Kategori
Majalah Digital

SEJARAH SINGKAT PERINGATAN MAULID NABI 

       Peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW atau Maulid Nabi SAW, diyakini telah dikenal oleh masyarakat muslim Arab, Setidaknya sejak tahun kedua hijriah, Namun ada pula yang meyakini peringatan maulid telah ada sejak zaman Nabi SAW. Terdapat berbagai versi mengenai awal mula peringatan Maulid Nabi SAW. Sebagian berpendapat, peringatan tersebut dilakukan pertama kali pada saat dinasti Fatimiyah berkuasa. Tapi ada pula yang berpendapat dimulai sejak masa Salahudin Al-Ayyubi. Salah satu pendapat disampaikan oleh Ahmad Tsauri dalam buku “Sejarah Maulid Nabi” (2015). Menurutnya perayaan maulid Nabi SAW Sudah dilakukan masyarakat muslim sejak tahun kedua Hijriah. Catatan tersebut merujuk pada kitab “Wafaul Wafa bi Akhbar Darul Mustafa” karangan Nuruddin Ali. Disebutkan, Khaizuran atau Jurasyiyah binti ‘Atha (170 H/786 M) yang merupakan istri Khalifah al-Mahdi bin Mansur al-Abbas juga ibu dari Amirul Mukminin Musa al-Hadi dan al-Rasyid datang ke Madinah.

      Khaizuran memerintahkan agar penduduk Madinah mengadakan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi, Dari Madinah, Khaizuran kemudian pergi ke Mekah dan melakukan perintah yang sama kepada penduduk Mekah untuk merayakan Maulid Nabi SAW di rumah-rumah. Karena pengaruh yang besar itu, Khaizuran mampu menggerakkan masyarakat muslim Arab untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Hal ini dilakukan agar teladan, ajaran dan kepemimpinan Nabi SAW dapat terus menginspirasi umat Islam. Sebagian besar ulama meyakini, Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada tanggal 12 Rabiul Awwal, Tahun Gajah (570 M). Maka setiap tanggal tersebut diperingati dengan Maulid Nabi SAW.

Tradisi Maulid Nabi di Indonesia

          Maulid Nabi SAW diperingati oleh sebagian kaum muslim di dunia, termasuk Indonesia. Peringatan Maulid Nabi SAW dilakukan dengan berbagai cara dan ekspresi. Di masyarakat Jawa, Maulid Nabi dirayakan dengan membaca Manaqib Nabi SAW di dalam sejumlah kitab seperti Barzanji, SimtudDuror, Diba’, Syarofal Anam, Burdah, dan lainnya. Setelah itu, biasanya masyarakat menyantap makanan bersama-sama yang disediakan secara gotong royong oleh warga.

       Masyarakat Muslim tidak hanya bergembira merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW tapi juga bersyukur atas teladan, jalan hidup dan tuntunan yang dibawa oleh beliau. Disejumlah tempat, seperti di keraton-keraton di Jawa, peringatan Maulid Nabi biasa disebut dengan Grebeg Mulud. Di Sulawesi Selatan, Maulid Nabi SAW dirayakan dengan istilah Maudu Lompoa atau Maulid Akbar. Perayaan ini diselenggarakan bahkan lebih ramai daripada hari raya Idul Fitri. Dalam perayaan tersebut, warga mengarak replika perahu Pinisi yang dihias dengan beraneka ragam kain sarung dan dipamerkan di tepi sungai. Sejumlah daerah telah terbiasa merayakan Maulid Nabi di sana. Seperti Desa Cikoang, Kecamatan Laikang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Setelah dipamerkan, replika perahu diarak warga keliling desa. Sepanjang acara tersebut tetabuhan gendang atau seni musik Gandra Bulo khas masyarakat lokal terus diperdengarkan.

       Maudu Lompoa melambangkan sejarah masuknya Islam di wilayah selatan pulau Sulawesi yang dibawa oleh para pedagang Arab. Meskipun masih terdapat perdebatan di kalangan ulama terkait perayaan Maulid Nabi ini, tapi bagi kebanyakan umat Islam merayakan Maulid Nabi mempunyai makna spiritual dan edukasi. Momentum ini menjadi kesempatan bagi kaum muslimin untuk mempelajari lebih jauh tentang kehidupan dan ajaran Nabi Muhammad SAW. 

Keutamaan dalam Maulid Nabi  

       Setiap tahun, umat muslim memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW melalui Maulid Nabi Muhammad SAW. Peringatan Maulid Nabi memiliki banyak keutamaan dan hikmah mendalam. Maulid Nabi bisa menjadi momen memperkuat kecintaan kepada Rasulullah. Peringatan ini juga memberikan kesempatan bagi umat Islam mendapatkan pahala dan keberkahan yang besar. Selain pahala yang berlimpah kita juga mendapatkan keutamaan dari pernyataan ini, berikut keutamaannya;

  1. Mendorong umat Islam untuk Senantiasa Bersholawat 

Salah satu hikmah utama dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah mendorong seluruh umat Islam untuk senantiasa memperbanyak bacaan sholawat. Lagi pula, membaca sholawat merupakan salah satu bentuk penghormatan dan cinta kepada rasul Allah SWT. Dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 56,

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا ۝٥٦

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah SWT dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

  1. Menguatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW

Hikmah selanjutnya dari perayaan Maulid Nabi adalah memberikan kesempatan bagi seluruh muslim di dunia untuk menguatkan kembali kecintaan mereka terhadap Nabi Muhammad SAW. Kecintaan kepada Nabi pada dasarnya adalah satu pilar keimanan yang perlu dijaga dan terus ditingkatkan. 

Dalam sebuah hadis riwayat HR. Al-Bukhari,

«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ». 

Rasulullah SAW bersabda bahwa “Tak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai dari ayahnya, anaknya, dan juga manusia seluruhnya.”

Melalui peringatan ini, umat Islam di seluruh dunia diingatkan kembali untuk selalu menempatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW di atas segala-galanya. Sebab hal ini sebagai salah satu bentuk kesempurnaan iman.

3. Meneladani perilaku dan perbuatan baik Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW adalah salah satu contoh teladan yang sempurna dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam Al-Quran Surah Al-Ahzab ayat 21 Allah SWT berfirman,

لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِىۡ رَسُوۡلِ اللّٰهِ اُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنۡ كَانَ يَرۡجُوا اللّٰهَ وَالۡيَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيۡرًا ؕ‏ ٢١

yang artinya “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi orang yang mengharap rahmat Allah…”

Peringatan Maulid Nabi memberikan kesempatan bagi seluruh umat Islam untuk lebih memperdalam kehidupan sekaligus akhlak Nabi Muhammad SAW. Dengan memahami sekaligus meneladani perilaku dan perbuatan baik beliau, maka umat Islam bisa mengaplikasikan nilai-nilai mulia tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Menghidupkan Sunnah Rasulullah

Hikmah Maulid Nabi lainnya yakni menghidupkan Sunnah Rasulullah. Bukti cinta kepada Allah subhanahu wata’ala yaitu dengan menghidupkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hal tersebut sesuai dengan firman Allah subhanahu wata’ala pada Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 31,

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٣١

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”  (QS. Ali Imran: 31).

