Kategori
Majalah Digital

Sepatu Tua Ayah

Suara langkah kaki ayah selalu menjadi musik pagi di rumah kami. Ketika matahari belum benar-benar muncul, langkahnya sudah terdengar dari ruang tamu menuju pintu depan. Ayah selalu berangkat kerja lebih awal, membawa tas kain luluh dan memakai sepatu hitam yang sudah kehilangan kilaunya.

Aku sering memperhatikan sepatu itu — kulitnya retak di bagian samping, solnya sedikit mengelupas, tapi tetap ia dikenakan setiap hari tanpa mengeluh. “Masih kuat, kok,” setiap kali Ibu menyarankan untuk membeli yang katanya baru. Padahal aku tahu, uang gaji ayah sering kali lebih dulu habis untuk kebutuhan sekolahku dan adikku. Pagi Sebelum Hari Ayah

Pagi hari itu, di sekolah, guru kami memberi pengumuman:

“Anak-anak, besok tanggal 12 November kita peringati Hari Ayah Nasional . Silakan bawa hadiah kecil untuk ayah kalian, tidak perlu mahal, yang penting dari hati.”Aku termenung. Selama ini aku sering membuat kartu untuk Ibu di Hari Ibu, tapi belum pernah benar-benar memberi apa pun untuk Ayah. Rasanya tidak adil — padahal Ayah juga selalu ada untukku, hanya saja ia jarang menunjukkan kasih sayang dengan kata-kata.Sepulang sekolah, aku membuka celenganku. Uangnya tak banyak — hanya beberapa lembar ribuan dan sekeping dua ribu. Tidak cukup untuk membeli sesuatu yang besar. Tapi tiba-tiba mataku tertuju pada sepatu ayah di dekat pintu. Sepatu tua itu seperti berbicara kepadaku: “Aku lelah, tapi Ayahmu tetap bangga memakainya demi kalian.”Aku pun memutuskan: aku akan membuat sepatu itu tampak baru kembali. Malam yang Tenang Malam itu, setelah semua tertidur, aku mengambil sepatu ayah dengan hati-hati. Aku membersihkan debu dan lumpur yang menempel, lalu menggosoknya dengan semir hitam yang kubeli dari warung kecil di depan rumah. Aku mengelapnya hingga mengilap — meski sedikit lelah, aku merasa bahagia membayangkan wajah Ayah besok pagi.Di dalam sepatu kiri, aku menyelipkan secarik kertas kecil bertuliskan:“Untuk Ayah, terima kasih sudah berjalan sejauh ini demi kami. Aku bangga padamu. Selamat Hari Ayah.”Sebelum tidur, aku menatap sepatu itu sekali lagi. Rasanya seperti aku baru saja memperbaiki bukan hanya sepasang sepatu — tapi juga menambal cinta yang sering tak sempat kuucapkan. Pagi yang Berbeda,Pagi itu berbeda. Saat Ayah hendak berangkat kerja, ia teringat lama di depan pintu. Tangannya memegang sepatu hitamnya yang kini tampak berkilau. Ia mengeluarkan kertas kecil dari dalamnya, membacanya perlahan. Aku melihat matanya mulai basah.“Ini… yang kamu lakukan, ya?” Aku hanya mengangguk pelan.Tanpa berkata banyak, Ayah memelukku erat. Pelukan itu hangat, seperti matahari pagi yang baru muncul.“Terima kasih, Nak,” katanya dengan suara bergetar. “Sepatu ini memang sudah tua… tapi sekarang rasanya baru lagi, seperti semangat Ayah.”Hari itu Ayah berangkat dengan langkah tegas. Aku berdiri di depan rumah, melihatnya berjalan menjauh dengan sepatu orang tuanya yang kini berkilau, seakan ikut tersenyum bersama mentari.Beberapa Minggu Kemudian,Sejak hari itu, Ayah lebih sering tersenyum. Ia mulai membawa pulang cerita-cerita lucu dari tempat kerjanya. Kadang-kadang, saat aku belajar di ruang tamu, ia duduk di sampingku sambil berkata,“Jangan cepat menyerah, Nak. Kalau Ayah bisa menempuh jarak sejauh ini dengan sepatu tua, kamu pun bisa melangkah jauh dengan ilmu.”Sepatu itu kini menjadi simbol perjuangan di rumah kami. Ibu bahkan menaruhnya di rak khusus setiap kali Ayah pulang, bukan lagi dibiarkan berdebu di dekat pintu. Setiap kali aku melihatnya, aku teringat malam itu — malam ketika aku belajar bahwa cinta tak selalu membutuhkan hadiah mahal, cukup keikhlasan dan perhatian kecil yang tulus.