Assalafiyyah Mlangi Sleman menyelenggarakan workshop pengimbasan penyusunan soal HOTS (High Order Thinking Skill), pada Sabtu 13 Maret 2021 di Gedung Sayap Utara MA Assalafiyyah Mlangi. Workshop diikuti oleh seluruh guru MA Assalafiyyah Mlangi Sleman, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Narasumber kegiatan adalah ibu Nur Widayati, S.Pd, M.Sc, Tim Narasumber HOTS Kemenag Sleman yang juga Staff pengajar senior di MAN 2 Sleman.

HOTS 2
Para peserta Antusias mengikuti jalannya Workshop

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala MA Assalafiyyah Mlangi Sleman, bapak Alif Jum’an. Dalam sambutannya, Alif menyampaikan bahwa memasuki era 4.0 kita dihadapkan pada perubahan teknologi yang sangat pesat, banyak pekerjaan yang dilakukan manusia digantikan komputer dan robot. Untuk mengantisipasi hal tersebut dibutuhkan sumber daya manusia yang unggul, salah satunya dengan membentuk karakter siswa yang pandai menganalisis, berkreasi dan menciptakan hal yang baru. Hal itu dapat dicapai dengan membiasakan anak – anak menyelesaikan soal HOTS. Workshop ini juga dilaksanakan sebagai persiapan pembuatan soal UMAD yang berstandar Nasional, karena mulai tahun ajaran ini, masing-masing madrasah berhak membuat soal UMAD secara mandiri, yang nanti menjadi penentu kelulusan peserta didik.

Ibu Nur Widayati selaku nara sumber dalam kegiatan ini menjelaskan mengenai konsep soal HOTS dan langkah penyusunan soal HOTS. Materi dipaparkan dengan sangat jelas sehingga kegiatan berjalan dengan lancar. “Soal HOTS bukan soal yang sulit namun mengajak siswa untuk menalar pada sebuah materi yang kita berikan. Penyusunan soal diawali dari RPP – Proses – Penilaian, ketiganya harus HOTS dengan ranah kognitif (C1 mengingat, C2 memahami, C3 menerapkan/mengaplikasi, C4 menganalisis, C5 mengevaluasi, dan C6 mencipta)”, jelas Nur.

HOTS 3
Narasumber dan peserta berfoto bersama pasca kegiatan Workshop

Setelah pemaparan materi, peserta kegiatan diberi kesempatan untuk membuat soal HOTS secara mandiri dengan didampingi oleh narasumber. Nampak peserta begitu antusias mengerjakan tugas dari narasumber. Di akhir kegiatan, perwakilan peserta dari setiap mata pelajaran mempresentasikan hasil penyusunan soalnya, dan dikritisi oleh narasumber dan peserta yang lain. (alf)