  1. Ungkapan Kegembiraan

Peringatan Maulid Nabi SAW adalah ungkapan kegembiraan dan kesenangan dengan kelahiran Rasulullah SAW.Dalam Surat Yunus Ayat 58, Allah SWT berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (QS. Yunus: 58).

Ayat ini memerintahkan kaum muslimin untuk bergembira dengan rahmat dan karunia Allah, dan salah satu rahmat terbesar bagi manusia adalah kelahiran Nabi SAW. Karena kelahiran Nabi Muhammad ke muka bumi ini adalah nikmat dan rahmat teragung yang Allah anugerahkan kepada manusia dan seluruh alam. Perayaan maulid adalah bentuk syukur  kepada Allah atas nikmat yang sangat agung ini. Dengan sebab beliau, kita mengenal Allah, satu-satunya Tuhan yang berhak dan wajib disembah. Tuhan Pencipta segala sesuatu.                                                                                                                                       

Perkembangan dan Penyebaran Tradisi Maulid

       Tradisi umat islam yang senantiasa dilakukan setiap tahun di banyak negara. Tradisi tersebut terjadi pada 12 Rabiul Awal yang kita kenal dengan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW. Dalam rangka memperingati hari kelahiran Rasulullah SAW. Perkembangan zaman merupakan salah satu fenomena yang tidak terelakan. Salah satunya adalah perkembangan dan penyebaran tradisi Maulid Nabi berawal dari perayaan sederhana di Mesir dan Irak pada abad pertengahan, kemudian menyebar ke berbagai wilayah Islam. Di Indonesia, tradisi ini berkembang melalui Wali Songo yang mengadaptasi budaya lokal seperti Sekaten dan Grebeg Maulud, serta melalui dakwah ulama dan kiai pesantren dengan pembacaan Al-Barzanji.

    Tradisi ini berakar dari sebuah perayaan sederhana di Mesir dan Irak pada masa Dinasti Fatimiyah di abad pertengahan, sebagai perayaan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Peringatan Maulid bagian tradisi dari keagamaan secara historis baru terjadi pada masa dinasti Bani Fatimiah, tepatnya pada masa Raja Al- Muiz li Dinillah ( 341 – 365 H). Beliau merupakan orang pertama yang menyelenggarakan perayaan kelahiran Nabi yang tercatat dalam sejarah. Kemudian dalam kurun waktu, tradisi yang semula dirayakan hanya oleh kelompok Syiah ini juga dilakukan oleh kaum sunn, dimana khalifah Nuruddin, penguasa Syiria (511 – 569 H) adalah penguasa pertama yang tercatat merayakan Maulid Nabi. Sedangkan di Indonesia sendiri perayaan ini berkembang karena peran dari Wali Songo, tradisi Maulid Nabi mulai masuk ke Indonesia pada abad ke- 15. Dilansir dalam jurnal Perayaan Maulid Nabi Dalam Pandangan KH. Hasyim Asy’ari karya Ulin Niam Masruri.

       Di Indonesia memperingati Maulid Nabi SAW sudah menjadi darah daging hingga sekarang. Bahkan pemerintah telah menjadikan peringatan ini salah satu agenda rutin dan acara kenegaraan tiap tahunnya. Sedangkan di Indonesia, tradisi maulid Nabi SAW yang sudah melekat di lingkungan masyarakat ini dijadikan media dakwah dan pengajaran Islam. Dalam tradisi ini juga untuk melakukan amal-amal kebaikan seperti bakti sosial, santunan kepada fakir miskin, pameran produk islam, pentas seni dan kegiatan lain yang lebih menyentuh persoalan masyarakat, dijelaskan dalam buku hanafi, 2015.

Kontroversi maulid nabi 

      Maulid diartikan sebagai peringatan hari kelahiran dalam bahasa Indonesia. Sehingga kata Dies Natalis yang biasa dinisbatkan pada hari jadi sebuah perguruan tinggi biasanya diterjemahkan dengan kata “milad”. Jadi, Maulid Nabi Muhammad saw berarti peringatan hari ulang tahun kelahiran Nabi yang jatuh setiap 12 Rabiul al-Awwal. 

       Pro Kontra Maulid Peringatan Maulid yang mentradisi di kalangan kaum muslim tidak pernah dilaksanakan, baik di masa Nabi, masa Khulafa al-Rasyidin, ataupun masa Tabiin. Maulid Nabi diperingati pertama kalinya pada Dinasti Ayyubiyah pada abad V/XI M, di bawah pemerintahan Khalifah Salahuddin al-Ayyubi. Dari sini, dapat dipahami jika sebagian ulama ada yang tidak setuju melaksanakannya. Mereka berpandangan bahwa peringatan maulid adalah termasuk bid’ah yang dilarang agama. Pendapat semacam ini dikemukakan oleh ulama Saudi al-Syaikh Abd al-Aziz bin Abdullah bin Baz dalam bukunya Fatawa Muhimmah li Umum al-Ummah. “Tidak boleh memperingati maulid Nabi, karena peringatan semacam itu adalah bid’ah dalam agama. Nabi dan para sahabat tidak pernah mencontohkannya. Padahal merekalah yang paling mengetahui masalah agama.” Pendapat beliau didasarkan pada HR Sunan al-Nasai. Pandangan ini terutama dianut oleh kelompok Salafi-Wahabi, yang memandang segala bentuk perayaan yang tidak ada pada masa Rasulullah sebagai tindakan yang tidak sesuai dengan syariat.

       Kelompok ini berpendapat bahwa perayaan Maulid Nabi adalah perbuatan yang diada-adakan dan tidak memiliki landasan dalam agama. Mereka mengutip beberapa hadis yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad tidak pernah merayakan hari kelahirannya sendiri, dan bahwa beliau hanya menetapkan dua hari raya dalam Islam, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Oleh karena itu, mereka menilai bahwa merayakan Maulid termasuk dalam kategori bid’ah yang tidak dibenarkan.

       Namun, di sisi lain, mayoritas ulama dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah memandang bahwa perayaan Maulid Nabi merupakan bid’ah hasanah (inovasi yang baik), yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam selama tujuannya adalah untuk menyemarakkan syiar agama dan menambah kecintaan kepada Nabi Muhammad. Mereka berpendapat bahwa selama perayaan Maulid diisi dengan kegiatan yang bermanfaat, seperti pembacaan kisah-kisah Nabi, doa, dan shalawat, maka perayaan ini bisa dianggap sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mempererat tali persaudaraan di antara umat Islam. Mereka berpandangan, sekalipun peringatan maulid tidak pernah dilaksanakan Nabi dan para sahabatnya, tetapi, Nabi tidak pernah menganjurkan atau pun melarang untuk memperingatinya. Sehingga, memperingatinya tidaklah secara otomatis bisa dikategorikan sebagai bid’ah yang diharamkan. Untuk itu, diperlukan pemahaman tentang apa yang dimaksud bid’ah oleh Nabi. Bid’ah adalah sesuatu yang baru setelah Nabi yang menyangkut   masalah ibadah mahdah, seperti shalat, puasa, haji dan ibadah ritual lainnya.

