Kategori
Berita

DARI REVOLUSI INDUSTRI, AI SAMPAI PENDIDIK YANG TIDAK DIBUTUHKAN LAGI

Dunia berubah dan akan selalu berubah. Bahkan perubahan yang awalnya membutuhkan waktu berabad-abad kini bisa berubah lagi dengan waktu yang lebih cepat. Bandingkan saja rentang waktu perubahan dunia mulai dari era revolusi industri 1.0 sampai saat ini era society 5.0. Sekitar akhir abad ke-18, dunia mulai berubah dengan ditemukannya mesin uap. Mesin-mesin uap menggantikan pekerjaan yang semula dikerjakan oleh manusia dan hewan. Dunia mengenal era ini sebagai era revolusi industri 1.0. Akhir abad ke-19, mulailah pemanfaatan listrik, minyak dan baja dalam industri-industri yang ada. Produksi-produksi masal semakin cepat dan hemat. Dunia kita memasuki era revolusi industri 2.0. Masih di abad 19 (sekitar tahun 1970-an) dunia memasuki era revolusi industri 3.0 dengan munculnya otomatisasi dan komputerisasi.  Hanya berselang kurang lebih 40 tahun, yaitu sekitar tahun 2010 masuklah dunia kita dalam era revolusi industri 4.0 dimana masa ini adalah titik ledak kemajuan teknologi digital. Internet menghubungkan seluruh dunia, munculnya big data dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Belum genap  10 tahun, pada tahun 2019 Jepang menyatakan telah memasuki era society 5.0 dimana teknologi dan kemanusiaan berintegrasi untuk kesejahteraan.

Berbicara tentang perubahan, AI adalah salah satu produk perubahan yang saat ini paling berperan. Bayangkan saja, sekarang AI sudah hampir memasuki semua lini kehidupan manusia. Mulai dari bidang medis, bisnis, industri kreatif dan tak terkecuali bidang pendidikan. Bahkan muncul sebuah kekhawatiran di antara para pendidik di sekolah dimana mereka nantinya tidak lagi dibutuhkan. Bagaimana tidak, belum lama ini saja, sebuah perusahaan OpenAI telah merilis ChatGPT-5 yang mereka klaim kecerdasannya setara dengan lulusan PhD. “Waduh, bakal nganggur nih kita”, begitu kata salah satu teman pendidik saya.

Eits, tenang. Saya tegaskan AI tidak akan bisa menggantikan peran pendidik dalam dunia pendidikan. Kenapa saya berani ngomong seperti itu? Barangkali benar jika AI lebih pintar dari pada kita. Pengetahuannya lebih luas dari pada kita. Tapi pendidikan bukan hanya soal  pengetahuan. Pendidikan juga soal bagaimana kita menanamkan rasa kemanusiaan. Bapak pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa salah satu tujuan pendidikan adalah untuk menumbuhkan budi.  Budi sendiri adalah akal pikiran yang matang, yang bisa membedakan mana benar mana salah, mana pantas mana tidak. Inilah yang tidak bisa dicapai oleh AI. AI tidak punya empati, nilai-nilai moral, dan intuisi pedagogis yang dimiliki oleh seorang pendidik sebagai manusia. AI boleh saja menggapai otak siswa dengan memberinya pengetahuan sebanyak-banyaknya, tapi AI tidak akan mampu menyentuh hati siswa dan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan di dalamnya.

Barangkali, kemajuan AI yang sangat pesat ini bisa kita manfaatkan sebagai seorang pendidik untuk kemajuan pendidikan. Sebagai manusia, kita tidak cukup hanya dengan bertahan. Kita juga wajib beradaptasi dengan perkembangan. Yang tidak beradaptasi, akan mati. Jadikan AI sebagai teman, bukan musuh yang harus kita hindari dan singkirkan. Misalnya kita meminta bantuan AI untuk memperkaya proses pembelajaran seperti penyediaan sumber belajar tambahan, sumber belajar interaktif, otomatisasi administrasi atau bahkan membantu diferensiasi pembelajaran sesuai kebutuhan siswa. Tapi ingat, tidak ada hal di dunia ini yang seutuhnya baik. Penggunaan AI juga memiliki tantangannya sendiri. Jika tidak digunakan dengan bijak, AI akan menimbulkan berbagai macam masalah seperti ketergantungan teknologi, plagiarism, dan bahkan yang terburuk berkurangnya kemampuan kita sebagai manusia untuk berpikir kritis. Untuk menghadapi tantangan ini, kita perlu meningkatkan literasi digital. Bukan hanya soal keterampilan teknis, tapi kita juga perlu memahami bagaimana etika dalam penggunaannya. Jadikan selalu AI sebagai pembantu, bukan sekedar jalan pintas untuk menyelesaikan tugas. Perkuat pula nilai-nilai humanisme dalam pembelajaran. Kita boleh saja memanfaatkan AI, tapi dalam pendidikan interaksi tatap muka, empati dan motivasi personal tetaplah mejadi sebuah inti.

AI bukanlah ancaman. Dengan literasi digital yang baik, etika yang kuat dan komitmen pembelajaran sepanjang hayat, AI adalah sebuah peluang dan keuntungan. Kuncinya adalah keseimbangan, yaitu memanfaatkan teknologi tanpa menghilangkan rasa kemanusiaan. Terakhir akan saya tutup tulisan kali ini dengan sebuah pernyataan dari Marcus Aurelius dalam bukunya yang berjudul Meditation, “…segala sesuatu yang kita dengar adalah opini, bukan fakta. Segala sesuatu yang kita lihat adalah perspektif, bukan kebenaran”. Seluruh tulisan saya adalah opini dan perspektif saya pribadi. Tidak 100% benar tetapi tidak menutup kemungkinan tidak 100% salah. Pembaca sekalian boleh untuk tidak percaya.

 

Penulis : Muhammad Irsyad

Guru mata pelajaran matematika MA Assalafiyyah Mlangi