OPINI PENULIS

menurut penulis tradisi ini sangat bermanfaat, selain menambah pahala yang berlipat ganda kita mendapat hikmah yang dapat diimplementasikan, seperti mengikuti keteladanan nabi, serta ketabahannya dalam menghadapi cobaan yang bisa dikatakan sangat berat untuk seukuran manusia, mengingat sejarahnya yang sangat pedih membuat kita mengingat setiap setetes keringat juga nyawa yang beliau taruhkan dalam memperluas agama islam dan bertahan dalam bahaya musuh tepat didepan mata. Maulid Nabi bukan hanya hari besar Islam, tetapi cermin bagi kita semua, apakah kita sudah benar-benar mencintai Rasulullah dengan meneladani akhlaknya? Atau hanya berhenti pada perayaan lahirnya saja? menurut penulis budaya ini sangat patut untuk dilestarikan agar nantinya dapat diteruskan kepada generasi selanjutnya bahwa budaya ini ada, karena arus westernisasi perlahan budaya ketimuran di Indonesia mulai hilang berganti dengan gaya hidup modern yang jauh dari nilai-nilai keislaman yang dulunya sangat lekat di indonesia.

Meneladani sifat  Rasulullah adalah tugas seumur hidup. Dan Maulid adalah pengingat bahwa cahaya itu pernah hadir, dan kita bertugas menjaganya tetap menyala. Semoga dengan adanya peringatan maulid ini kita diberi syafa’at oleh beliau diakhir akhirat kelak, amin. 

sumber:

https://baznas.go.id/artikel-show/Sejarah-Singkat-Peringatan-Maulid-Nabi-Muhammad/253?back=https://baznas.go.id/artikel-all

https://an-nur.ac.id/sejarah-maulid-nabi-asal-usul-kontroversi-dan-tradisinya-di-indonesia/

https://pbi.ftk.uin-alauddin.ac.id/artikel-60-kontroversi-maulid-nabi-dan-barzanji 

Sumber:https://www.detik.com/sumut/berita

https://blog.danasyariah.id/hikmah-peringatan-maulid-nabi/

https://www.inews.id/lifestyle/muslim/9-hikmah-maulid-nabi-bagi-umat-islam-lengkap-dengan-dalilnya-nomor-4-dapat-syafaat/2

 

Penulis:

  1. Safina Anjani
  2. Khumairoh Az Zahra
  3. Aisha Putri Faradina
  4. Giffanaura Archieputri

Kategori
Berita

DARI REVOLUSI INDUSTRI, AI SAMPAI PENDIDIK YANG TIDAK DIBUTUHKAN LAGI

Dunia berubah dan akan selalu berubah. Bahkan perubahan yang awalnya membutuhkan waktu berabad-abad kini bisa berubah lagi dengan waktu yang lebih cepat. Bandingkan saja rentang waktu perubahan dunia mulai dari era revolusi industri 1.0 sampai saat ini era society 5.0. Sekitar akhir abad ke-18, dunia mulai berubah dengan ditemukannya mesin uap. Mesin-mesin uap menggantikan pekerjaan yang semula dikerjakan oleh manusia dan hewan. Dunia mengenal era ini sebagai era revolusi industri 1.0. Akhir abad ke-19, mulailah pemanfaatan listrik, minyak dan baja dalam industri-industri yang ada. Produksi-produksi masal semakin cepat dan hemat. Dunia kita memasuki era revolusi industri 2.0. Masih di abad 19 (sekitar tahun 1970-an) dunia memasuki era revolusi industri 3.0 dengan munculnya otomatisasi dan komputerisasi.  Hanya berselang kurang lebih 40 tahun, yaitu sekitar tahun 2010 masuklah dunia kita dalam era revolusi industri 4.0 dimana masa ini adalah titik ledak kemajuan teknologi digital. Internet menghubungkan seluruh dunia, munculnya big data dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Belum genap  10 tahun, pada tahun 2019 Jepang menyatakan telah memasuki era society 5.0 dimana teknologi dan kemanusiaan berintegrasi untuk kesejahteraan.

Berbicara tentang perubahan, AI adalah salah satu produk perubahan yang saat ini paling berperan. Bayangkan saja, sekarang AI sudah hampir memasuki semua lini kehidupan manusia. Mulai dari bidang medis, bisnis, industri kreatif dan tak terkecuali bidang pendidikan. Bahkan muncul sebuah kekhawatiran di antara para pendidik di sekolah dimana mereka nantinya tidak lagi dibutuhkan. Bagaimana tidak, belum lama ini saja, sebuah perusahaan OpenAI telah merilis ChatGPT-5 yang mereka klaim kecerdasannya setara dengan lulusan PhD. “Waduh, bakal nganggur nih kita”, begitu kata salah satu teman pendidik saya.

Eits, tenang. Saya tegaskan AI tidak akan bisa menggantikan peran pendidik dalam dunia pendidikan. Kenapa saya berani ngomong seperti itu? Barangkali benar jika AI lebih pintar dari pada kita. Pengetahuannya lebih luas dari pada kita. Tapi pendidikan bukan hanya soal  pengetahuan. Pendidikan juga soal bagaimana kita menanamkan rasa kemanusiaan. Bapak pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa salah satu tujuan pendidikan adalah untuk menumbuhkan budi.  Budi sendiri adalah akal pikiran yang matang, yang bisa membedakan mana benar mana salah, mana pantas mana tidak. Inilah yang tidak bisa dicapai oleh AI. AI tidak punya empati, nilai-nilai moral, dan intuisi pedagogis yang dimiliki oleh seorang pendidik sebagai manusia. AI boleh saja menggapai otak siswa dengan memberinya pengetahuan sebanyak-banyaknya, tapi AI tidak akan mampu menyentuh hati siswa dan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan di dalamnya.

Barangkali, kemajuan AI yang sangat pesat ini bisa kita manfaatkan sebagai seorang pendidik untuk kemajuan pendidikan. Sebagai manusia, kita tidak cukup hanya dengan bertahan. Kita juga wajib beradaptasi dengan perkembangan. Yang tidak beradaptasi, akan mati. Jadikan AI sebagai teman, bukan musuh yang harus kita hindari dan singkirkan. Misalnya kita meminta bantuan AI untuk memperkaya proses pembelajaran seperti penyediaan sumber belajar tambahan, sumber belajar interaktif, otomatisasi administrasi atau bahkan membantu diferensiasi pembelajaran sesuai kebutuhan siswa. Tapi ingat, tidak ada hal di dunia ini yang seutuhnya baik. Penggunaan AI juga memiliki tantangannya sendiri. Jika tidak digunakan dengan bijak, AI akan menimbulkan berbagai macam masalah seperti ketergantungan teknologi, plagiarism, dan bahkan yang terburuk berkurangnya kemampuan kita sebagai manusia untuk berpikir kritis. Untuk menghadapi tantangan ini, kita perlu meningkatkan literasi digital. Bukan hanya soal keterampilan teknis, tapi kita juga perlu memahami bagaimana etika dalam penggunaannya. Jadikan selalu AI sebagai pembantu, bukan sekedar jalan pintas untuk menyelesaikan tugas. Perkuat pula nilai-nilai humanisme dalam pembelajaran. Kita boleh saja memanfaatkan AI, tapi dalam pendidikan interaksi tatap muka, empati dan motivasi personal tetaplah mejadi sebuah inti.

AI bukanlah ancaman. Dengan literasi digital yang baik, etika yang kuat dan komitmen pembelajaran sepanjang hayat, AI adalah sebuah peluang dan keuntungan. Kuncinya adalah keseimbangan, yaitu memanfaatkan teknologi tanpa menghilangkan rasa kemanusiaan. Terakhir akan saya tutup tulisan kali ini dengan sebuah pernyataan dari Marcus Aurelius dalam bukunya yang berjudul Meditation, “…segala sesuatu yang kita dengar adalah opini, bukan fakta. Segala sesuatu yang kita lihat adalah perspektif, bukan kebenaran”. Seluruh tulisan saya adalah opini dan perspektif saya pribadi. Tidak 100% benar tetapi tidak menutup kemungkinan tidak 100% salah. Pembaca sekalian boleh untuk tidak percaya.

 

Penulis : Muhammad Irsyad

Guru mata pelajaran matematika MA Assalafiyyah Mlangi

 

Kategori
Berita Siswa

Tegang Dan Bergengsi : Mengulik Debat Pemilos MAS Assalafiyyah 2025

Kamis, 28 Agustus 2025, Debat PEMILOS dilaksanakan di MAS Assalafiyyah Mlangi pada pagi hari. Kegiatan tersebut bertempat di Mushola Terajumas dan melibatkan seluruh siswa MAS Assalafiyyah untuk berpartisipasi–baik siswa dari kelas reguler maupun kelas internasional. Tidak lupa, sebagian dari guru MAS Assalafiyyah tersebut pun turut hadir dalam medan pelaksanaan debat.

Tiga siswa yang menjadi kandidat yaitu Nova Rizal Saputra siswa kelas XI IPA 1, Ahmad Jamaluddin siswa kelas XI IPA 1 dan Muhammad Raffi Al Birr siswa kelas XI IPS 1. Visi dan misi daripada para kandidat memiliki keunggulan masing-masing yang diharapkan dapat mendukung tercapainya tujuan mereka yakni menjadi ketua OSIM MAS Assalafiyyah Mlangi masa bakti 2025/2026.

            Berikut adalah visi dan misi daripada ketiga kandidat :

  1. Nova Rizal Saputra

Visi:

  • Menjadikan OSIM sebagai wadah pengembangan karakter, kreativitas inspiratif demi terciptanya lingkungan sekolah yang harmonis dan berprestasi.

Misi:

  • Mengoptimalkan program di MAS Assalafiyyah Mlangi.
  • Menyelenggarakan kegiatan  kepemimpinan, komunikasi antar siswa.
  • Mendorong terciptanya budaya disiplin, dan semangat kebersamaan dalam lingkungan sekolah.
  1. Ahmad Jamaluddin

Visi:

  • Menjaga tradisi lama yang baik dan membentuk karakter siswa

Misi:

  • Mengadakan acara yang membentuk kekompakan.
  • Membantu mensukseskan acara yang diselenggarakan sekolah maupun guru.
  1. Muhammad Raffi Al Birr

Visi:

  • Mewujudkan OSIM sebagai rumah literasi untuk sekolah yang kreatif dan aspiratif.

Misi:

  • Mengisi papan madin dengan berita-berita ekonomi dan politik terbaru, agar para siswa MAS Assalafiyyah dapat meningkatkan literasi dan memahami geopolitik yang teradi dalam negeri maupun luar negeri.

Dapat disimpulkan bahwa setiap kandidat memiliki tujuan yang berbeda-beda dalam membentuk OSIM MAS Assalafiyyah Mlangi kedepannya. Lantas bagaimana para respon siswa akan hal tersebut?

“Saya yakini Pak, dengan visi dan misi yang saya ajukan untuk menjadi ketua OSIM masa bakti 2025/2026” Jawab Muhammad Rafi Al Birr mengundang sorakan dari para peserta ketika ditanyakan apakah ketiga kandidat sudah yakin dengan visi dan misi masing-masing.

Tidak mau kalah, Ahmad Jamaluddin dan Nova Rizal Saputra menjawab dengan hal yang sama. keduanya menyatakan bahwa mereka yakin dengan visi dan misi yang dilontarkan akan mengambil hati siswa dan guru MAS Assalafiyyah.

Dalam sesi tanya-jawab, suasana debat berlangsung cukup dinamis. Beberapa kandidat memberikan tanggapan kritis terhadap program pasangan lain, namun tetap dengan sikap sportif. Misalnya, Muhammad Raffi Al Birr menekankan pentingnya program literasi tentang dunia politik dan ekonomi bagi para siswa untuk menghadapi masa yang akan datang, sementara Nova Rizal Saputra menyoroti perlunya kegiatan yang dapat mengasah kreativitas dan keterampilan siswa.

Ahmad Jamaluddin menyatakan bahwa Ia tak ingin membuat program baru jika program sebelum-sebelumnya dirasa kurang efektif. Ia mengatakan “Bagaimana mau bikin program baru, kalau program lama saja belum terlaksanakan dengan baik. Maka dari itu, dalam visi saya tertulis Menjaga tradisi lama yang baik dan membentuk karakter siswa yang bermaksud menjadikan program lama sebagai program yang lebih optimal daripada sebelumnya.”

Pernyataan dari ketiga kandidat mendapatkan respon yang berbeda-beda. Antusiasme siswa sangat tinggi. Tepuk tangan dan sorakan dukungan kerap terdengar saat para calon menyampaikan ide-ide mereka. “Debat kali ini seru sekali, karena setiap kandidat punya program yang berbeda dan menarik,” ujar Ghaisan, salah satu siswa kelas XI IPA.

Debat ditutup dengan penyampaian pernyataan akhir dari masing-masing kandidat. Pembawa acara debat PEMILOS masa bakti 2025/2026, Syauqi Fahmi Nidzom, menyampaikan bahwa proses pemungutan suara akan dilaksanakan tepat setelah acara debat PEMILOS selesai dan bertempat di ruang BK yang nantinya akan dipandu oleh anggota OSIM.

Penulis :

Hafiz Ramadhan & Ahmad Ghaisan Taba Tabai

Kategori
Berita Siswa

Debat Pemilos 2025/2026 : Siapa Yang Paling Siap Memimpin ?

Mlangi- 28 Agustus 2025 tepatnya pada hari Kamis pukul 10:10-12:10 WIB, MAS Assalafiyyah melaksanakan pemilihan Ketua OSIM untuk membentuk kepengurusan baru dan untuk menyuarakan suara para Siswa dan Guru yang bertempat di trajumas. Dengan tiga kandidat yaitu Hayyu Nida Nurrahmah, Nabila Ismatuni’mah, Meidina Naila Falah yang akan menduduki jabatan ketua OSIM tahun ini.

Acara ini diikuti oleh seluruh siswi MAS Assalafiyyah baik dari jurusan IPA maupun IPS serta dari beberapa Guru putri. Ketiga calon ketua OSIM ini memiliki keunggulan yang berbeda beda “Kalo saya memiliki pemikiran yang tepat” Kata Hayyu Nida Nurrahmah, “Saya lebih PD dari yang lain” Ucap Nabila Ismatuni’mah, “Saya itu…bisa banyak memunculkan ide” Tutur Meidina Naila Falah.

Beberapa Visi Misi dilontarkan dengan semangat yang dibuat berdasarkan pemikiran sendiri, terlihat menarik, salah satunya adalah “Kritikmu adalah Ideku” yang di cetuskan oleh Hayyu Nida Nurrahmah. Program-Program kerja unggulan yang dijanjikan mereka tidak kalah memukau dari Visi Misinya seperti, mengadakan festival budaya nusantara oleh Hayyu Nida Nurrahmah, mengadakan club tonti oleh Meidina Naila Falah, work-up bahasa oleh Nabila Ismatuni’mah.

Perdebatan berlangsung cukup serius, lantaran berbagai macam pertanyaan muncul dengan Tingkat kesulitan yang cukup rumit untuk dijawab dan disuguhkan kepada mereka.”Banyak proker yang ramai di awal tapi berakhir sepi, Karna itu apa strategi kalian untuk mempertahankannya?” Tanya Putri Meidina Fauzia selaku Moderator. Dalam kurun waktu yang terbatas para kandidat berusaha berpikir keras dan menata kalimat yang sempurna agar nantinya terlihat mantap saat speak up.

Acara ini berlangsung dengan hikmat dan para siswi sangat semangat mengikutinya. Setelah para siswi mendengarkan debat para kandidat calon ketua OSIM masa bakti 2025/2026 mereka diarahkan untuk registrasi dan dilanjutkan dengan pemilos yang berlangsung dengan tertib.

Penulis : Agelica Ananta Aris Susilo

Kategori
Berita

Partisipasi Semesta untuk Pendidikan Nasional

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2025!

Para Guru dan Siswa MTs MA Assalafiyyah turut memberikan doa terbaik untuk para pahlawan _wabil khusus_ pahlawan Pendidikan dan memperingati Hari Pendidikan Nasional tahun 2025 pada hari sabtu, 03 mei 2025. Mengingat di hari Jum’at bertepatan hari libur madrasah dan para santri beraktivitas di pesantren untuk melaksanakan kurikulum Pesantren.

Di komplek Madrasah Putri, para siswi memperingati Hardiknas bersama dengan Kepala MTs beserta waka kurikulum dan waka kesiswaan, dan di Madrasah Putra bersama dengan Kepala MA beserta waka kurikulum dan waka kesiswaan. Adapun untuk Pembina Upacara bersama dengan Bp. Ahmad Nadzif Haq, S.Sos. beliau sebagai Staff Waka Kesiswaan, dan Berikut Pesan Kutipan Amanahnya, (semoga kami sebagai siswa dan santri Assalafiyyah bisa mengambil hikmah amanah Hari Pendidikan Nasional 2025 untuk menggapai asa, aamiin)

Terdidik Sepenuhnya

Kemarin, Jumat 2 Mei 2025, dunia pendidikan merayakan lebarannya. Hari raya bagi siswa, guru dan sekolah, semestinya begitu. Mengapa 2 Mei? Di tanggal itu pada Tahun 1889 lahir seorang tokoh cerdas dan hebat yang selogannya kita hafal di luar kepala: “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”. Benar, Ialah Raden Mas Soewardi Soerjoningrat, atau akrab kita kenal sebagai Ki Hajar Dewantara. Peran Ki Hadjar dalam melawan kolonialisme, membangun pendidikan nasional Lewat Sekolah Taman Siswa, dan sebagai Menteri Pendidikan Pertama membuat Beliau dijuluki sebagai Bapak Pendidikan Nasional.

Lantas mengapa pendidikan penting sehingga digaung-gaungkan dan diperjuangkan sedemikian rupa? salah satu jawabannya, sebab pendidikan adalah satu-satunya cara untuk menjadikan manusia sebagai manusia. Manusia tidak menjadi manusia ketika berperilaku seperti hewan: tak tahu aturan, bodoh, menuruti hawa nafsu, tidak berpikir dalam bertindak, rakus,pemarah dan mementingkan diri sendiri. Manusia juga tidak menjadi manusia ketika memiliki sifat setan: sombong, tidak bertanggung jawab, tidak jujur, mengadu domba, merasa paling baik, dan menebarkan kebencian. Seharusnya, manusia tidak memiliki sifat-sifat tercela itu. Oleh karenanya, manusia dididik dan belajar terus menerus selama hidupnya agar terhindar dari sifat hewan dan setan menemukan karakter terbaiknya serta pengetahuan seluas-luasnya.

Untuk mencapai itu, ada manusia yang mengenyam pendidikan lewat sekolah, mulai dari SD, SMP, hingga perguruan tinggi dan bergelar rofesor. Dia ingin membentuk karakternya dari teladan guru, ajaran-ajaran moral, etika, atau filsafat yang diajarkan di kelas, buku atau pergaulannya. Dia juga ingin mempelajari dunia yang sangat luas ini lewat matematika, fisika, kimia, biologi, ekonomi, geografi, informatika, sosiologi, sejarah,  ilmu politik, dan banyak lagi.

Ada pula manusia yang memilih mondok di pesantren. Dia ingin menjadi manusia beriman dan berakhlakul karimah lewat teladan sekaligus bimbingan Kyai, Ulama, atau asatidz. Dia ingin punya karakter baik melalui ilmu akhlaq dan tasawuf. Dia ingin menguatkan aqidahnya dengan ilmu tauhid atau kalam, memperbaiki ibadahnya dengan fikih, lalu belajar tafsir, hadis, tarikh, tajwid, nahwu, sorof, sampai menghafal Al-Quran.

Keduanya punya tujuan yang sama, yaitu menjadi manusia yang benar-benar manusia, yang berakhlak dan berpengetahuan. Maka, betapa beruntungnya kita semua yang diberi anugerah untuk menjadi keduanya. Menjadi manusia pilihan yang bisa belajar di pesantren dan sekolah sekaligus tanpa perlu berdebat mana yang lebih baik. Seperti yang dikatakan Aristoteles, seorang filsuf terkenal,

 “Mendidik pikiran tanpa mendidik hati adalah bukan pendidikan sama sekali”.

Dengan kesempatan besar ini, kita adalah manusia yang belajar dan terdidik sepenuhnya. Kita dibentuk oleh orang-orang terbaik untuk menjadi generasi yang berpengetahuan umum, berbudi luhur, berakhlaqul karimah, beriman teguh dan faqihu fidiin.  Tiada nikmat lain di dunia yang melebihi nikmat seorang ahli ilmu, karena dengan ilmu, kita mengusai semua hal. Perkataan Imam Syafi’i berikut menjadi dasarnya:

  مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ

“Barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia, maka hendaknya dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) akhirat, maka hendaknya dengan ilmu.” (Manaqib Asy Syafi’i, 2/139)

Dengan demikian, marilah kita bersyukur lewat ucapan kita “alhamdulillah”, hati kita yang penuh rasa syukur, dan perilaku kita dengan cara bersungguh-sungguh dalam belajar dan berkhidmat. Semoga Allah s.w.t. senantiasa menolong kita dalam usaha-usaha baik kita.

Nadhif Haq,

Yogyakarta, 2 Mei 2025.

Kategori
Berita Siswa

Seminar Bedah Buku Kisah-kisah Banser yang mendebarkan

Santri Putra Assalafiyyah dari kelas 10, 11 dan 12 Madrasah Aliyah, sangat antusias mengikuti kegiatan Seminar Bedah Buku Kisah-kisah Banser yang mendebarkan, yang dilaksanakan di Joglo Komplek Tahfidz Putra PP. Assalafiyyah Mlangi, pada Senin tanggal 03 Januari 2022. Hadir sebagai narasumber, Gus Nadhief Sidqi (penulis buku), Kyai Hasan Basri dan Seorang penulis aktif wanita. Seperti diketahui bahwa Gus Nadhief Sidqi adalah Alumni Al Azhar Cairo, sekarang menjabat dan mengabdi sebagai Ketua Ansor Rembang. Beliau kebetulan adalah Sepupu Gus Yahya Staquf, ketua PBNU baru terpilih di Muktamar NU Lampung kemarin.
Menurut Gus Nadhief, Banser itu makhluk hidup yang mirip dengan kita yang didesain untuk melayani para ulama NU. Banser itu merupakan kader inti Gerakan pemuda ansor, sebuah badan otonom NU. Buku ini banyak mengisahkan Kisah-kisah menarik baik yang lucu, lugu maupun yang histeris dan heroik. Salah satunya tujuan ditulisnya buku ini adalah untuk membiasakan kembali karakter santri, warga NU dan masyarakat yang santai, riang gembira dan humoris, yang selama ini terbiasakan ngotot fokus mengkounter aliran radikal. Menurut beliau, biarkan jenggot jadi urusan nya tukang cukur dan celana cingkrang jadi urusan nya tukang jahit.
Adapun menurut Kyai Hasan Basri, Banser itu paling banyak perannya tapi jarang ditulis, Buku yang pernah ditulis mungkin barulah buku yang berjudul Kelompok Para Militer NU. Karenanya beliau sangat mengapresiasi adanya buku baru yang menulis tentang Banser. Analisa bedah buku Banser lain dari Seorang penulis aktif wanita bisa dicermati di video berikut :


Kategori
Berita

PKKM Berlangsung Lancar, MAS Assalafiyyah Mlangi Presentasikan Data Berbasis Digital

Belum genap satu bulan Penilaian Kinerja Kepala Madrasah (PKKM) MAS Assalafiyyah Mlangi telah berjalan lancar. Kegiatan PKKM yang digelar pada 15 Desember 2021 tersebut merupakan kegiatan PKKM kedua yang diikuti oleh madrasah yang baru berdiri di tahun 2014. Kegiatan berlangsung selama dua jam yakni pukul 11.00 – 13.00 WIB dan digelar di gedung madrasah yang bernuansa alam. Penilaian dilakukan oleh dua pengawas utusan dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman, yakni Drs. H. Daryono, M.Pd., dan Drs. Mujiyono, M.Pd.I.

PKKM menjadi agenda rutin setiap tahun. Kegiatan ini menjadi wujud untuk menjamin mutu penyelenggaraan pendidikan. Instrumen penilaian mencakup lima aspek yaitu kepribadian dan sosial, usaha pengembangan madrasah, pelaksanaan tugas manajerial, pengembangan kewirausahaan, dan hasil kinerja kepala madrasah. Kelima aspek tersebut saling berkesinambungan dan siap dipresentasikan oleh masing-masing tim sukses dalam kegiatan PKKM ini.

Pelaksanaan PKKM di MAS Assalafiyyah Mlangi tahun ini, berbeda dengan tahun sebelumnya. Pada tahun ini penyajian laporan dilakukan dengan menerapkan konsep paper less, yang artinya tim madrasah telah mengunggah semua aspek penilaian ke dalam berkas data google drive. Data dalam google drive pun memiliki kesinambungan dengan sistem kelola data madrasah yakni Siakad (Sistem Informasi Akademik). Siakad merupakan portal eksklusif yang dikelola madrasah dalam menyajikan segala bentuk aktivitas guru dan siswa. Siakad merupakan sumber data terkait berkas pembelajaran, prestasi bahkan konseling dari setiap siswa di madrasah.

Bentuk integrasi tersebut mendapat apresiasi dari pengawas. Selain kelengkapan data terekam secara digital, data dapat diperbaharui dengan mudah untuk membantu menyukseskan kegiatan akreditasi madrasah di tahun mendatang. Hal lain adanya sistem kelola Siakad memudahkan monitoring dan evaluasi bagi semua kegiatan guru dan peserta didik sebagai komponen penting dalam kegiataan PKKM tahun ini. Kegiatan PKKM tahun 2021 diakhiri dengan mengambil dokumentasi berupa foto bersama di halaman gedung madrasah. (aqr)

Kategori
Kurikulum

INTEGRASI BAHASA INGGRIS DALAM KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR PADA PENDIDIKAN FORMAL

Oleh Endah Kunti Istiqomah, M. Pd

Salah satu bahasa yang mempunyai peran penting di ranah internasional adalah Bahasa Inggris. Hal ini dimulai dengan sebuah fakta bahwa walaupun Bahasa Inggris bukan merupakan Bahasa Surga, nyatanya diperkirakan lebih dari 750.000.000 penutur Bahasa Inggris yang mana menjadikan Bahasa tersebut menjadi bahasa kedua maupun sebagai bahasa asing. Dalam artian, bahasa tersebut digunakan sebagai alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari ataupun dipelajari dengan giat walaupun tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hariartinya bahasa tersebut dijadikan sebagai senjata bagi penuturnya dalam kesempatan-kesempatan lainnya.

Angka-angka tersebut kadang kala masih menjadi perdebetan yang mana dianggap tidak bisa menjadi alasan mendasar dalam mempelajari Bahasa Inggris. Lebih mendalam lagi, pentingnya Bahasa Inggris juga dapat dilihat dari fungsi bahasa tersebut. Fungsi-fungsi bahasa tersebut dapat dilihat dari masing-masing penutur. Fungsi yang paling mendasar dari mempelajari Bahasa Inggris adalah mengurangi kesalahpahaman berbahasa dengan penutur asli Bahasa Inggris. Selain itu, mempelajari Bahasa Inggris juga bisa menjadikan bahasa tersebut jembatan dalam meraih pendidikan yang lebih tinggi.

Di Indonesia, Bahasa Inggris tidak lagi dimasukkan pelajaran muatan lokal. Dalam artian bahwa Bahasa Inggris bukan lagi dijadikan sebagai Bahasa asing yang mana di anggap bahasa yang sulit dan menakutkan. Akan tetapi, pemerintah melalui kementrian pendidikan ingin mendoktrin dan mengingatkan seluruh masyarakat Indonesia bahwa mempelajari bahasa asing khususnya Bahasa Inggris sedini mungkin memang penting dilakukan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya pelajaran Bahasa Inggris dari jenjang pendidikan paling dasar (PAUD) hingga bangku perkuliahan.

Walaupun konteks Bahasa Inggris di Indonesia menjadi Bahasa Asing (English for Foreign Language maupun Bahasa Kedua (English for Second Language), di lansir dalam laman kompas, Pada dekade terakhir, minat belajar Bahasa Inggris di Indonesia mulai meningkat. Hal ini tidak hanya disebabkan sebagai syarat melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi, akan tetapi sudah menajdi sebuah trend kekinian pada setiap sekolah.

Sebagai bentuk mendukung visi dan misi kemendikbud pada tahun 2020-2024 yaitu meningkatkan kulaitas manusia dalam segala aspek salah satunya adalah dalam berbahasa asing, sejumlah sekolah sudah mempersiapkan diri untuk mengaplikasikan Bahasa Inggris menjadi Bahasa pengantar dan Bahasa sehari-hari selama berada di sekolah. Dalam proses mengaplikasikannya seluruh stakeholder yang ada di sekolah mempunyai peranan penting dalam membudayakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam KBM maupun bahasa sehari-hari.

Dalam tantangan tersebut, kemahiran dan keterampilan para guru dalam mengajar dengan mengaplikasikan Bahasa Inggris sebagai Bahasa pengantar atau paling tidak menerapkan bilingual yaitu perpaduan bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris juga menjadi pondasi mendasar untuk melihat keberhasilan program tersebut. Guru hendaknya dibekali Bahasa Inggris sebagai bahasa target dengan baik sehingga para guru dengan percaya diri menerapkan KBM bilingual di dalam kelas. Bekal yang dibutuhkan guru dapat berupa sebuah stimulan dari pada penggiat Bahasa maupun pelatihan-pelatihan Bahasa secara formal. Sehingga jika para guru sudah mempunyai bekal yang mumpuni, Mendoktrin siswa untuk mampu ber-bilingual dalam proses belajar mengajar menjadi sangat mudah diterapkan. Sebagai bentuk keprofesionalistas seorang guru, para guru akan membiasakandiri dan menyesuaikan diridengan perubahan-perubahan yang mungkin terjadi untuk menghadapi tantangan di masa depan.

Uraian di atas sejalan dengan konsep pendidikan yang dibawa oleh Bapak Pendidikan Ki. Hajar Dewantara bahwa seorang guru harus bisa menjadi role modelbagi para siswanya. Adalah Ki. Hajar Dewantara yang menyampaikan peran guru diantaranya adalah Ing NgarsoSung Tulodho(didepan memberi contoh), IngMadyo Mangun Karso(di tengah membangun kemauan) dan Tut Wuri Handayani(dibelakang memberikan dukungan moral). Dengan adanya konsep tersebut, guru diharapkan menjadi stake-holder yang pertama dan paling utama dalam penerapan sekolah berbasis bilingualatau dwi-bahasa.

Selain guru yang harus mempunyai keterampilan untuk mendukung program bilingual, bahan ajar yang sesuai untuk mendukung program bilingual pada Pendidikan formal juga harus dipertimbangkan. Kurikulum pendidikan menjadi basic atau dasar bahan ajar tersebut dipilih. Dalam meningkatkan kualitas peserta didik, bahan ajar yang disertai dengan materi, latihan soal maupun pembahasan dalam bahasa target dan bahasa ibu juga perlu dipilih sebagai prioritas utama. Hal ini akan sangat membatu proses belajar siswa di rumah pada saat tidak mendapatkan pendampingan dari bapak/ ibu guru di sekolah.

Akan tetapi, pada dasarnya bahan ajar kelas reguler pun bisa digunakan sebagai panduan untuk mengembangkan program bilingual di pendidikan formal. Hal ini bergantung pada ke-aktif-an bapak ibu guru pengampu dalam komitmennya untuk mengembangkan sekolah berbasis bilingual. Sehingga Bapak/ Ibu guru dianggap sebagai pioneerdalam membawa perubahan budaya berbahasa Inggris di lingkungan sekolah.

Dalam penerapannya, sekolah bilingual tidak serta-merta dalam satu peiode mencapai tahapan dimana semua stake holder mampu ber-dwi bahasa. Adapun tingkatan yang bisa dijadikan sebagai acuan dalam mengembangkan sekolah berbasis bilingualmenurut Luh Putu dan Putu Kerti (2014: 108).

1.Transitional Step (Early Exit Bilingual Education)

Dalam konsep trasitional step, porsi penggunaan bahasa ibu maupun bahasa kedua dikurangi sehingga siswa akan pelan-pelan mempelajari bahasa Asing yang dalam hal ini Bahasa Inggris. Dalam tahapan ini, guru, siswa dan seluruh stakeholder diperkenankan menggunakan 2-3 bahasa termasuk didalamnya bahasa ke dua dan bahasa asing. Porsi dalam pembagian penggunaan bahasa pun bergantung pada individu masing-masing.

2.Maintenance(Late Exit Bilingual Education)

Dalam tahap ini, pemeliharaan yang dilakukan adalah pemeliharaan bahasa minoritas dari bahasa ibu maupun bahasa target. Harapan dari step ini adalah siswa mulai bisa menyesuaikan diri dalam menggunakan bahasa target dengan prosentasi minimal 40%.

3.Enrichment (Two-Way Bilingual Education)

Pada tahap ini, siswa dan guru mempunyai peran aktif dalam mengaplikasikan bilingual class. Tahap ini difokuskan pada proses belajar mengajar menggunakan Bahasa target. Harapan dari tahap ini adalah siswa mampu memahami materiyang diberikan oleh para guru menggunakan bahasa target.

4.Heritage Bilingual Heritage

Pada tahap terakhir, Siswa dan guru diharapkan mampu menggunakan dwibahasa sebagai bahasa pembelajaran di kelas maupun bahasa keseharian selama di sekolah. Agar bahasa Ibu tidak punah, dalam tahap ini juga perlu ditekankan prosentase pembagian penggunaan bahasa.

Demikian ulasan mengenai integrasi Bahasa Inggris dalam sekolah formal. Semoga bapak ibu guru pemangku kebijakan dalam menerapkan sekolah berbasis bilingual mampu memperkuat pondasi dalam melaksanakan program ini dengan sebaik-baiknya di setiap sekolah.

Kategori
Artikel

MATEMATIKA? UNTUK APA?

MATEMATIKA? UNTUK APA?

Oleh : Muhammad Irsyad

“Untuk apa sih mempelajari ini?”, barangkali itu adalah reaksi reaksi umum orang- orang ketika mendengar atau bahkan saat mempelajari matematika. Untuk apa kita belajar trigonometri ribet-ribet? Untuk apa kita belajar apa itu nilai mutlak, vektor, peluang, dan lain sebagainya. Barangkali kebanyakan dari kita beranggapan bahwa apa yang penting dari matematika adalah kita bisa melakukan penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian agar kita tidak ditipu orang di pasar, agar kita bisa mengembalikan uang kembalian dengan benar saat kita berjualan, atau mungkin agar kita tidak salah memberikan nominal mahar kepada calon istri kita kalau si doi meminta mahar berupa uang hahaha.

Saya punya pendapat manusia cenderung hanya peduli pada hal-hal yang menguntungkan bagi mereka. Kita ambil contoh mudah, sampah botol barangkali kita anggap hal sepele karena bagi kita itu sampah. Tapi berbeda dengan mereka para pengrajin, mereka peduli dengan sampah botol karena mereka membutuhkannya untuk dijadikan sebagai bahan kerajinan mereka. Barangkali begitu juga dengan matematika, karena merasa kurang membutuhkannya dan merasa mengetahui matematika “tidak menguntungkan” bagi kehidupan kita, kita jadi merasa malas, kurang bersemangat atau bahkan enggan mempelajarinya. Kalaupun mau mempelajarinya, itu hanya sebatas karena tuntutan kurikulum.

Maka dari itu saya akan sedikit membahas untuk apa sih kita mempelajari matematika. Mengutip judul artikel pendek di sampul belakang modul siswa, “kenapa harus ada matematika di antara kita?”. Sampai sekarang, kebanyakan mindset orang tentang matematika adalah menghitung, menghitung dan menghitung. Padahal dasar dari matematika sendiri bukanlah menghitung, melainkan logika. Suherman1 menyatakan logika adalah masa bayi dari matematika dan sebaliknya matematika adalah masa dewasa dari logika. Menurut saya pribadi, apa yang penting dari mempelajari matematika bukanlah bisa menghitung nilai cos, kalkulus, simpangan baku, barisan dan deret, dan sejenisnya. Pola pikir yang terbentuk setelahnya adalah yang lebih penting, yaitu pola pikir matematis. Pola pikir yang saya maksudkan disini adalah lebih kepada kemampuan untuk menemukan pola dalam suatu hal yang tidak berpola (finding harmony in chaos).

Pernahkah kalian melihat susunan angka yang sepertinya tak beraturan, tapi ternyata memiliki pola. Contohnya ada angka 1,1,2,3,5,8,12 yang sepertinya tidak beraturan tapi ternyata memiliki pola dimana sebuah angka merupakan jumlah dua angka sebelumnya yang kemudian dikenal sebagai barisan fibbonaci. Angka 2 merupakan penjumlahan dua angka sebelumnya (1+1), angka 3 merupakan penjumlahan dua angka sebelumnya (1+2), angka 5 merupakan penjumlahan dua angka sebelumnya (2+3) begitu seterusnya. Contoh lain yang barangkali kalian sudah menerapkan pola pikir matematis tapi secara tidak sadar. Kalian ingin pergi ke suatu tempat dan kalian memilih waktu tertentu untuk berangkat. Misalnya kalian memilih berangkat pukul 9 karena kalau jam 8 biasanya jalan macet. Jam 10 banyak razia kendaraan di jalan, jam 11 bakal ada konvoi ibu-ibu dan lain sebagainya. Disini kalian (mungkin secara tidak sadar) sudah menerapkan pola pikir matematis dimana kalian telah menemukan pola untuk pergi ke tempat yang kalian tuju. Itulah matematika, menemukan pola dalam suatu hal yang tidak berpola.

Selain membentuk pola pikir matematis, matematika juga mengajari kita beberapa pola pikir yang menurut saya pribadi sangat berguna bagi kehidupan. Kita tahu di matematika dikenal yang namanya bangun ruang. Bangun ruang disusun dari beberapa bangun datar. Bangun datar disusun dari beberapa garis dan garis selalu dimulai dari satu titik kecil dan sederhana. Disini matematika mengajarkan kita untuk menghargai hal-hal kecil, karena hal- hal besar selalu dimulai dari hal-hal kecil. Jangan sampai kalian sudah belajar matematika tapi masih menganggap remeh pemulung. Ingat, kebersihan lingkungan/kota kalian juga ada andil dari pemulung. Bahkan bisa jadi, kontribusi kalian dalam hal menjaga kebersihan lingkungan/kota kalian lebih kecil daripada pemulung.

Hal lain, sebagaimana kita tahu matematika adalah ilmu yang didasarkan pada kesepakatan2. Hal ini sudah sering juga saya sampaikan di depan kelas. Ingat kesepakatan dan kepastian adalah dua hal yang berbeda. Kesepakatan sendiri tidak selalu pasti. Misalkan ketika saya bicara angka 2 maka itu bisa merupakan hasil 1+1 atau 3-1 atau 4:2 dan lain sebagainya. Bahkan 1+1 tidak mesti hasilnya 2. Bisa jadi 1+1=0 jika kita bicara dalam konteks bilangan biner3. Dalam hal ini matematika mengajarkan bahwa beda belum tentu salah. Pikiran manusia adalah alam yang bebas untuk manusia itu sendiri. Individu satu dengan individu yang lain tidak selalu memiliki pikiran atau perspektif yang sama dalam melihat suatu hal. Matematika mengajarkan kita untuk menghargai perspektif orang meskipun berbeda dengan perspektif kita. Karena tidak selalu yang berbeda itu salah.

Barangkali itu sedikit opini saya pribadi terhadap matematika. Bahwa matematika tidak melulu tentang belajar hitung menghitung. Ada hal lain (lebih dari sekedar hitung menghitung) yang bisa kita ambil dari mempelajari matematika. Kalian boleh untuk setuju dan tidak dilarang untuk tidak setuju terhadap opini saya. Untuk menutup tulisan kali ini, saya mengajak kalian untuk merenung dan bertanya “apa ada hal di dunia ini yang tidak ada unsur matematika?”.


*) Penulis adalah guru mapel Matematika MA Assalafiyyah Mlangi

1 Suherman, E., dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: JICA.

2 R. Soedjadi. 2000. Kiat Pendidikan Matematika Di Indonesia. Jakarta : Departeman Pendidikan Nasional.

3 Sistem penulisan angka dengan menggunakan dua simbol yaitu 0 dan 1.